
Vina menarik tangan Nabil setelah anaknya meletakkan anak perempuan kecil itu kursi. Tidak sabar rasanya Vina untuk bertanya siapa bocah itu dan kenapa Nabil datang bersama Airin? Apa diam-diam Nabil punya anak diluar nikah dengan Airin?
"Ada apa sih ma?" tanya Nabil karena diseret seperti bocah oleh Vina ketempat agak jauh dari Airin dan anaknya.
"Ssst, kenapa kamu pulang bawa anak kecil? apa dia putri kamu?"
"Jangan ngaco deh ma, aku tidak mungkinlah punya anak dari Airin"
"Trus kenapa kamu bawa dia kesini?"
"Aku tidak sengaja menabrak Kirana"
"Ha!" Vina menutup mulutnya kaget. Jadi tubuh anak kecil itu penuh perban oleh anaknya.
"Mereka disini untuk sementara waktu, kasihan Kirana, dia sakit dan harus hidup berpindah-pindah"
"Tadinya mama berharap itu adalah anak kamu, gak apa-apa sih, mama pernah sakit hati pada Airin tapi kalau itu putri kamu maka mama pasti akan memaafkan Airin"
"Tidaklah ma, Kirana adalah putri Arga...aku perhatin karena peduli juga"
Nabil meninggalkan mamanya yang sudah bengong. Harapannya untuk punya cucu kandas lagi. Nabil menghampiri Kirana dan mengajak anak kecil itu bicara "Kira istirahat dikamar dulu ya.."
"Nanti saja om, Kila mau duduk disini dulu" jawab bocah itu cadel. Anak Airin menggemaskan. Pipinya bulat dan beralis tebal serta berbibir merah seperti Chery. Perpaduan Arga dan Airin. Kasihan gadis kecil itu yang tidak pernah dapat kasih sayang dari papanya. Temannya yang satu itu sangat bajingan. Merebut Airin tanpa pertanggung jawaban. Airin juga berotak udang, cantik doang tapi minus.
"Atau Kira mau sesuatu? cemilan atau makanan?"
"Aku mau biskuit, boleh?"
"Baiklah, sim..salabim...tunggu sebentar om ambilin"
Vina mendekati Airin dan anaknya dengan tatapan menyelidik. Dan bocah kecil itu menyapanya dengan ramah duluan sebelum Airin melemparkan senyuman.
"Oma..."
Vina membalas dengan senyuman seadanya.
"Apa oma, mamanya om yang baik?" maksud Kirana adalah Nabil. Om baik yang selalu perhatian padanya.
"Iya.."
"Berarti oma juga oma baik"
"Hmm"
Mata Kirana mengerjap lucu seperti boneka. Biasanya ia selalu melihat ada banyak orang berperilaku kasar pada ia dan mamanya. Tapi beberapa hari ini ia tidak melihat itu lagi. Anak sekecil Kirana sudah sering berhadapan dengan orang- orang perusak mental masa kecilnya.
__ADS_1
Nabil datang dengan biskuit ditangannya dan mengasihkan pada Kirana. Bocah itu senang dapat makanan yang ia suka. Sesekali Nabil membantunya menyuapkan makanan kemulutnya.
"Coba saja kalian menikah dulu, mungkin saja anak kalian sudah segede Kirana" celetuk Vina.
Airin hanya bisa tersenyum dengan rasa bersalah menanggapi ucapan Vina. Dan perempuan setengah baya kembali melanjutkan ucapannya "Nabil terpaksa menikah dengan Laras, juga bukannya bahagia malah makin sengsara"
"Jangan mulai lagi deh ma, aku pusing"
"Kamu selalu saja begitu terus, kamu hanya ingin lari dari nasib kamu, dan lihat...." Vina melihat sekeliling ruangan "kamu rela tinggal sendiri demi lari dari mama, mama sudah tua Bil, sudah pengen gendong cucu, bukannya kamu kasih kamu malah lari, masa tua mama makin suram"
Jika mamanya sudah bicara masalah cucu dan menantu maka Nabil akan pusing dan malangnya setiap bertemu tidak ada topik selain itu yang dibahas mamanya. Ingin rasanya Nabil pergi saja keujung dunia untuk menghindari kata-kata itu.
"Akan ada masanya ma, sabar saja"
"Keburu mama mati"
Nabil tidak enak ucapan mamanya didengar oleh Airin. Bagimanapun juga Airin adalah mantannya. Perempuan itu bisa pasang badan untuk menjadi menantu mamanya.
