Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
sebuah petunjuk


__ADS_3

Nabil terlambat datang kesekolah Alan padahal tadi ia berpesan pada guru bocah itu agar menunggu sampai ia datang. Tapi guru Alan bilang kalau tadi Laraslah yang menjemput Alan. Ia mengebut untuk mengejar ketertinggalannya.


Laras masih ngeyel untuk capek-capek keluar rumah padahal ada dirinya. Tidak apa ia direpotkan karena ia juga menyayangi putra Laras dengan sepenuh hati bahkan ia juga siap untuk jadi ayah tiri yang baik untuk Alan. Tidak apa kalau Alan itu adalah putranya Nata, mafia yang paling kejam abad ini sekaligus musuhnya dunia akhirat. Ia mungkin saja tidak rela Nata dan Laras pernah bersama tapi karena cinta ini terlanjur buta ia akan menutup semua masa lalu Laras dan akan fokus kedepan.


Nabil tersenyum sendiri, kalau anak sambungnya selucu Alan tidak apalah yang penting cinta sama emaknya. Ia akan mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengambil hati Laras lagi.


Ia melihat Laras dari kejauhan sedang berjalan kaki dengan Alan di bawah terik sinar matahari. Melihat mereka begitu inginlah rasanya Nabil jadi payung saat itu juga. Tidak tega ia melihat mereka panas-panasan seperti itu.


Sebuah mobil berhenti dekat mereka Laras dan Alan tidak lama kemudian terdengar suara tembakan. Dada Nabil berdebar kencang. Nabil menghabiskan kecepatannya laju mobilnya agar sampai disana secepatnya.


Ia telat beberapa detik untuk sampai. Laras dan Alan sudah ditarik paksa masuk mobil dan setelah itu mobil itu melaju kencang. Nabil mengejar dari belakang, berusaha mengiringi mobil yang membawa Laras. Tapi sebuah mobil lain menyalip Nabil dengan begitu cepat hampir saja tabrakan maut terjadi. Nabil membanting setir dan mobilnya meluncur beberapa meter keluar dari jalur lalu lintas.


"Pa! aku butuh pasukan tiga kali lipat saat ini juga" Nabil menelepon minta tolong pada papanya "dan juga polisi, papa harus membantu aku kali ini pa"


"Untuk apa? apa kamu ada masalah?"


"Iya pa, sangat darurat!"


"Kamu kenapa? hey...!"


Nabil mematikan ponselnya dan mengeluarkan mobilnya dari sana lalu ngebut dijalan raya. Ia pulang sebentar untuk menjemput senjatanya. Tidak mungkin ia pergi ke wilayah Dinar tanpa apa-apa.


Setiba dirumah ia berlari kekamar dan tidak lama kemudian berlari keluar. Vina bertanya kenapa ia begitu tapi ia tidak sempat untuk menjawab. Airin juga terlihat cemas melihat kepanikan Nabil. Dua perempuan itu saling pandang. Meskipun tidak akrab tapi juga tidak musuhan sama seperti pada Laras.


Mobil Nabil melaju untuk pulang kerumah orang tuanya. Disana papanya sudah menyiapkan apa yang ia minta. Sejumlah anak buah terlatih siap menunggu intruksi darinya.


"Ada apa ini sebenarnya, mama kamu amankan?" tanya Hendra.


"Mama ada dirumah aku pa, mama tidak apa-apa"


"Terus apa?"

__ADS_1


"Nanti aku beri tau"


"Mana bisa papa membantu kamu kalau kamu tidak menyebutkan permasalahannya"


"Laras dan Alan diculik"


"Laras??" Hendra cukup kaget mendengar nama Laras kenapa Nabil bisa kembali dekat dengan jandanya itu.


"Susuri seluruh kediaman Dinar dan almarhum putranya" Nabil mengasih perintah pada anak buahnya.


Hendra heran dengan Nabil. Untuk apa Nabil kembali berurusan dengan perusahaan Dinar. Apa karena Laras dekat dengan pewaris Dinar.


"Apa kamu tidak salah?" tanya Hendra pada Nabil.


"Tidak pa! aku harus membebaskan Laras secepatnya, papa harus membantu aku untuk melaporkan kepolisi'


'Papa tidak tau lebih detail tentang Dinar, apa kamu yakin mau berurusan dengan mereka?"


"Papa rasa itu tidak mungkin Nabil, bukankah Nata punya anak dengan Laras?"


