Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
akhirnya


__ADS_3

"Pengawal jangan biarkan perempuan itu pergi!"


Langkah Laras terhenti didepannya bersusun para pria berpakaian hitam memblokade jalannya.


Ia mengira dirinya sudah lepas begitu saja dan bebas ingin pergi ternyata ia salah.


Laras berbalik kebalakang dimana Nata masih duduk dikursinya.


"Kau???!!!!" Laras menunjuk wajah pria itu dengan emosi "kau keterlaluan!!!"


Nata balas melihat ke Laras dengan tatapan tajam.


Begitu cepatnya pria itu berubah. Ia yang tadinya sangat baik sekarang menjadi murka.


"Dunia ini bukan semau kamu, tapi sesuai dengan keinginan aku!"


"Keinginan seseorang tidak harus sealur dengan kamu tuan, aku punya keluarga dan aku harus pulang!" Laras meninggikan suaranya. Ia sesak, tiba-tiba ia seperti terkurung dalam ruangan kedap udara.


"Kau tawanan aku, selamanya begitu!!"


"Kau tidak berhak atas aku!!"


"Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau meskipun bertaruh nyawa sekalipun, jangan remehkan aku nona" bisik Nata penuh tekanan "aku yang memegang tali kendali"


PLAK!!!


Wajah itu tidak bergeming ketika tamparan melayang diwajahnya. sebaliknya tangan Laraslah yang rasanya seperti terbakar.


"Siapkan mobil" perintah Nata pada sang sopir. Setelah itu ia merangkul bahu Laras untuk pergi tidak peduli tangannya digigit perempuan itu. Ia biarkan saja Laras seperti zombie haus darah terus menggigit.


"Aku ingin pulang!!" Laras berteriak tidak peduli jadi bahan perhatian semua pekerja dirumah Nata.


Nata menjadi tuli dan Laras capek sendiri sampai tidak menyadari kalau dia dan Nata sudah tiba dihalaman rumah besar itu.


Sang sopir membukakan pintu untuk mereka dan Nata memasukkan Laras kedalam.


"Kemana tuan?"


"Rumah sakit"


"Aku bisa sendiri, kamu tidak usah repot!" omel Laras pada Nata "berhenti didepan pak!!"


Sang sopir melirik lewat kaca spion, dilihatnya wajah Nata sangat datar. Itu berarti sang tuan sedang marah. Ia tidak berani mengambil resiko bisa-bisa ia hilang tanpa jejak.


Laras yang juga sudah capek akhirnya diam. Ia melirik ke Nata, pria itu masih berwajah datar dan menatap lurus kedepan.


"Dari semua oang didunia ini kenapa aku harus bertemu dengan orang macam kamu? mulut kamu mirip brutu (****** ayam)"


Barulah Nata menoleh padanya.

__ADS_1


"Apa liat-liat? ngajak berantem? ayo!" Laras menyingsingkan lengan bajunya ke atas.


"Marah kok bilang?"


"Biar kamu ngerti"


" Setelah ini kamu boleh pulang, tapi dengan syarat kamu harus datang kembali padaku"


"Untuk apa?!! harga diri aku tidak serendah itu"


"Memangnya siapa yang mau membeli harga diri kamu? tidak laku!"


"Enak saja! aku merasa terhina"


Perempuan aneh dibilang harga dirinya gak laku malah marah. memangnya Laras sanggup buka berapa? akan dia bayar hanya saja ia tidak ingin menjatuhkan harga diri Laras. Bisa-bisa ia diamuk lebih parah lagi.


"Aku mau pulang! kau tidak tau bagaimana rasanya menahan kangen sama orang tua aku, kamu punya orang tua juga kan? kamu tau bagaimana rasanya!"


"Aku juga punya orang tua tapi aku tidak pernah kangen pada mereka, karena mereka juga tidak pernah ingat dengan aku" Nata berkata pelan seolah berkata pada dirinya sendiri. Laras yang sedang marah jadi kasihan melihat raut wajah pria itu. Meskipun sudah dewasa ia seperti anak kecil yang butuh diperhatikan.