"Kamu ajak Kira kekamar saja Rin untuk istirahat, kalau kamu butuh sesuatu minta saja sama pelayan"
Airin menangkap usiran halus Nabil ia mengajak anaknya untuk pergi dari sana.
"Apa kamu berniat kembali pada Airin?" tanya Vina.
"Tidak!" jawab Nabil tegas.
"Ma, jangan paksa aku lagi...kalau aku tidak bersamanya maka aku akan begini saja"
"Laras lagi? kamu sadar, dia itu punya anak dari pria lain dan pria itu adalah Nata, mereka affair diluar nikah, mama saja heran pada Laras, kok bisa dia serendah itu"
"Aku juga kecewa mengetahui hal itu, tapi putra Laras itu lucu juga"
"Kamu sudah gila?!"
***
Sejak Alan berada dirumah Nata, bocah itu dihadapkan dengan hal yang amazing menurutnya. Semua maunya dituruti Nata. Mereka cepat akrab tapi tetap saja tidak mau memanggil ayah pada Nata karena katanya belum ibunya yang menyuruh.
Nata menemani bocah itu main sampai larut malam dikamarnya. Laras juga disana. Ia duduk dilantai bersama Nata dan Alan yang lagi main robot-robotan. Laras melihat seluruh isi ruangan itu. Kamar itu seperti sengaja didesain untuk anak laki-laki. Dindingnya warna biru, ada meja bayi disudut rentetan bola-bola bayi.
"Aku tidak menyangka kamu punya kamar seperti ini dirumah kamu" ujar Laras.
"Kenapa tidak? aku sudah memastikan dirinya untuk disini, kamunya saja yang lari-larian, kamu kira enak rasanya dikecewakan" nada Nata menggas.
Laras terhenyak, jadi kamar ini sengaja dipersiapkan Nata untuk putranya. Baik sekali.
__ADS_1
Nata melirik jam dinding. sudah agak larut. Nata mengusap kepala Alan
"Besok kita pergi berburu, kamu tidur dulu, besok kamu boleh bermain lagi sepuasnya" bujuk Nata pada Alan.
Bocah itu menurut. Ia naik ketempat tidurnya sambil memeluk sebuah robot-robotan. Laras mengusap kepala Alan sampai anaknya nyenyak. Nata menunggui didekatnya.
"Enak gini ya Ras, aku pernah bermimpi begini menunggui anak sebelum tidur"
Biasanya Laras akan langsung pasang mode on dan memblok ucapan Nata dengan seringai pedas. Kali ini Laras diam.
"Apa yang kamu tunggu Ras? menunggu Nabil datang untukmu?" Nata mencecar dengan pertanyaan yang tidak mungkin dijawab Laras.
"Jika kamu ada untuk aku, akan aku tinggalkan dunia gelap aku Ras, aku akan berusaha ada untuk kamu, untuk anak-anak kita, please kasih aku ruang, menikahlah denganku"
Bola mata Nata redup penuh permohonan. Laras hampir tidak kuasa untuk menolak.
***
"Kau sudah siap jagoan?"
"Yes!!"
"Ayo!"
Nata menggendong Alan naik ke hely dan mengamit tangan Laras sebelahnya.
"Ini adalah liburan yang salah, harusnya kita keluar negri melihat musim semi" ujar Nata yang baru sadar kalau membawa mereka kehutan adalah perkara yang bodoh. Tidak ada yang menarik disana selain kebun binatang tanpa tepi.
"Kamu sudah berjanji untuk mengajak aku berburu om, aku ingin lihat" balas Alan penasaran.
"Baiklah, ini kita berangkat...bisa-bisa setelah ini ibu kamu berubah pikiran karena menelusuri kenangannya yang mengerikan"
"Bisa jadi, siapa suruh kamu sadis?" Laras menyela dengan pertanyaan.
"Namanya sakit hati ya begitu"
"Tanpa berpikir panjang, kamu jahat"
"Untuk kamu tidak lagi, aku sudah agak berubah..mereka yang bekerja padaku sudah mulai buka usaha sendiri, aku yang memodali, aku suruh mereka menikah agar mereka bahagia, hanya aku saja yang belum menikah"
"Oh mungkin karena kamu sudah tua kali yaa dan mendekati ajal"
"Enak saja, lupa? aku bernyawa sembilan"
Nata mendudukkan Alan disebelahnya dan memasang seatbelt bocah itu. Ia sering melakukan perjalanan tapi kali rasanya sangat istimewa.
__ADS_1
***