Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
pratikum


__ADS_3

Laras bersama timnya keluar dari ruang pratikum anatomi . Kepala Laras sangat pusing dan perutnya mual. Untuk pertama kalinya Laras masuk ruang pratikum dan praktek anatomi berhadapan langsung dengan cadaver. Membedah organ cadaver itu satu persatu dan mempelajarinya.


Setelah membersihkan sarung tangannya yang dipenuhi darah hitam dan mencuci wajahnya yang sudah tidak karuan. Matanya perih dan hidungnya masih trauma dengan bau. Bahkan si bijak Siti teman Laras sampai muntah diwastafel.


Dari dua belas orang anggota timnya hanya beberapa orang saja yang benar-benar bermental kuat. Salah satunya Benz.


Setiba diruangan karantina Benz menyodorkan minuman rasa jeruk padanya. Rasanya Laras tidak ingin ngapa-ngapain setelah apa yang dilihatnya tadi. Waktu pertama ospek saja saat dikenalkan dengan ruangan anatomi ia bersembunyi dibelakang Benz. Itulah awal mulanya ia kenal dengan pria itu.


"Sudah mendingan?" tanya Benz. Wajah Laras masih pucat seperti kehabisan darah tapi peluh dingin yang tadi membanjiri tubuhnya sudah berkurang. Ia takut Laras tiba-tiba pingsan.


Entah apa yang memotivasi anak itu untuk masuk ke fakultas kedokteran. Secara akademis Laras termasuk mahasiswa yang lumayan pintar tapi kalau praktek gadis itu sering gemetaran.


Setelah keluar dari ruang karantina Benz menarik Laras untuk diantar pulang.


"Sama aku saja Ras, aku antar ya"


Laras tidak menolak untuk diantar Benz dengan motor dan tidak jadi menelpon sopirnya untuk minta dijemput.


"Hati-hati Ras, pegangan yang kuat" Benz mengambil kedua tangan Laras dan meletakkan kepinggangnya.


"Gini aja, jangan lepaskan!" Benz berkata sambil melihat spion, wajah gadis itu kelihatan disana.


"Apaan sih?" Laras menyembunyikan wajahnya malu dibalik punggung Benz. Pria itu tersenyum dan menarik bahu Laras untuk tetap seperti itu "nanti kamu jatuh" desisnya.


Pria itu mengantar Laras kerumahnya dimana mama dan papanya berada.


Dihalaman depan terparkir mobil civic putih, mungkin mobil tamu atau apa Airin sudah kembali dan mobil itu yang mengantarnya.


"Terima kasih, lain kali aku akan masuk kesana! mungkin malam minggu nanti" Benz berkata sebelum Laras menawarkan untuk mampir.


"Bagaimana? tidak ada yang marahkan?" tanya Benz ingin pasti.


Hal yang ditinggu-tunggu Laras hampir jadi kenyataan. Kalau dirinya mengagguk tidak salahkan? lagi pula Nabil adalah suami sementaranya. Laras tersenyum dan akan mengangguk namun kemudian senyumannya hilang tidak tau rimbanya.


Dari dalam rumah terlihat mamanya keluar bersama seorang perempuan dan perempuan itu adalah Vina. Cepat-cepat Laras menyuruh Benz pergi setelah itu ia menyelinap kehalaman samping. Ia takut Vina melihatnya.


Sayup-sayup terdengar suara Vina yang mendominasi rumah tangganya dengan Nabil. Kata Vina, Laras dan Nabil pasti sudah seutuhnya jadi suami istri dan mereka akan menjadi oma cantik. Maya dan Vina tertawa bareng lalu Vina pamit pada Maya.


setelah Vina pergi barulah Laras kesana dan mamanya kaget.


"Kamu ada disini? mana Nabil?"

__ADS_1


"Gak tau" Laras masuk kedalam.


"He jangan gak tau, masa suami sendiri tidak tau"


"Aku pusing ma, pengen muntah" Laras berkata jujur dengan apa yang ia rasakan di ruang praktek tadi. Mamanya menutup mulut senang tidak terkira.


"Kok mama senang sih liat Laras kayak gini?"


"Gimana mama gak senang itu berarti kamu hamil"


Kepala Laras yang pusing makin pusing. Ia meninggalkan mamanya dan pergi kekamar untuk mandi, ganti pakaian dan tidur dengan nyenyak agar bayangan terlupakan sejenak.


