
***
Matahari sudah muncul beberapa jam yang lalu, hutan itu masih sangat dingin dan kabut tipis masih bernaung di atas rimbunan pepohonan. Para anak buah Nata masih duduk memantau keadaan padahal udara sangat beku.
Laras berdiam dekat tungku memperhatikan para chef disana memasak. Empat orang pria memasak dengan cekatan disana. Mereka memanggang roti, memasak kopi panas dengan mesin, membuat hidangan makanan. Laras menyadari kalau hanya dirinya saja yang perempuan disana selebihnya para pria yang berwajah datar dan serius dengan pekerjaannya. Hutan yang sunyi itu terasa makin sunyi. mereka seperti manusia jelmaan di film-film horor yang berubah wajah saat purnama tiba.
Laras mengeratkan mantelnya, pakaian yang dipakainya adalah pakaian serba pria, didapatnya di gudang rumah itu.
Bau roti bakar keju dan kopi panas menusuk indra Laras dan ia menebak itu pasti untuk si kurus duda lapuk itu.
Salah seorang chef membawa menu itu dari dapur. Tidak lama kemudian ia kembali dengan nampan yang masih utuh.
"Tuan masih tidur" katanya dan membuang sarapan itu ketong sampah.
Para chef itu kembali memasak. Anehnya masakan yang banyak masih ada dimeja. Dua kali chef itu melakukan hal yang sama, memasak sarapan dan membuangnya ke tong sampah. Laras bertanya mengapa mereka membuang makanan itu dan chef itu menjawab, tidak boleh memakan jatah sang tuan. Laras meminta makanan itu untuknya saja tapi para chef tidak berani mengasihkan pada laras. Laras penasaran seenak apa makanan untuk sikurus itu sampai orang lainpun tidak boleh mencicipi.
Setelah matahari agak tinggi barulah Nata muncul didapur. Sepertinya ia baru bangun tidur. Keempat chef yang sudah menyiapkan pekerjaan mereka kaget seperti orang bersalah besar. Mereka membungkuk hormat pada Nata.
"Maaf tuan, kami kira tuan masih tidur" ujar mereka cemas dan cepat-cepat menyiapkan sarapan.
Nata hanya diam tapi diamnya menakutkan. salah seorang chef itu menunduk "aku akan antar sarapannya"
"Harusnya kalian memasak lebih awal" suara Nata meninggi memarahi mereka semua.
Keempat chef itu menunduk dan menyiapkan makanan untuk Nata. Laras heran, dimana-mana pria kaya selalu saja sombong pada bawahannya. Mentang banyak duit,
Setelah Nata sarapan barulah para pria yang berjaga didepan makan. Laras jadi mengerti sebelum Nata makan maka seluruh penghuni rumah belum boleh makan.
Laras mencomot barbuque di meja depan Nata seenaknya dan makan didepan pria itu sambil berdiri. Nata menghentikan makan dan melihatnya dengan tajam.
"Ternyata enak, chefnya sangat baik membuatkan tuan seperti masakan yang lezat, kalau aku bukan masakan yangharus dibuang ketong sampah tapi majikannya"
__ADS_1
Masih pagi bagi Nata sarapannya saja baru dimakan tapi Laras sudah mengajak berantem. Perempuan jelek itu merusak moodnya pagi-pagi.
"Bagaimana rasanya?" tanya Nata
"Enak, chefnya pintar memasak"
"Itu daging macan tempo hari"
HOEK!!!
Laras langsung berlari kekamar mandi membuang makanan yang baru dimakannya. Nata tertawa senang karena berhasil membalas tingkah Laras. Perempuan itu kembali dengan wajah pucat dan tidak berani lagi menganggu dirinya.
"Makan" ajak Nata.
Laras menggeleng, kapok.
"Ya sudah, aku hanya kasihan pada anak kamu, dia pasti tersiksa dapat ibu macam kamu"
"Tidak usah bawa-bawa anak aku!"
Beberapa hari ini Nata agak kurang mengasari Laras karena dipikir-pikir hanya pria bancilah yang kasar pada perempuan yang tengah hamil meskipun yang hamil itu adalah perempuan antah barantah dan bukan pula anaknya. Selain itu pengakuan Laras yang mengatakan kalau dirinya bukan kekasih Nabil membuat amarah Nata sedikit mereda. Yang membuat ia selalu kesal adalah tingkah Laras yang sering menganggunya. Pria itu menyudahi makanannya dan mengambil sebatang rokok.
