
"Kamu serius dengan ini?" suara Vina meninggi begitu masuk masuk keruangan Nabil seraya menghempaskan map berwana coklat kemeja didepan Nabil. Vina barusan mendapatkan kertas itu dari pengacara keluarga mereka dan begitu tau itu adalah surat pengajuan perceraian ia langsung menemui Nabil saat itu juga.
"Aku serius ma, ini yang terbaik" balas Nabil, lelah.
"Terbaik apanya? apalagi Laras sedang hamil! kamu benar-benar tidak punya hati"
"Tidak lagi" jawab Nabil.
"Apa itu sebabnya kamu minta cerai? karena Laras tidak lagi hamil? ini tidak adil baginya"
"Bukan ma, bukan aku.." hampir saja Nabil keceplosan kalau anak yang dikandung Laras bukan anaknya. Harga dirinya mau dikemanain. Tidak mungkin rasanya ia bilang pada mamanya siapa Laras yang sebenarnya. Jika mamanya berpikir sejenak mana mungkin se cap cus itu. Baru nikah langsung jadi memangnya dia sesuper sonik itu.
"Pokoknya kamu gak boleh cerai, tunggu satu tahun kek atau gimana kek, kalian itu baru ketemu wajar seperti itu"
"Ma! aku dan Laras nikah bukan karena cinta tapi karena menutupi malu, aku mencintai Airin"
"Kamu sudah menikah, mau kamu cinta siapapun tidak boleh dibawa kedalam rumah tangga kamu karena dia bukan untuk kamu, yang harusnya kamu cintai itu istri kamu bukan mantan kamu"
"Aku dan Airin belum ada keputusan"
"Mama tau Airin memang cantik tapi Laras juga manis hanya saja dia tidak suka berdandan, coba kalau dia dandan pasti cantik melebihi Airin"
"Ini masalah hati ma"
"Makanya mama beritahu, percaya mama! hati kamu akan bahagia kelak"
"Tidak akan berhasil ma"
"pertimbangkan lagi, Laras adalah gadis yang baik dia penurut! jarang ada perempuan sebaik Laras"
"Aku sudah matang ma, untuk cerai dengan Laras"
"Jangan sekarang! bolehkan mama bermohon pada kamu?" Vina hampir putus asa meyakinkan putranya.
"Ma!"
"Tolong! sekali ini saja pertahankan rumah tangga kamu"
Vina meninggalkan ruangan Nabil dengan gurat kecewa. Awalnya ia membawa Laras masuk kedalam kehidupan Nabil untuk bertanggung jawab atas apa yang diperbuat keluarga gadis itu pada keluarganya tapi setelah melihat sikap gadis itu ia menjadi sayang pada gadis tersebut.
Nabil mengusap wajahnya kasar, semuanya sudah diurusnya dan hanya tinggal selangkah lagi ia dan Laras akan hidup seperti bulan lalu dimana mereka tidak akan pernah lagi saling kenal. Percuma ia bersama gadis itu hanya menambah beban daya pikirnya.
__ADS_1
***
Baru saja Nabil tiba dipintu kamar pulang dari kantor ia disambut oleh bau asap rokok. Asap itu berasal dari sofa dimana Laras berada. Gadis itu duduk dengan gaya nakalnya sambil menghirup rokok dalam-dalam dengan bibirnya yang berwarna menyala.
Laras tidak ubahnya wanita yang ia ada dibar. Pelan-pelan siapa gadis itu mencuat, sekarang gadis ini merokok. Ia saja yang pria anti rokok malas melihat orang merokok apalagi seorang perempuan, mahasiswa kedokteran pula.
Ia curiga Laras mengidap kelainan atau mungkin dia sudah jadi wanita panggilan. Dengan geram Nabil meraih rokok dimulut Laras dan menginjaknya kelantai sampai *****.
"Kakak kenapa membuang rokok aku, rugi tau!" desis Laras.
"Kamu gila ya? merokok disini!"
"Kenapa? kakak tidak mengidap penyakit paru-parukan?"
"Aku benci rokok"
"Kalau benci jangan digituin kak, buang saja!"
Ucapan Laras punya makna luas tentang dirinya yang ingin lepas dari Nabil. Ia lelah, ia ingin jadi Laras yang biasa hidup tanpa pria asing.
