Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
sebuah kenyataan


__ADS_3

Nabil sering tertawa sendirian seperti orang gila. Selama ini ia dibodohi terang-terangan. Teman dan sahabat nya sendiri dibelakangnya dan sudah melangkah jauh. Ia saja yang sudah bertahun bersama Airin tidak pernah melewati batas. Tapi Arga...


Temannya itu sangat garcep melampaui dirinya bersama Airin karena Arga sendirilah yang bercerita padanya dan Chiko tentang ia dan pacar orang itu. Ternyata pacar orang yang diceritakan itu adalah pacarnya sendiri dan diceritakan didepannya pula.


Anj*ngg emang...


Sejak SMA kenal Arga dan sudah seperti saudara. Tidak disangka Arga adalah teman bajingan. Sampai hati anak itu berhianat padanya. Sebanyak ini cewek didunia mengapa harus pacarnya yang sigaet Arga.


Pantas saja dirumah Arga waktu itu ada tas dan sepatu milik Airin dan dengan mudahnya ia percaya pada omongan Arga.


Setelah mengetahui hal itu harusnya ia senang karena ia tau sebelum mereka merencanakan menikah lagi. Kegagalan yang pertama ternyata adalah bentuk dari Tuhan menyayanginya meskipun sakitnya tidak terkirakan.


Dan kegagalan kedua, Tuhan memperlihatkan padanya.


Hatinya patah berkeping-keping,


Ia melipat sapu tangan dari anak remaja kecil beberapa tahun yang lalu. Gadis remaja kecil yang mengobatinya dan membalutkan sapu tangan itu pada lukanya.


Setelah melewati perjalanan panjang akhirnya ia bertemu kembali dengan gadis yang bernama Airin itu. Nama yang sama persis dengan sapu tangan yang ada ditangannya.


Nabil memperlakukan Airin sebaik-baiknya. Ia menjauhi segala yang dibenci perempuan sampai hatinya merasa yakin pada perempuan itu.


Ternyata berkeyakinan sendirian itu tidaklah mudah. Rasanya tidak ada yang kurang darinya untuk Airin. Semua keinginan Airin dan segala yang diminta ia penuhi termasuk mencampakkan Laras. Tapi semuanya itu tidaklah cukup, Airin terlalu murah untuknya.


Sapu tangan ini rencananya akan dijadikan Nabil memoar kenangan saat menikah nanti didepan para tamu. Ia akan mengasih kejutan pada Airin.


Nabil memasukkan sapu tangan itu kesakunya dan turun kelantai bawah. Disana Amoy dan mbak Yul sedang mengobrol sambil menonton televisi. Nabil masih disana karena Airin juga sering kesana dan memintanya untuk tinggal. Foto- foto Airin masih utuh didinding.


"Tuan hendak kemana?" Amoy berdiri ditempatnya ingin mengikuti Nabil.


"Tidak usah ikut Amoy! kamu turunkan saja semua foto itu"


"Baiklah tuan"

__ADS_1


Nabil pergi sendirian. Amoy dan mbak Yul saling pandang.


"Kamu memberitahu tuan?" tanya mbak Yul.


Amoy angkat bahu, ia hanya mengasih tau secara tidak langsung. Ia tidak mengatakan kalau Airin bersama Arga tapi Nabil sendirilah yang melihat dengan mata kepalanya biar Nabil yang melek. Perempuan seperti Airin tidak layak untuk tuan mereka.


"Semoga tuan kembali bersama nona Laras" doa mbak Yul. Ia dengan senang hati membantu Amoy mencopot foto Airin didinding.


-


Nabil berkendara sendirian dengan tenang menuju rumah Airin. Sorot matanya sangat dingin dan keras. Berbanding jauh dari sejak ia mengenal sebuah rasa.


Tiba dirumah Airin ia disambut oleh pemandangan baru. Ada Arga disana duduk bersama Airin. Mereka sedang bercanda dan bahagia sepertinya begitu melihat Nabil datang senyuman diwajah mereka memudar berganti dengan wajah datar.


