Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
untuk apa?


__ADS_3

Keluarga itu menjadi bersiteru, pemicunya adalah Airin yang mengamuk dan tidak terima kalau Nabil bersama Laras. Perempuan manja itu menangis dipundak Nabil.


Laras mencoba berjuang menyelamatkan rumah tangganya. Tapi bagaimana jika hanya dirinya sendiri yang berjuang? dirinya yang terluka oleh suami dan kakak manjanya.


"Kak, kita disekolahkan mama dan papa untuk lebih tau etika, kakak tau yang kakak peluk itu adalah suami aku" ujar Laras menusuk.


Airin menghapus air matanya dan tangisnya makin sesungukan " mengapa dunia ini gak adil bangat sama aku, aku pengen mati saja!"


"Rin,...sudah! jangan kayak gini kita cari jalan keluarnya ya jangan menangis..." Pria penyebab masalah itu menenangkan Airin yang mulai histeris.


"Kenapa kita kayak gini sih Bil, kenapa???"


Nabil tidak menjawab melainkan mengusap kepala Airin. Sumpah rasanya nyesek bangat bagi Laras. Kesabaran dan kesadarannya sudah diambang batas. Didepan mata sendiri suaminya bermesraaan dan itu bukan dengan orang lain tapi dengan kakaknya. Tapi disini ia dianggap gak punya hati, perebut kekasih kakaknya sendiri.


"Yang sadar itu kakak harusnya, masa pelukan sama suami orang"


"jika saja aku tidak diculik maka sekarang aku dan Nabil bahagia! ingat itu Laras!!!"


Riyanto dan Nabil termakan omongan Airin apalagi Airin memang cocok jadi pesinetron azab yang tayang di ikan terbang, jadi peran antagonis yang licik perebut suami orang bermodal kecantikan.


Dan Nabil, mendadak seperti seorang pangeran yang duduk gagah di singgasana melihat dua orang perempuan cantik bermain pedang untuk memperebutkan dirinya. Masing-masing perempuan tidak ada yang mau mengalah. Ia sendiri juga tidak bisa memutuskan kepada siapa ia berpihak. Pada perempuan yang ia cintai ataukah pada sang permaisuri.


"Laras dan Nabil, kalian pulanglah...dan Airin, mama ingin bicara denganmu" Maya berkata tegas mengurai ketegangan dalam keluarga itu.


"Ma.." Airin menolak, ia enggan melepaskan Nabil. Maya menarik Airin dari pelukan Nabil.


Laras melangkah terlebih dahulu meninggalkan tempat itu dengan pikiran kacau. Dibelakangnya mengekor Nabil dengan langkah berat.


"Puaskah anda?" tanya Laras saat ia dan Nabil sudah berada dimobil.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Kau membuat keluarga aku hancur"


"Aku tidak minta kamu bertahan sama aku"


"Maksud kamu?"


"Kamu tau apa maksud aku, kamu bukan perempuan bodohkan?"


Laras terdiam, sesungguhnya ia adalah perempuan bodoh tapi tidak mengakui. Ia sendiri tidak tau untuk apa ia begini.


"Aku hanya menuruti apa yang kita janjikan, ..ingat kak, sekarang lima bulan dua hari terhitung waktu yang terpakai" Laras mengingatkan "bisakan kakak tidak melanggar apa yang kakak suruh sama aku"


"Kamu jangan licik , apa maksud kamu mengikat aku dengan perjanjian itu? ingin memiliki aku seutuhnya gitu?" tanya Nabil tajam.


"Kalau aku jawab iya?"


Mobil Nabil melaju kencang anehnya Laras tidak takut sama sekali karena adu mulut dengan Nabil. Percayalah, melawan Nabil tidak ubahnya seperti berhadapan dengan mak-mak. Mulut pria itu sangat pedas dan lihai mengungkit kesalahan. Pria itu nyolot sana-nyolot sini itu semua demi Airin.


Airin, dia perempuan yang paling beruntung didunia. Tidak ada kesalahan dan kekurangan seorang Airin semua tertutup karena paras kecantikannya. Kadang Laras mikir, orang cantik itu tidak punya dosa.


