
Laras duduk dipinggiran tempat tidur sambil mengusap kepala Alan sambil menangis. Harusnya ia kuat, tidak cengeng. Biasanya ia tidak apa- apa meskipun keluarga Nabil tidak pernah mempertanyakan Alan. Tapi sekarang setelah mereka tau, rasanya sangat sedih dan tidak mau anaknya dibagi dengan siapapun karena luka yang dikasihkan mereka tidak semudah itu untuk dihilangkan.
Detak sepatu memasuki kamar itu. Laras menghapus air matanya dan melihat siapa yang datang. Pria itu lagi, baru saja pergi sudah kembali. Ia membawa makanan dan baju lalu meletakkan di meja dekat Laras.
"Apa dia sudah bangun?" Ia memeriksa keadaan Alan. Mata putranya masih terkatup rapat. Ia mengusap kepala anaknya dan menciumnya.
"Biarkan aku yang jaga, kamu makan dulu"
"Terima kasih, aku tidak lapar!"
"Apa perlu aku suapi?"
"Aku punya dua tangan, sama seperti dirimu"
"Kasar sekali, masih marah?"
Laras mendelik, sudah tau masih nanya. Mana ada orang yang tidak marah bicara kasar. Pria itu tersenyum lalu duduk dekat kaki Laras memengang lutut wanita itu dengan mata minta dikasihani.
"Ngapain sih?" Laras memutar duduknya untuk mengelak. Nabil menahannya dan memegang kedua tangan Laras.
"Kalau aku salah, kamu boleh apain aku sesuka kamu, kamu boleh pukul aku! marah sama aku, tapi jangan suruh aku pergi karena itu tidak akan mungkin"
"Kamu ingin mengacaukan kehidupan aku? aku baik-baik saja tanpa siapapun kecuali anak aku" Laras menarik kedua tangannya kembali.
"Aku yang tidak baik-baik saja tanpa kamu"
"Simpan gombalan kamu untuk perempuan yang membutuhkan, aku tidak butuh ucapan basi seperti itu"
Hati Laras sudah mengeras karena tidak percaya lagi dengan namanya perasaan. Ia sudah terlanjur terluka dari awal akan sangat sulit mengembalikan kepercayaan itu lagi.
"Aku bicara yang sebenarnya Ras"
Laras tidak tidak percaya. Pria didepannya hanya menginginkan anaknya. Baru beberapa minggu yang lalu Nabil bersama wanita yang bernama Cleo lalu Cleo menghilang dan kembali lagi pada Airin, sekarang balik lagi ngerecokin hidupnya. Sungguh amazing pria yang satu ini.
"Pernahkah kau mendengar suara kodok?" tanya laras.
"Pernah, suaranya tidak enak ditelinga, memangnya kenapa?"
"Aku lebih suka mendengar suara itu dari pada recehan kamu"
"Oh ya" Nabil tersenyum. Laras makin keras dan susah untuk dibujuk tidak seperti dulu.
"Kamu pernah dengar suara nyanyian yang paling merdu gak?"
"Ngapain nanya?"
__ADS_1
"Ih jutek, giliran nanya gak dijawab"
"Aku sudah tau ujung-ujungnya pasti recehan"
"Pintarr" Nabil mengacak pucuk kepala Laras gemes.Matanya menangkap baju Laras yang robek "ganti baju kamu Ras, aku bawakan tadi tuh dimeja"
"Gak perlu, biarkan saja"
"Gak perlu bagi kamu tapi perlu untuk aku Ras, dari tadi aku gak fokus oleh baju kamu"
Laras langsung meradang kesal. Ia mengamankan diri dari Nabil dan mendorongnya untuk lewat. Pria itu sangat jujur dengan apa yang dirasakannya.
"Dasar otak mesum" Laras menghentakkan kaki ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Baju yang dibelikan Nabil adalah kaos warna hitam katanya hanya itu yang ada didepan.
Airin datang dengan rantang ia bersama dengan Kirana. Bocah perempuan itu senang melihat ada Nabil disana ia berlari pada pria itu.
"Om, om ada disini?"
"Iya,..om disini, Kira kenapa kesini?"
"Kira nemenenin mama"
"Kirana sudah bisa nyebut huruf R?" tanya Nabil karena biasanya Kirana cadel. Bocah itu mengangguk.
Airin senang melihat anaknya berinteraksi dengan Nabil. Ia menyuruh Nabil untuk makan yang ia bawa. Katanya, itu dari mama Nabil. Mamanya menyuruhnya untuk mengantarkan makanan kesana.