"Aku ingin membuang kamu! ingin sekali!!!"
"Kenapa tidak kakak lakukan?"
"Waktu selalu ada kak, semua itu tergantung kita" nada suara Laras sangat semangat sekali.
"Kamu ingin kita pisah?'
Laras mengangguk dengan wajah berseri "iya"
"Aku juga!"
"Terus, terus! kita pisah sekarang"
Mata nabil menyipit melihat gadis itu, wajah gadis itu sangat bahagia sekali ternyata bukan dia saja yang ingin berpisah,mereka sama-sama. itu wajar karena mereka sama-sama terbelenggu oleh pernikahan itu.
"Aku sudah menyiapkannya untuk kamu"
"Sudah? yesss!!!"
Laras berteriak girang bukan kepalang, bahkan ia mengacungkan tangannya keudara saking senangnya.
__ADS_1
"Kalau mau cepat bantu aku" lanjut Nabil.
"Bantu apa kak? pasti aku bantuin"
"Bujuk mama aku"
Wajah Laras yang sedang girang berubah jadi lemas "tidak ada persyaratan lain apa?"
"Mama aku keberatan kalau kita cepat pisah, makanya sana bantu aku untuk bicara pada mama aku"
"Itukan mama kakak, harusnya kakak dong yang bicara bukan aku"
"kamu dong yang bicara agar mama percaya'
"Gak kak, aku..malas" ujar Laras yang aslinya dia takut sama Vina karena Vina sangat galak dimatanya. Tapi ia menyembunyikan ketakutannya itu dengan tatapan mata angkuhnya.
"Aku malas satu rumah dengan kamu"
"Sama" hampir saja Laras menangis kalau tidak ingat dengan misinya agar tidak lemah didepan Nabil. Jika pria itu menilainya adalah perempuan murahan maka ia naikkan levelnya agar Nabil tidak suka padanya dan dia juga tidak suka Nabil. Ia harus membuat batas antara dia dan Nabil karena pria itu masih cinta kakaknya. Dari pada ia mendapatkan luka maka lebih baik begini. Mencegah rasa itu ada walaupaun sebenarnya ia sendirilah yang takut untuk jatuh cinta. Pesona Nabil membuat hatinya lemah dan bergetar dengan lancang.
Gadis itu menghenyakkan tubuhnya dikursi lalu melihat ke Nabil.
"Maunya kakak apa sih? nahan aku gitu? pacar aku udah nungguin aku diluar sana untuk secepatnya keluar dari sini"
"Aku tidak nahan kamu kalau kamu mau pergi silahkan!"
"Mana bisa begitu kak, aku tidak belum bebas namanya kalau rantai gemericing masih terikat dikaki aku"
"Kamu harus bertahan enam bulan saja"
"Tapi boleh bebaskan?"
"Silahkan karena aku juga bebas nantinya"
"Deal!"
"Hm"
Hati Laras rasanya meriang, kenyataannya sangat pahit. Ia berebut kasih bukan dengan orang lain tapi dengan kakaknya sendiri. Jika Airin kembali sudah pasti dirinya akan menjadi yang terlupakan dan tersakiti. Sekarang saja rasanya sangat nyut-nyutan. Ini adalah kesalahan terfatal dalam hidupnya ketika menutupi kesalahan Airin. Ia terjatuh kedalam lubangnya yang mungkin saja membutuhkan waktu untuk memulihkan dan menata rasa yang sudah berantakan.
Nabil pergi dari sana untuk mandi dan mungkin saja setelah itu pria itu pergi kembali. Rumah adaalh persinggahan sementara baginya karena suruhan Vina. Jika tidak mungkin Nabil tidak akan pernah menjejakkan kaki disana.
__ADS_1
setelah Nabil menghilang dibalik pintu barulah Laras lega. Ia mengusap dadanya dan menghirup udara sebanyak mungkin. Ia tadi hampir saja bengek oleh asap rokoknya sendiri karena ia tidak suka dengan asap itu. Ia tidak suka dengan apa yang melekat ditubuhnya sekarang. lipstik tebal, bedak menor dan tanktop warna putih yang dipakainya.