"Aku dijadikan boneka untuk mencapai ambisi mereka dan aku lelah lebih baik aku hidup dengan cara aku tanpa dikendalikan oleh siapapun, kau lihat!" Nata menunjuk gedung-gedung tinggi menjulang sepanjang perjalanan " itu milik orang tuaku dan diantaranya milik aku"


"Setidaknya kamu mengerti sedikit saja, aku tau kamu tidak jahat bangat, sisakan sedikit kebaikan kamu untuk aku"


"Tergantung, kalau orangnya nurut aku tidak akan marah"


"Aku kaya, harta aku banyak, aku tidak butuh uang recehan"


"Kamu ngeselin!"


"Makanya diam"


"Aku tidak akan diam!!!"


"Ya terus saja bicara sendiri"


"Akan aku bunuh kamu"


"Lupa, aku punya nyawa sembilan"


"Kamu pria bodoh"


"Kalau pintar aku tidak akan suka perempuan macam kamu"


"Memangnya aku kenapa?!" suara Laras meninggi.


"Gak tau"


"Kamu bikin emosi"

__ADS_1


"Bukannya dari tadi kamu marah mulu?"


-


-


"Nona dan tuan belum akan turun?"


Sang sopir mengagetkan mereka. Pintu mobil sudah terbuka. Laras dan Nata tidak menyadari kalau mobil sudah berhenti dipelataran rumah sakit. Dari tadi berantem mulu.


"Ayo turun" ajak Nata. Dia ingin membantu Laras tapi perempuan itu menolaknya "aku bisa sendiri, kamu menjengkelkan"


"Juga bikin kangen"


"Tidak ada tuh! setelah ini kamu pergi saja, aku tidak mau merepotkan kamu, aku ingin bebas"


"Menyesal aku membawa kamu kesini harusnya kamu aku biarkan saja dihutan"


"Telat, aku ingin bertemu dengan mama aku"


Rumah sakit itu terletak ditengah kota dan keliling taman hijau yang asri. Perawat berpakain putih-putih terlihat sepanjang lorong.


Nata bertanya pada resepsionist dimana ruangan dokter yang bernama Karina setelah itu ia mengajak Laras masuk lift untuk kelantai lima.


"Karina itu siapa sih?' tanya Laras.


"Dokter kandungan, aku sudah ada buat janji dengannya, aku tidak tau kalau seribet ini tau begini lebih baik aku bawa saja kerumah"


"Iya bawa saja kerumah kamu rumah sakitnya sekalian" sindir Laras tidak sabar menunggu pintu lift terbuka. Ia gedeg satu lift sama Nata hanya mereka berdua disana. Pria itu menjulang tinggi di sebelahnya.


Nata melirik ke Laras, dari tadi perempuan ini sewot melulu. Tapi bukannya membuat dirinya marah malah makin gemas. pengan dimasukin kesaku biar bisa dibawa kemanapun.


Setelah pintu lift terbuka Nata mencari ruangan dokter yang bernama Karina itu. Untungnya Nata sudah membuat janji dan tidak perlu duduk bersama para ibu-ibu yang duduk dikursi ruang tunggu menunggu antrian. Busyet bangat kalau itu terjadi.


Seorang dokter perempuan cantik memakai kaca mata dan berambut bergelombang menyambut mereka begitu pintu ruangan terbuka "dengan bapak Nata?"


"Iya"


"Silahkan duduk"


Laras dan Nata duduk didepan dokter tersebut dan bertanya pada Laras jika ada keluhan. Setelah itu Laras diperiksa disebuah meja panjang. Nata ikut menemani Laras melihat layar USG dan juga mendengarkan CTG.


"Anak aku sehat kan dokter?"


Biji mata Laras ingin melompat saat itu juga.


"Dia sangat sehat dan kandungannya bagus, ini sudah masuk trisemester kedua, dia sangat aktif sekali, pasti bapak Nata dan ibu Laras sangat menjaganya dengan baik"


"Tentu saja dokter, orang tua siaga" lagi Nata menimpali. Pria itu sangat antusias dia ngoceh terusan. Sementara Laras berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari Nata. Setelah selesai periksa dan dokter mengasih resep, Laras permisi untuk pergi ketoilet. Saat itulah ia berhasil kabur lewat belakang rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2