"Pikiran aku tidak mengatakan kalau Laras akan baik-baik saja pa" sanggah Nabil.


Nabil masuk kemobil dan langsung pergi dari hadapan papanya. melihat kepergian mobil Nabil yang melaju kencang Hendra berteriak "hati-hati!!"


Nabil membalas teriakan papanya dengan klason riuh.


Enam buah mobil mengikuti mobil Nabil dari belakang seperti iringan orang pergi wisata. Aslinya setiap dari mereka menyembunyikan sebuah senj*ta.


Hari itu juga Nabil menyisiri tempat persembunyian Dinar untuk mencari Laras. Sejumlah gudang, pabrik dan kantor Dinar mereka telurusi termasuk rumah utama keluarga Dinar. Nabil tidak menemukan jejak Laras. Yang ia temukan hanyalah papa Nata yang masih tampak garang di hari tuanya. Pria tua itu memarahi Nabil dan mengusir dengan beberapa anak buahnya. Papa Nata seperti tidak berdosa dan melakukan apa-apa. Seolah kejadian tadi siang tidak masuk kedalam memorinya. Pria tua itu layaknya psikopat.


Nabil yang tidak mempunyai tangan kanan lagi sangat kesusahan meneliti denah Dinar yang sangat semraut. Tiap titik selalu ada perusahaan Dinar. Dalam kondisi seperti ini Nabil ingat dengan Amoy. Si asisten tangguh yang selalu bergerak cepat di depannya. Sayangnya Amoy ia tinggalkan begitu saja dengan sepucuk surat pemecatan sebelum ia pergi ke Vanuatu.

__ADS_1


Makin lama Nabil makin panik karena Laras dan Alan belum juga ada titik terangnya. Padahal ia yakin kalau yang menculik Laras dan Alan itu adalah papa Nata. Ia meminta sejumlah orang untuk memeriksa ke bandara kalau papa Nata melarikan Laras keluar negri.


Rasa putus asa merasuki begitu cepat. Berbagai pikiran buruk mulai merasuki isi kepalanya. Sampai sekarang ketika malam merangkak kian larut Laras dan Alan belum juga ditemukan. Bukan tidak mungkin Laras dan Alan akan celaka.


Ia mendatangi rumah almarhum Nata, memeriksa seluruh isi ruangan dirumah itu. Rumah itu masih berpenghuni. Ada sejumlah pelayan dan penjaga disana. Kata mereka, mereka tidak pergi dari sana karena ditugaskan oleh Nata untuk menjaga Laras.


"Kalian jangan bohong! kalau kalian di suruh menjaga pasti kalian tau dimana Laras?" bentak Nabil kasar.


Semua yang ada diruangan itu ketakutan termasuk pria yang ditugaskan menjaga Laras karena mereka telah dikepung oleh banyak anak buah Nabil.


"Kami tidak bohong tuan, bukankah nona Laras pergi dengan tuan setelah pemakaman tuan Nata? dan malamnya kami kesana anak buah tuan menghalau kami"


"Aaaah!!" Nabil mengamuk marah. Ia mengacak-acak seluruh isi ruangan.


"Periksa semua ruangan kalau ada yang mencurigakan bawa kehadapan saya!!"


"Baik tuan"


Nabil mendapati kamar utama Nata yang dikunci dengan menggunakan sandi. Ia menarik salah seorang pelayan dan memaksa untuk membukakannya.


Pintu kamar itu terbuka. Nabil melihat ada sejumlah cctv di sana. Ia mengambil tongkat golf dan memecahkan cctv itu.


Tidak ada yang menarik dalam kamar itu karena semua barang tersusun rapi selain foto-foto Laras dan Alan memenuhi dinding. Rasa cemburu mengalahkan rasionalnya sesaat. Ia meraih foto-foto itu dan membantingnya kelantai hingga hancur lebur.


"Tidak ada yang mencurigakan tuan, ayo kita pergi" ajak salah seorang anak buahnya.


Nabil melangkah gontai dari sana. Matanya menangkap sebuah kado tergeletak di atas meja dekat ranjang tempat tidur Nata.


Nabil penasaran ia berbalik untuk melihat isi kado itu.


Begitu ia melihat isinya. Tubuh Nabil bergetar hebat, tangannya tidak sengaja menjatuhkan kado itu. Isinya berhamburan dilantai. Nabil terduduk tidak bertenaga dengan air mata berderai.

__ADS_1


__ADS_2