***


Nabil memeriksa rekaman cctv jalanan bersama Amoy. Ia mencari keberadaan Airin. Terakhir dilihat gadis itu memakai baju pengantin masuk kekamar pengantin mereka. Setelah itu rekaman habis.


"Hanya ini yang didapatkan mereka Moy, tidak berguna!" Nabil kesal sendiri.


"Maaf tuan, tapi kalau menutur perkiraan saya semua ini sudah matang!"


"Maksud kamu?"


"Diculik atau tidaknya nona Airin, semua itu sudah dipersiapkan secara sempurna"


Amoy menggeleng tidak mau berasumsi ia takut sang tuan mengamuk marah. Nabil terduduk di kursi tidak mungkin Airin berhianat padanya, tidak mungkin!


Sulit bagi Nabil untuk mempercayai hal ini. mungkin harus dari mulut Airin sendiri. Meskipun dari awal hatinya sudah dipatahkan tapi ia tetap ingkar dengan apa yang dirasakan. Seolah-olah Airin selalu ada untuknya agar dirinya jangan gila.


"Tuan, maaf! tidak seharusnya tuan seperti ini! ada nyonya" Amoy mengingatkan.


"Kau tidak tau, aku tidak cinta dia!"


"Jangan bicara seperti itu tuan, nyonya bisa terluka nantinya'


"Aku juga terluka Amoy, kau tau itu! aku dengan Laras hanya sementara setelah ini aku akan meninggalkannnya"


"Maaf..."


"Apa lagi?"


Amoy menggeleng, suara Nabil sudah meninggi . Ia tidak ingin ambil resiko lagi.

__ADS_1


***


Apakah ini yang namanya malapetaka? saat tidurpun diri Laras tidak bisa tenang. Baru saja punggungnya bertemu kasur, datang sopir Vina menjemputnya yang katanya sesuai pesan titah sang baginda ratu penguasa.


"Nyonya diminta nyonya Vina untuk datang saat ini juga kemansion"


Gawat, apa tadi ia melihat aku? mati aku! mati! desis Laras dalam hati.


"Ayo sayang cepetan!" mamanya membantu dirinya untuk duduk.


"Ma! Laras pengen tidur"


"ini perintah mama mertua kamu lho" mamanya menekankan kata mertua dan Laras tidak bisa berkata tidak.


Dengan wajah kusut dan hanya memakai kaus dan celana bahan ia mengikuti sang sopir kemobil.


"Hati-hati sayang" mamanya melambaikan tangan bahagia.


Dengan berat hati Laras masuk kedalam mobil apalagi untuk bertemu dengan Vina. Ia seperti diujung ajal saja.


"Pak, apa tidak bosa besok saja! aku belum ada energi untuk kesana" keluh Laras pada sang sopir Vina.


"Tidak bisa nyonya muda, nyonya Vina akan marah jika nyonya muda tidak kesana sekarang"


Wajah Laras sangat kusut dan tidak enak untuk dilihat. Ia menduga-duga apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi pada akhirnya ia hanya bisa pasrah sampai akhirnya sampai dimansion.


Ternyata Nabil juga kesana ia datang bersamaan dengan Laras dan sama-sama turun dari mobil. Wajah Nabil tampak kusut seperti orang patah hati.


"Nah itu mereka datang" Vina bersama Hendra, mbak Yul dan para pelayan lainnya menyambut didepan.


"Ssst kak! ini ada apa sih?" tanya Laras pada Nabil. Pria itu menggeleng.


"Etts, tunggu dulu! nanti ceritanya didalam saja" Vina merangkul Laras untuk masuk kedalam. Sepertinya suasana hati Vina cukup baik makanya tidak nyeremin seperti yang sudah-sudah.


"Kita makan malam dulu setelah itu cerita sama mama"


Laras sempat melihat ke Nabil minta jawaban dan lag-lagi pria itu mencibir sambil mengangkat bahu bertanda tidak tahu.


Vina mengajak Laras duduk dan menyiapkan makanan untuk Laras kepiring. Saat itulah Laras melihat lauk diatasnya dan ingatan kembali pada saat tadi siang diruang anatomi.


Laras muntah-muntah dan berlari ketoilet. Dibelakangnya terdenar suara Vina berkata riang.

__ADS_1


"Ternyata Maya benar, Laras hamil!"


__ADS_2