Luka diwajah Arga sudah diobati mungkin oleh Airin. Dekat mata anak itu membiru dan sudut bibirnya pecah. Nabil tidak peduli lagi dengan apa yang mereka lakukan. Tanpa menyapa terlebih dahulu Nabil duduk dihadapan mereka. Ia kesini bukan untuk membujuk Airin kembali bersamanya. Tidak, ia tidak akan melakukan itu. Biarlah mereka bersama dan ia dengan lukanya.


Airin dan Arga sama-sama penghianat dan sama-sama sampah ia tidak berniat memungut biarlah mereka berada ditempatnya. Sampah memang cocok dengan sampah dan tinggal bersama di tempat sampah.


Nabil meletakkan sapu tangan warna merah muda di meja depannya. Begitu melihat sapu tangan itu Airin langsung meraihnya. Warna muka Airin berubah seketika.


"Kamu ingat?" tanya Nabil kemudian.


"Aku ingat,.." jawab Airin dengan wajah sendu ia memeluk sapu tangan itu "Laras yang mengasihkan pada kamu?"


"Apa hubungannya dengan Laras?" tanya Nabil tidak mengerti.


"Tentu saja ada, anak itu mencuri sapu tangan ini tapi dia tidak mengaku, padahal kami sama-sama dibuatkan oleh nenek, dia memang suka iri dan curang ...ini adalah kenangan terakhir dari nenek kami"


Ada apa dengan hari Nabil beberapa hari ini? mengapa ia dikejutkan oleh hal-hal yang tidak terduga. Ia sudah gila mengetahui dirinya dihianati oleh kekasih dan temannya sendiri, sekarang bertambah lagi kalau anak itu bukan Airin, tapi Laras.


Laras istrinya?


"Laras tidak mencuri, akulah yang justru minta maaf pada kamu, karena itu kamu salah paham pada Laras"

__ADS_1


"Maksudnya apa? kamu minta maaf atas nama Laras?"


Nabil seketika jadi jengah. Untuk apa ia menjelaskan pada Airin?. Sekarang apa yang ia jalani tidak harus diketahui Airin lagi.


Cinta pada Airin sudah pupus dari semenjak ia melihat Airin dan Arga. Sekarang yang tinggal hanyalah kebencian pada keduanya. Harusnya dari semula ia tidak meneruskan lagi hubungannya dengan Airin, harusnya ia menjalani kehidupannya dengan Laras.


Harusnya,..harusnya,...


Nabil bisa gila beneran.


"Mana Laras?" tanya Nabil.


"Untuk apa kamu bertanya dia? dia sudah minggat, perempuan itu sudah pergi dari sini"


"Kemana dia?" Nabil bangkit dari sana menuju kamar Laras dan Airin juga bergegas menyongsong Nabil dibelakangnya "Nabil!!" sergah Airin.


Perempuan itu tidak suka kalau Nabil perhatian pada Laras. Ia tidak suka melihat Laras bahagia apalagi dengan mantan pacarnya.


Nabil membuka kamar Laras dan terpaku. Kamar Laras masih sama seperti malam sebelum Laras pergi. Selimut Laras yang sobek ditengah masih tergeletak ditempat tidur tidak berubah. Itu berarti Laras tidak pernah pulang lagi, kemana dia??


"Kalau kita tidak bisa bersama, kamu juga tidak dengan laras" teriak Airin tidak rela.


"Kamu bukan siapa-siapa aku, kamu tidak berhak mengatur hidup aku!" balas Nabil kasar.


Airin terhenyak, ia butuh waktu lama untuk sebuah kesadaran. Pria yang selalu lembut dan manis padanya tiba-tiba mengasarinya. Rasanya seperti berada diawang-awang lau terhenyak diatas kotoran.


"Nabil! kamu..."


Air mata Airin turun berderai. Nabil tidak peduli, ada buaya yang akan menghapus air matanya. Dan buaya itu beberapa kali terlihat hendak bicara padanya tapi diurungkan.


Ia meninggalkan tempat rumah Airin dan seluruh kenangannya bersama perempuan itu. Mulai saat ini ia kembali seperti Nabil yang dulu. Nabil yang bebas, Nabil yang tidak mengenal kata dosa dan Nabil yang beringas.


Semua mimpi tentang hidupnya sudah musnah. Cintanya sudah berganti benci. Kebenciannya terlebih pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia benci dengan kebodohannya.


__ADS_2