Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
mantan pacar jadi kakak ipar


__ADS_3

Semudah itu Nabil bicara untuk memperbaiki. Dia mengira hati Laras itu terbuat dari apa? atau pria itu tidak merasa kalau Laras terluka olehnya. Ketika laras berterima kasih dan berniat pergi pria itu menghalangi Laras dengan segala daya dan upayanya.


"Hati aku bukan terbuat dari emas yang jika dibanting dan dibakarpun tidak berubah, hati aku dulunya lemah tapi karena terbiasa sudah berubah jadi batu dan bukankah kamu yang mengajarkannya padaku?"


Laras mendorong Nabil dan pergi dari kamar itu. Pria itu mengikuti Laras dengan nyinyirannya yang memualkan.


"Aku cinta pada kamu Ras, waktu itu aku memang salah tapi jangan kasih aku hukuman dengan apa yang tidak aku mampu, tidak apa kamu benci aku, aku terima.... tapi jangan kamu pergi dari aku"


"Cinta! cinta! aku benci mendengar kata itu! simpan cintamu untuk yang membutuhkan! aku tidak butuh cinta!" Laras hampir berteriak ketelinga pria itu saking kesalnya.


"Kamu membuat aku seperti pengemis, jangan salahkan aku kalau aku..."


"Mau apa?' sergah Laras "apa tuan Nabil ingin membuat aku bertekuk lutut?"


Emosi Nabil seperti diaduk-aduk. Ada kesal, marah, benci dan yang paling besar adalah tidak ingin menyakiti.


Nabil memijit kepalanya yang terasa berdenyut.


"Kamu tidak boleh pergi"


"Kamu lucu, kamu mengurung dua wanita dirumahmu, bukan pula wanita asing, kami adalah dua adik kakak, mantan kekasihmu dan mantan istrimu, dua-duanya sama ingin kau tiduri? kau mengaku masih waras? lihat dirimu pria sialan!" Laras berkata sinis.


"Sudah aku bilang aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Airin tapi kamu selalu menuduh aku?" suara Nabil meninggi.


"Oh ya! terus apa namanya yang kau lakukan padanya malam tadi? bukan apa-apa? atau kau mengaku lagi tidak sadar atau amnesia?"


"Aku dan dia tidak seperti yang kamu pikirkan"


"Lucu! kau menyuruh aku berbohong antara apa yang dilihat dengan apa yang kau mau, jelas-jelas aku melihat kamu dengannya semalam, pria sinting"


"Aku memang sinting kamu akan melihat seberapa sintingnya aku, disini! kamu selau melihat kemasa lalu aku tanpa mau sedikitpun melihat siapa aku, aku mohon pada kamu Laras"


Giliran Laras yang memijit keningnya. Ia merasakan kepalanya sangat pusing "kamu tau? kamu adalah pria teribet yang pernah aku temui, kamu ingin membuat aku terluka lebih dalam dengan semua yang kamu lakukan, kau nyinyir hanya tentang apa yang kau mau bukan yang kamu rasakan"


"Yang aku rasakan adalah aku mencintai kamu"


Pertengkaran mereka pagi itu dilihat oleh Vina. Katanya ia akan mengantar Alan kesekolah.


Bocah itu sudah rapi, ia mengerjapkan mata melihat ibunya bersama Nabil.


"Anak papa sudah siap, ayo papa antar" Nabil menggndong Alan dan berpesan pada Laras yang masih marah "jangan kemana-mana Ras, kamu tidak akan bisa lagi seperti kemaren-kemaren"

__ADS_1


"Kamu jangan curang! memaksakan kehendak"


"Nanti kita bahas setelah emosi kamu mereda" ujarnya sambil melambaikan tangan menggendong Alan kemobil. pria itu menugaskan seorang body guard untuk menjaga Alan disekolah.


Setelah Alan pergi tinggallah Laras dengan Vina dan Airin serta Kirana. Wanita itu melihat Laras dengan teduh.


"Kamu tau kenapa aku marah waktu kamu datang kerumah kembali?" tanya Vina pada Laras.


Laras menggeleng, mungkin karena Vina memang suka marah.


"Waktu itu mama kecewa sama kamu Ras, kamu meninggalkan luka yang cukup dalam pada Nabil, mama mana yang tega melihat anaknya menderita"


"Derita apa tante?"


"Jangan panggail aku tante! aku bukan tante kamu!"


"Maaf..bukannya itu..."


"Aku marah sama kamu dan aku tidak sengaja melontarkan kata itu....! kamu seorang ibu, tau rasanya ketika putra kamu terksakiti, itu juga yang mama rasakan, kamu meninggalkan Nabil yang tengah depresi"


Laras melihat ke Airin, bukankah Nabil bersama kakak tercintanya waktu itu kenapa bisa depresi?


Airin tidak ingin Laras dan Vina berbicara untuk sementara waktu sampai Laras pergi dari sana. Ia sengaja minta tolong pada Laras untuk mengambilkan dirinya mintak kayu putih dikamarnya dengan alasan pusing dan mual. Padahal ia bisa minta pada banyak pelayan yang ada disana.


