
Sepeda Laras dihadang oleh sebuah mobil dijalanan ketika ia akan mengantarkan kue ke supermaket. Hampir saja kue -kue nya berserakan dijalanan. Karena mobil itu rem mendadak didepannya.
Mentang-mentang punya mobil jadi seenaknya pada pengendara lain. Memangnya ini jalan punya nenek moyangnya.
Laras sudah akan buka suara untuk memaki. Tapi kemudian mulutnya terkatup. Vina turun dari mobil itu. Mantan mama mertuanya berkacak pinggang dengan gaya angkuh didepannya.
Laras biasa saja, terserah dia mau berdiri seperti apa, gak ngaruh juga pada dirinya sendiri. Yang ada dia berpikir mungkin mantan mama mertuanya pengen jadi foto model dulunya. Tapi sayangnya mantan menantunya bukanlah seorang fotografer jadi sia-sia saja mantan mertuanya bergaya seperti itu.
"Hmm tukang kue.."
Laras tersenyum, apa yang dibilang Vina memang benar. Dia memang tukang kue. Apa yang salah dengan hal itu. Laras tidak akan marah pada kenyataan karena dirinya bukanlah pembohongan publik. Demi pencitraan lagi pula siapa yang akan tertarik pada kehidupannya. Tidak ada! Jadi hiduplah apa adanya.
... aku mau ngasih tau kamu yaa... Nabil itu sudah bahagia dengan Cleo calon istrinya jadi kamu jangan berharap lagi dengan anak saya, kamu ingat kan? kalau kamu itu adalah perempuan yang tidak becus, jangan-jangan kamu hamil diluar nikah ya? demi uang kamu mau begitu dengan Nata?"
Hati Laras tertohok, teganya Vina menuduh dirinya begitu. Untung Laras masih sabar tidak mau menuding balik untuk menyalahkan putranya.
"Kamu jauhi Nabil....."
"Maaf tante mantan mertua, anda salah paham saya tidak mungkin kembali pada Nabil, tante mantan mama mertua taukan kalau saya dan Nabil itu tidak cocok"
"Tapi masih ngarepkan?"
"Tidak"
"Alah, jangan bohong kamu"
"Tante mantan mama mertua gak percaya saya? ya udah saya tidak memaksa, tapi jangan ngotot begitu"
"Kamu berani sama saya?"
"Tidak" Laras menggeleng jujur. Dari dulu ia memang takut sama Vina.
"Awas ya kalau kamu gangguin hubungan Nabil lagi"
Setelah mengancam Vina pergi kembali ke mobilnya. Vina berhenti cuma ngasih tau itu.
Dan Laras tertegun. Apa iya dirinya masih mengharapkan Nabil? ia pernah berusaha untuk rumah tangga mereka tapi Nabil lebih memilih cintanya. Sekarang ia yakin Nabil masih begitu.
Nabil tidak pernah cinta padanya.
Hanya dirinya saja yang terpukau oleh pria itu sedangkan selera Nabil adalah perempuan cantik dan menarik.
Nabil hanya sekedar singgah mengajarkan arti jatuh cinta dan menorehkan luka-luka.
Laras mengayuh sepedanya pelan.
***
__ADS_1
Sebuah mobil hitam terparkir didepan sekolah sejak tadi. Ia mengawasi sekitar dan mengasih intruksi pada anak buahnya yang sudah mengamankan tempat itu.
"Singkirkan pria itu bagaimanapun caranya, dia tidak boleh kesini dan tolong awasi juga Laras dalam radius tertentu"
"Sangat sulit, kita bisa terendus dengan cepat, karena ini adalah wilayah zona tidak aman bagi kita bisa-bisa kita tidak bisa menginjakkan kaki dikota ini lagi" sahut suara diseberang sana "kami bisa saja menghabisi dengan mudah tapi kami masih memikirkan resiko bagi tuan, sekarang dia bersama wanitanya tapi dia mengirim banyak sekali anak buah untuk menelusuri tentang Laras.
"Kalau begitu buat dia sesibuk mungkin selama hidupnya" pria itu mematikan ponselnya dan melemparkan ke dashboard mobil dengan kesal.
Sekolah didekatnya sudah pada bubar. Anak-anak berebutan keluar berlari keorang tuanya. Pria itu meneliti kalau-kalau ada Laras diantara para ibu-ibu yang menjemput anak mereka dengan mobil.
