
Nabil menekan tombol angka dipintu apartement. Tidak berhasil , sandinya sudah diganti. Akhirnya ia menekan bel. Lama baru dibukakan. Cleo muncul dipintu dengan senyuman hambarnya.
Wanita itu sangat anggun dan sudah wangi. Nabil rasanya tidak pernah melihat Cleo tidak cantik. Wanita itu selalu anggun dengan dandanan terbarunya. Pria yang memuja kecantikan tidak akan pernah bosan memandangi perempuan itu. Dan dipastikan Cleo adalah wanita perfect yang pandai menjaga dandanannya.
Tidak ada yang kurang pada diri Cleo. Hati Nabillah yang tidak cukup untuk mencintainya.
"Aku kira kamu akan datang, dari kemaren aku menunggu" nada suara Cleo terdengar kecewa. Setelah meredam pertengkaran mereka Nabil tidak datang untuknya.
"Maaf aku baru datang....."
"Kau telah banyak melewatkan waktu kita, kamu sengaja?"
Nabil tidak menjawab.
Nabil paham, dialah yang salah. Ia juga tidak mengasih alasan apapun. Karena percuma beralasan kalau ujung-ujungnya bohong.
Ia masuk kedalam mengikuti langka Cleo. Wanita itu berjalan anggun kedalam. Di sudut ruangan tersusun koper yang siap untuk dibawa. Cleo tidak mengasih taunya kemana ia akan pergi.
"Inikan yang kamu mau?" Cleo duduk anggun di sofa melihat ke Nabil yang juga duduk didepannya.
Apa Cleo pergi karena dia?
Nabil sadar dengan kesalahannya. Tapi tidak menyangka kalau Cleo sampai berniat untuk pergi.
"Kamu tidak ingin minta maaf?" tanya Cleo.
"Aku minta maaf" Nabil mengucapkan apa yang diinginkan Cleo. Minta maaf agar perempuan itu tenang bukan minta maaf untuk menyadari kesalahan.
"Untuk?" tanya Cleo penuh penekanan. Rupanya ia ingin Nabil menyebut daftar kesalahannya.
Nabil menatap mata Cleo tidak mengerti "maksud kamu apa?"
"Kamu berpura tidak mengerti? satu tahun kita bersama baru kali ini kamu seperti orang asing dimataku, aku seperti tidak mengenal kamu lagi, sikap kamu berubah dalam waktu singkat, kau melupakan semuanya tentang kita karena dia,... apa hebatnya sih tukang kue itu?"
nada suara Cleo datar tapi mengandung kemarahan.
"Persepsi hebat bukan tergantung dengan profesinya"
"Jadi kamu memujanya?"
Suasana hening sesaat.
"Jawab!"
__ADS_1
"Sudah Cle, untuk apa kamu memaksakan hal yang akan membuat dirimu marah, kamu sudah tau jawabannya"
Cleo terhenyak dengan jawaban Nabil. Pria itu menyergahnya dengan suara tinggi.
"Belum pernah aku semarah ini padamu, belum juga pernah aku sekecewa ini....aku kira dengan kepulangan kita hubungan kita akan happy ending, ternyata aku salah! kamu dengan cepat berubah...aku tidak tahan Nabil, kamu beginikan aku!...orang tua kamu juga mengasih aku harapan-harapan tentang kita, aku kira kamu juga demikian, kau akan menjadi pelabuhan terakhir aku'
Nabil diam seperti mendengarkan rentetan ocehan yang tidak berarti.
"Apa kau mencintai perempuan itu?"
"Aku tidak tau yang aku rasakan aku hanya ingin bersamanya"
Nafas Cleo memburu karena terbakar cemburu yang tertahan. Tidak sadarkah Nabil kalau dirinya terluka karena ucapannya barusan. Semudah itu Nabil mengatakan ingin bersama dengan perempuan lain didepannya.
"Aku ingin pergi"
Bukannya membujuk Nabil malah bertanya "kamu mau kemana?"
"Male"
Cleo menunggu Nabil untuk ikut dengannya atau melarangnya pergi. Tapi tidak kunjung ada. Pria itu duduk hening didepannya. Cleo mendealkan perjalanannya dan memesan taksi online.
Cleo yang terlalu kecewa mengambil kopernya dan menyeretnya keluar.
Bukan itu yang dimau Cleo tapi bujukan Nabil.