Laras menuruti permintaan kakaknya ia pergi kekamar yang dimaksud oleh Airin yaitu kamar yang dimasuki oleh Nabil semalam. Ia mencari minyak kayu putih yang dimaksud. Tapi tidak ditemukan. Ia membuka laci nakas yang temukan disana hanyalah foto-foto Airin dan Nabil pada waktu dulu. Waktu dulu Nabil tidak secengeng sekarang, dia pria yang sombong dan angkuh terlihat pada foto-fotonya yang mendongkakkan dagu. Laras menutup laci itu kembali dan ia melihat ada foto Nabil bertiga bersama Airin dan Kirana dengan caption, selalu bersama.


Laras sangat terlatih dengan hal ini ia terlihat biasa saja. Kakinya tergelincir oleh sesuatu dan ketika ia mengangkat kakinya ada kotak kond*m disana. Ia menyingkirkan kotak itu.


"Aku tidak memukan kak" ujar Laras ketika telah sampai dibawah kembali dan Vina sudah pulang kerumahnya.


"Aku lupa Ras, ternyata memang tidak disitu letaknya" Airin meringis memijit tengkuknya.


"Kalau kakak tidak nyaman bawa kedokter saja kak"


"Aku harus menunggu Nabil pulang dulu" maksud Airin agar Laras cemburu tapi Laras malah merespon diluar dugaan "harusnya kakak telepon dia, sini aku bantuin"


Airin menyerahkan ponselnya pada Laras dengan tatapan mata tidak yakin.


Lama panggilan itu baru dijawab oleh Nabil dan setelah dijawab yang terdengar hanya sunyi.


"Hallo"

__ADS_1


"Ya Ras, ada apa?"


Semilir sejuk dirasakan Laras ketika pria itu hafal suaranya, tapi kemudian buyar.


"Kak Airin katanya lagi mual dan pusing, kamu tidak akan membawanya kerumah sakit?"


"Ya aku akan segera pulang"


Laras mengembalikan ponsel Airin kembali "kata Nabil dia akan segera pulang"


Senyuman Airin mengembang "dia memang selalu memprioritaskan aku" ujar Airin dengan bangganya. Tidak lama kemudian pria itu pulang dan langsung masuk mencari Airin. Wanita itu sedang duduk mengobrol bersama Laras menceritakan keseruannya dirumah itu dan bagaimana Nabil menyayangi anaknya. Bagi Laras yang sudah terbiasa dilukai memang perih tapi tidak ditunjukkan.


Pria yang katanya tidak ada hubungan apa-apa itu ternyata sangat perhatian pada Airin. Ia rela pulang sejenak hanya demi Airin.


"Kata Laras kamu sakit, ayo kerumah sakit" ajak Nabil.


"Sudah agak mendingan tadi memang sangat mual"


"Berarti tidak apa-apa lagikan?"


"Tidak, makasih atas perhatian kamu"


"Lain kali jangan repotkan Laras, kamu bisa minta tolong pada semua orang dirumah ini"


Airin yang sedang menari diangkasa terbang bebas keatas lumpur basah yang sakit dan malunya tidak terkira.


"Kenapa kamu marah?" Laras tidak terima kalau pria itu menyakiti kakaknya.


"Kamu lihat sendirikan? Laras selalu memarahi aku kalau aku menyakiti kamu, sedangkan kamu? kamu sengaja menciptakan api diantara aku dan Laras, sebenarnya apa mau kamu? membuat aku dan Laras kembali hancur, sedangkan kamu tau sendiri kalau aku hanya mencintai Laras"


Airin duduk membisu bukan karena tidak mampu untuk membela dirinya tapi ia menunggu Laras untuk maju menjadi tameng.


"Maksud kamu bicara begitu apa sih? untuk membuat aku terharu?" balas Laras. Perempuan itu maju kedepan Nabil seperti mau mengajak tawuran. Jika di Nata dulu, pria itu akan mentertawakan Laras karena mirip preman galak.


"Biar kamu ngerti Ras, kalau aku bersama Airin tidak seperti yang kamu bayangkan, tanya sama Airin bagaimana aku dan dia berakhir, aku memang salah karena mengabaikan kamu tapi tidak untuk kali ini, jika dulu kamu menganggap aku sebagai kakak karena aku berpacaran dengan Airin maka sekarang aku juga menganggap Airin seperti kakak ipar aku, kalau tidak.. aku sudah pasti mengusir Airin dari sini karena mustahil untuk aku memelihara duri yang akan merusak kita"


"Jadi kamu menganggap aku duri?" tanya Airin "kamu tega bilang seperti ini pada aku? kamu masih ingat aku kan? kamu boleh dendam pada aku dan marah pada aku tapi tidak sekejam ini Bil" suara Airin serak dan matanya memerah ingin menangis


"Kejam itu memang diperkukan Airin untuk membuat kamu menyadari siapa kamu"


"Kamu lihat baik- baik, apa Laras juga tidak menyelingkuhi kamu?? dia hampir menikah dengan pria lain tapi kamu bisa memaafkan dia"

__ADS_1


Airin menuding Laras tapi dia tidak sekuat Laras. Dari dulu dia memang sangat perasa tapi suka merintah dan suka semaunya sendiri. Akhirnya perempuan itu menangis beneran lalu berlari kekamarnya.


"Kamu lihat kakak kamu? dia sangat drama queen"


__ADS_2