Dan sepertinya tidak Laras disana mungkin dia belum datang.
Setelah gerombolan ibu- ibu itu pergi tersisa dua orang bocah dibangku depan sekolah. Satu bocah laki-laki dan satu lagi bocah perempuan. Mereka duduk saling berjauhan. Keduanya saling membuang muka dengan tangan dilipat didada. Anak cewek itu jutek dengan mulut dipanjang-panjangkan dan sudut mata sinis menoleh pada bocah laki-laki disebelahnya.
"Hey jagoan!!"
Alan menoleh pada pria memakai kaca mata hitam yang menghampirinya sambil melambaikan tangan padanya.
"Masih ingat?" pria itu membuka kaca matanya memperlihatkan wajah pada Alan.
Alan meneliti wajah Nata, lalu mengangguk.
"Jangan dekat-dekat pada orang yang tidak dikenal nanti kamu diculik?" bocah cewek itu mengingatkan Alan.
"Kamu saja yang cemen"
"Gendut!"
Mata bocah perempuan itu langsung berair "awas ya..aku laporin buguru!" bocah itu lari kedalam kelas.
"Jagoan! apa kabarmu?" tanya pria itu mengandung rasa haru. Ia duduk disebelah Alan dan merengkuh bocah itu padanya.
"Baik, apa kau ingin menculik aku?"
"Untuk apa aku menculik putra aku?"
Alan tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Om adalah orang yang kesekian kalinya mengaku-ngaku sebagai ayah aku, om lihat penjual roti itu?" Alan menunjuk penjual roti didepan sekolahnya "dia juga suka mengaku sebagai ayah aku, tiap hari aku dikasihnya roti gratis"
"Hanya roti? kamu tau? dirumah kamu ada begitu banyak roti dan makanan apa saja yang kamu suka, ada juga banyak mainan"
Mata Alan berbinar ketika pria itu menyebut mainan.
"Gimana mau ikut?" tanya Nata.
__ADS_1
Alan menggeleng. Bocah itu ternyata kukuh juga kalau dibujuk.
"Ibu berpesan, tidak boleh pergi dengan orang yang tidak begitu dikenal"
"Aku kenal kamu, dulu..dulu sekali, waktu kamu masih kecil, kecil sekali, aku menyukai kamu, aku tau kamu akan jadi anak yang hebat"
"Masa?"
"Iya, aku dan ibu kamu sangat dekat"
"Terus kenapa kita baru ketemu?"
"Panggil ayah dong!"
Alan menggeleng "aku tidak mau dibohongi"
"Aku tidak bohong"
"Tanya ibu dulu"
"Baiklah ayo kita pulang"
Alan menggeleng "tunggu ibu dulu"
Bocah itu masih duduk ditempatnya tanpa beranjak, ia mengayun-ayunkan kakinya. Nata menemani bocah itu duduk disana menunggu Laras datang. Tidak lama kemudian perempuan yang ditunggu itu tiba dengan sepedanya. Sepertinya ia buru-buru karena sudah telat menjemput Alan.
"Kamu lihat ibu kamu mencemaskan kamu, coba saja tadi kita pulang, ibu kamu tidak akan capek panas-panasan"
"Aku sudah biasa, ngapain kamu disini?" tanya Laras.
"Menjemput Alan" Nata menggendong Alan kemobilnya duluan sebelum Laras mengambil darinya.
"Kamu jangan ganggu aku dan Alan, sana pergi"
"Ini mau pergi, kamu juga" Nata mengambil sepeda Laras dan menaikkan kemobilnya. Laras tidak akan pernah sanggup melawan Nata kalau soal tenaga. Tubuh pria itu seperti kawat. Setelah itu Nata menyuruh Laras untuk masuk.
"Besok libur, Alan ingin ikut berburu?" tanya Nata ketika mobil sudah berjalan.
"Kemana?"
"Hutan" Nata menoleh ke Laras "gimana? mau ikut?"
Laras teringat dengan Vina tadi pagi yang menuduhnya mengejar Nabil kembali. Lebih baik ia menghindar untuk sementara waktu paling tidak untuk beberapa hari ini. Tanpa pikir panjang ia mengangguk.
Senyum tercipta dari wajah Nata.
***
__ADS_1