***


Imbas dari perselisihan anak-anak mereka membuat Riyanto dan Maya juga bersiteru yang tidak kalah hebatnya. Mungkin lebih hebat dari pertikaian Nabil dan Laras.


Maya membela rumah tangga laras dan Nabil sedangkan Riyanto memihak pada Airin. Suami istri itu awalnya menenangkan Airin dikamarnya. Tapi tangis anak perempuannya itu tidak kunjung reda hingga akhirnya Riyanto menarik Maya untuk bicara.


"Kembalikan posisi mereka seperti semula dan keluarga ini akan tenang" ujar Riyanto pada Maya. Perempuan itu kecewa dengan ucapan suaminya yang hanya memikirkan seorang anak padahal keduanya adalah putrinya.

__ADS_1


"Mas sadar apa yang mas bilang? ini rumah tangga lho mas, bukan mainan bongkar pasang, kasihan Laras yang terpuruk dengan keadaannya lalu setelah ia menerima apa yang disodorkan padanya kita malah merenggutnya! yang mas minta itu suaminya lho mas, mas mikir gak?"


"Lalu bagaimana dengan Airin? kamu juga mikir gak? dia terluka berkali lipat Maya, dia dipisahkan dengan orang yang dicintainya, kamu juga harusnya sadar!!"


"Ini sudah takdir mas, sudah takdir!!"


"Takdir apanya? jika Nabil kembali dengan Airin itu juga takdir maya, Laras anak yang kuat dan juga belum tentu mencintai Nabil begitu juga sebaliknya, mereka akan bahagia dengan kehendak mereka masing-masing"


"Mas mikir gak sih apa yang mas bicarakan?"


"Aku mikir Maya, kamu itu yang gak mikir" Riyanto menunjuk kepalanya sendiri dengan emosi. Maya tidak habis pikir dengan tingkah suaminya. Jika masalah Airin maka Riyanto tidak akan mundur meskipun yang dihadapi


Emosi Maya juga terpancing, perempuan itu tidak kalah berangnya.


"Selama ini aku berusaha menuruti mau kamu, menyayangi mereka dengan sama tapi kalau begini cara kamu mas, aku tidak tahan lagi!!" Maya teriak sambil terisak "aku kecewa sama kamu mas! benar-benar kecewa! ingat yang anak kandung kamu disini siapa?"


"Jangan ungkit hal ini Maya! kasihan dia!....dia adalah diambil untuk pancingan, kalau bukan karena dia maka anak kita tidak akan ada"


"Kamu kasihan pada anak yang dipungut dari panti asuhan dari pada anak kandung kamu sendiri?"


PLAK!!!


Tamparan itu akhirnya melayang juga pada pipi Maya. Suasana hening sesaat. Maya memegang pipinya sambil melihat Riyanto. Sedangkan pria itu tangannya gemetaran, tidak percaya tangannya dengan mudah melayang pada pipi istrinya sendiri.


"Hanya karena anak pungut dari panti asuhan kamu begini sama aku?!!" Maya berkata geram tapi air matanya menetes. Riyanto yang tadinya agak menyesal kembali murka.


"Sudah aku katakan! jangan ucapin kata itu! aku peringatkan sama kamu! jangan ulangi!!!!" wajah Riyanto memerah karena marah ia menunjuk-nunjuk wajah Maya. Rasa hati perempuan itu sangat teriris pedih. Suaminya tidak pernah kasar tapi kalau menyangkut anak itu selalu main pukul.


"Mulai sekarang! jika kamu masih begini maka aku akan teriak-teriak anak pungut! kamu mengerti?!! kalau bukan aku yang merawat dan membesarkannya mungkin dia akan menjadi anak panti yang malang"

__ADS_1


"Sekali kata itu terlontar dari mulut kamu maka jangan salahkan aku!"


Riyanto keluar dari kamar itu dan menghempaskan daun pintu dengan kencang. Tinggallah Maya terisak sedih. Ia selalu gagal membela anak kandungnya sendiri. Seandainya Riyanto adil pada mereka maka dia pasti tidak akan pernah mengupngkapkan hal ini karena bagaimanapun Airin dan laras sama dihatinya. Riyantolah yang tidak adil membedakan dua anak itu lalu salah seorang dari mereka tumbuh dengan arogan


__ADS_2