"Tidak usah!" Cleo menolaknya karena terlanjur kecewa.
"Aku menunggu kamu di Male dalam beberapa hari, kalau tidak ...............mungkin aku menganggap hubungan ini berakhir"
Wanita itu naik taksi dan Nabil terpaku dtempatnya.
Cleo pergi dengan lukanya.
Bagi Nabil mungkin ini lebih baik. Cleo terluka karenanya sekali ini dari pada luka seumur hidup karenanya. Semoga Cleo menemukan pria yang mencintainya setulus hati.
Sedangkan dirinya juga belum tentu kemana arahnya. Ia kembali kerumah Laras tapi rumah itu kosong. Menurut tetangga Laras, perempuan itu disana tanpa suami. Itu berarti Laras janda. Tapi kenapa bisa ada anak Nata bersamanya. Apa Laras affair dengan Nata dan mempunyai anak. Menyusup rasa cemburu yang menghanguskan dadanya. Andaikan Laras ada bersamanya saat ini, entahlah!
Entah apa yang akan terjadi. Mungkin dia meluapkan kekecewaaannya dengan cara lain seperti dulu.
Lama Nabil dirumah kecil itu akhirnya pulang dengan gemuruh yang tak teredam.
Hatinya penuh menduga-duga kemana Laras perginya hinga tidak pulang-pulang. Ingin rasanya mengasih Laras GPS agar ia tau dimana Laras berada dan dia bisa memantau setiap waktu.
__ADS_1
Dua buah bayangan melintas cepat didepan mobil Nabil menyeberangi jalan. Nabil kaget karena tidak fokus ia rem mendadak.
Kecelakaan itu tidak terelakkan.
Pekikan seorang wanita dan tangisan seorang anak kecil memecah jalanan. Nabil bergegas untuk turun. Belum lagi Nabil sempat untuk menolong tiba-tiba tiga orang pria bertubuh sedang menarik perempuan yang sedang memeluk anaknya itu.
"Akhirnya kau dapat juga!" ketiga orang pria itu mencekal perempuan itu dengan kasar.
"Lepaskan!!!!"
Wanita itu meronta dan memekik keras. Nabil tidak bisa membiarkan para pria itu menganggu siwanita tersebut. Mungkin saja anak perempuan itu terluka. Ia menghajar para pria itu. Setelah para pria itu pergi, bergegas ia menolong siwanita itu.
"Bagaimana keadaan anak kamu? cepat bawa dia kerumah sakit" Nabil cemas kalau dirinya menjadi penyebab cacat anak orang lain. Pasti dirinya akan dihantui rasa bersalah.
Wanita yang sedang memeluk anaknya itu menoleh.
"Kamu???"
Nabil kaget melihat wanita itu.
"Nabil!!...." ujar wanita itu dengan simbahan air mata mungkin karena mencemaskan anaknya. Wajah perempuan itu makin memelas.
"Dia terluka....dia bisa kehabisan darah" wanita itu memperlihatkan tangannya bersimbah darah.
"Bawa dia kemobil! cepat! " Nabil membukakan pintu mobil untuk perempuan itu.
Wanita itu menggendong anaknya yang berumur kurang lebih dari empat tahun. Bocah perempuan itu menangis dalam pelukan wanita itu.
"Sabar Kira, kita kerumah sakit, bertahan ya nak"
"Sakit mama...sakit!!"
Nabil kasihan mendengar rengekan anak perempuan itu ia mempecepat laju mobilnya. Siwanita itu juga terlihat panik dengan kondisi putrinya.
" Hey nak, kamu harus bertahan...jangan buat mama cemas, Kirana...."
Setiba dirumah sakit, Nabil menggendong bocah itu kedalam minta tolong dokter untuk segera dikasih perawatan.
Bocah itu tidak hentinya menangis dan wanita itu juga ikutan menangis melihat anak perempuannya. Ketika anaknya ditangani didalam ruangan ia sesungukan dikursi tunggu. Nabil mengasihkan air mineral untuk perempuan itu.
"Ini sangat berat untukku, hanya putriku yang aku punya...dia adalah penguatku, kalau dia kenapa- napa entah apa yang akan aku lakukan"
"Kamu tidak tidak usah cemas, aku akan bertanggung jawab sampai anak kamu sembuh Airin"
__ADS_1
Nabil mencoba menenangkan Airin, perempuan itu.