Airin selalu didepan dari pada Laras. Sampai kapanpun Laras hanyalah pecundang dalam hidupnya. Sebentar lagi adik tiri tersayangnya itu pasti minggir dari kehidupannya dan Nabil.
Sorot mata Nabil melihat ke wanita yang duduk menjauh seolah tidak peduli dengannya dan Airin.
Apa Laras cemburu dengan adanya Airin? mungkin saja karena Airin adalah masa lalu Nabil. Tapi Laras tidak tau liku kisahnya dengan Airin. Semuanya jauh dari persangkaan Laras.
"Om sudah makan " jawab Nabil " tanya sama tante Laras apa dia lapar?" ujar Nabil pada Kirana.
"Tante gak lapar" tepis Laras. Wajahnya datar tapi hatinya sudah menilai sangat jauh. Nabil tetaplah Nabil yang dulu. Pria yang tidak dapat dipercaya.
"Makan dulu Laras, kita bawa Alan pulang"
"Tidak usah, dia disini saja"
Nabil tidak mau di kamar itu. Ini adalah milik teman Laras yang songong itu. Sebantar lagi dia pasti kembali. Ia benci melihat pria itu bersama Laras.
"Siapkan mobil Jim" Nabil mengasih tau sopir untuk menunggunya dibawah. Setelah itu ia menggendong Alan pelan agar anaknya tidak terjaga. Laras menghadangnya agar tidak membawa anaknya.
"Ssst, dia bisa bangun! bicaranya pelan saja Ras"
__ADS_1
Pria licik, menggunakan Alan sebagai tameng.
"Kirana bersama mamanya, om menggendong Alan" Nabil menyuruh Kirana dengan Airin.
"Hey! kemana kau bawa anakku?" tanya Laras dengan suara tertahan.
"Pulang"
"Jangan kamu bawa dia!!"
Nabil tidak menghiraukan Laras. Ia membawa Alan dari sana.
"Sepertinya kamu harus bersiap untuk kehilangan anak kamu Laras, dan ketika direbutpun anak kamu belum tentu juga di perlakukan dengan baik, kamu tau sendirikan mama Nabil seperti apa pada Alan? dia tidak suka" Airin mengasih asam pada luka Laras yang kembali basah "mereka lebih suka anak perempuan dari pada anak laki-laki" maksud ucapan Airin adalah mereka lebih suka anaknya dari pada anak Laras.
Laras merebut Alan. Dia tidak akan melepaskan anaknya begitu saja. Ia akan merebut sampai ke titik darah penghabisan.
"Sinikan anak aku atau aku teriak" Laras menarik bahu Nabil yang hendak.masuk kemobil.
Pria mengalungkan tangannya ke bahu Laras dan menariknya masuk. Memang inilah yang ia rencanakan. Laras tidak akan diam kalau dia membawa Alan.
"Jalan Jim" perintah Nabil pada sopirnya.
"Lepaskan.." Laras menguakkan tangan Nabil untuk membebaskan dirinya. Tapi mobil sudah jalan dan Laras misuh-misuh minta turun.
"Ibu..kita dimana?" Alan terbangun dan melihat ada ibunya dan Nabil didekatnya.
"Kita pulang kerumah Alan" yang menjawab adalah Nabil. Ia mendudukkan Alan dalam pangkuannya.
"Tadi Alan mimpi, ada banyak orang jahat didekat Alan, Alan takut"
"Ada papa gak disana?"
"Papa?" tanya Alan bodoh. Ia tidak tau papa yang mana.
"Papa! papa ini" Nabil menunjuk dirinya sendiri.
Alan mengangguk. Dalam mimpinya yang menakutkan itu memang ada Nabil disana. Ada perempuan tua seperti penyihir membawanya lari dan Nabil berhasil mengalahkan penyihir itu.
"Karena tadi papa juga mimpi, ada penyihir jahat membawa kamu lari dan papa mengejarnya... heaaah!!! papa berhasil mengelahkannya dan penyihir jahat itu musnah" Nabil bercerita bak superhero.
Kejadian yang menakutkan itu bagai mimpi bagi Alan dan Nabil harus terus memantaunya agar psikologi anaknya tidak terganggu. Ia mengusap kepala anaknya dan memeluknya erat.
"Maafkan papa ya nak, maaf.."
Sementara itu Airin sudah tertinggal dibelakang padahal wanita itu kesana tadinya naik transportasi umum. Ia kesal dan mencak-mencak karena Nabil tidak menyadari kalau dirinya tertinggal.
__ADS_1