"Habis ini kamu silahkan pergi dari sini selagi aku masih berbaik hati"
Brak!!
"Apa?!!!" tanya Laras dengan menggebrak meja "kamu menyuruh aku pergi ketengah hutan sendirian? memangnya siapa yang menculik aku dan dibawa kesini?"
Nata curiga kalau Laras itu mengandung anak singa. Perempuan itu kalau marah melebihi galaknya singa hutan. Kalaupun Laras tersesat kehutan, penghuni hutan pasti auto mingkem.
-
__ADS_1
-
Hari itu Nata mempelajari peta mencari jalur laut yang akan dilewatinya nanti. Ia akan menjemput barang ke perbatasan untuk dijual kembali. Selain itu ia juga memeriksa laporan dari beberapa kantornya yang juga sedang maju pesat. Ternyata mengumpulkan uang banyak itu sangat mudah baginya. Kekakayaannya melimpah hanya saja kehidupannya masih terasa kosong.
Ia melihat cctv rumah yang terhubung pada layar didepannya. Keadaan disekeliling aman, anak buahnya sedang mengobrol berjaga didepan. Para pekerja sedang mengerjakan pekerjaan mereka dan semuanya sedang sibuk. Ia menyelusuri ruangan dan beralih ke dapur. Disana ada seseorang yang menyusup membuka kulkas untuk mencuri buah. Perempuan itu makan buah seperti makanan terenak didunia.
Ia mematikan seluruh layar dan menggeliat punggungnya terasa pegal ia butuh udara segar untuk menghilangkan kejenuhan sesaat. Ia memanggil anak buahnya untuk menyiapkan senapan untuk berburu kehutan.
Mereka pergi dengan mobil pick up sampai kejalan besar. Dari sana mereka baru masuk kehutan dengan jalan kaki.
Nata adalah sniper handal. Sekali membidik dipastikan mangsanya menggelepar ditanah. Ia membidik hewan apa saja yang ia jumpai.
Empat ekor kijang sudah berhasil di bawa anak buahnya kemobil untuk pesta nanti malam. Nata kembali mencari mangsa. Ia melihat dedaunan bergerak di depannya. Ada seekor beruang disana. Ia membidik, namun dari arah lain ia mendengar suara dahan pepohonan berisik. Nata melihat ke arah pepohonan, sebuah bayangan totol hitam putih berekor panjang meloncat kearahnya dengan kecepatan luar biasa. Nata kaget dan mengulingkan tubuhnya ditanah. Beruang yang ada didepan merasa terganggu dan menyerang.
Nata menelungkup ditanah menghindari cakaran didada dan perut. Macan tutul mencakar punggungnya. Dengan sekuat tenaga Nata membalikkan tubuhnya dan langsung menembak. Dari arah lain juga terdengar suara tembakan bertuntun. Dua ekor hewan buas itu tergeletak diatas nata. Anak buahnya bergegas membantu.
"Tuan terluka parah! cepat bawa dia!!!"
Para anak buah itu merasa bersalah karena lalai menjaga Nata. Gara-gara mengantar kijang ke mobil mereka hampir saja kehilangan tuannya.
Nata dilarikan kerumah, semua penghuni rumah menyambutnya dengan panik apalagi dokter yang bertugas disana juga sedang pulang.
."Siapkan hely, tuan harus diobati secepatnya!!!"
Laras mendengar suara riuh diluar ikutan melongok. Ia melihat Nata di ditidurkan dimeja beroda dengan posisi menelungkup. Punggungnya berlumuran darah.
"Dia kenapa?" tanya Laras.
"Tuan terluka parah dan harus cepat ditangani"
Laras adalah mahasiswa kedokteran, sedikit ia mengerti cara menangani korban luka. Jika pria itu dibawa ke rumah sakit mungkin ia makin banyak kehilangan darah. Disini ia melihat ada barang-barang dan obat-obatan milik dokter pribadi Nata. Mungkin ia bisa menolong pria itu sebelum dokternya kembali. Laras meminta Nata untuk dibawa kedalam.
__ADS_1
Setelah Nata ditelungkupkan di meja pasien, Laras meminta seseorang untuk membantunya menangani luka Nata. Pria itu meringis ketika Laras membersihkan lukanya.
"Kau tidak berniat membunuh aku kan?" tanya Nata.