
Nabil menarik Airin dengan emosi. Wanita itu hanya bisa pasrah saat Nabil memarahinya habis-habisan.
"Kamu mengatakan ibu kamu sudah meninggal karena bunuh diri tapi rupanya dia masih hidup dan mencelakai kami semua, jangan-jangan kamu juga terlibat dalam hal itu" tuduh Nabil.
Airin menatapnya nanar.
"Katakan apa kau tau hal itu?"
Airin tidak menjawab, ia beranjak dari depan Nabil dengan langkah lesu.
"Katakan! apa kamu ikut?" Nabil meraih bahu Airin dan mengguncangnya kasar. Wanita itu masih tidak bersuara. Tatapannya lurus ke Nabil.
"Kalau aku tau ibu aku masih ada, aku tidak akan begini! kamu tau bagaimana aku bersedih dengan semua kehidupan yang aku jalani, ..aku memang tidak suka pada adik aku sendiri tapi aku tidak sekejam itu" Airin sangat sedih dengan apa yang dituduhkan padanya. Ia sendiri tidak pernah bertemu dengan ibunya dan baru sekarang ia mengetahui hal ini. Ia juga tidak kenal dengan Danil. Mungkin saja ibunya hanya melihatnya dari jauh tanpa mau mengenalkan diri padanya. Ia tidak bisa berbuat banyak sebelum ia memastikan sendiri.
"Kau hanya melihat aku dari sudut pandang kebencian kamu tanpa tau bagaimana aku yang sebenarnya, ...disaat aku bahagia dengan kehidupan aku dengan keluarga aku, aku mengetahul hal yang mereka sembunyikan, kamu tidak akan pernah tau rasanya,....ketika aku punya seseorang yang aku harapkan dia tidak bisa menjaga aku dari temannya sendiri...kamu menyalahkan aku? sadar! disini kamu juga sama seperti mereka!!" Airin menuding Nabil dengan linangan air mata.
"Kamu jangan bawa masa lalu, kamulah yang tidak bisa menjaga diri! kau menjadi hina oleh tingkamu yang tidak punya kendali" ucapan Nabil hampir lepas kontrol. Mulutnya hampir saja melontarkan kata-kata kotor. Untungnya ia bisa menguasai diri. Antara dia dan Airin sudah ada Laras yang tidak lain adalah adik Airin sendiri.
"Yang salah didunia ini hanya aku, dan yang hina hanya aku! kau puas?"
"Iya, aku puas! berkali-kali terlepas dari lingkaran nafsu yang kau buat,..untuk itu aku ingatkan padamu! jangan ganggu aku dan Laras atau aku lupa bahwa kau adalah kakaknya Laras, aku juga bisa apa saja terhadap kamu termasuk mengirim kamu kebelahan dunia yang aku suka"
ancam Nabil. pria itu meninggalkan Airin yang terisak. Mungkin dengan begini perempuan itu bisa sedikit berubah.
Nabil meninggalkan perempuan itu tanpa menoleh lagi kebelakang sama seperti meninggalkan masa lalunya. Langkahnya sudah mantap. Ia menemui Laras dikamarnya.
"Ras!!"
Tidak ada sahutan. Ia memeriksa keseluruh ruangan, tidak ada siapa-siapa.
"Ras!!"
Nabil mencari Laras kelantai bawah dan bertanya pada pelayan yang ada disana.
"Nyonya barusan pergi dengan den Alan, buru-buru" beritahu pelayan tersebut.
"Kemana?"
"Tidak tau tuan"
Nabil menjadi panik, ia mencoba menelepon tapi tidak diangkat. Ia sudah cemas Laras kabur lagi. Apa karena Laras melihat dia bersama Airin lantas pergi.
"Apa saja kerja kalian? kalian disuruh menjaga istri dan anak aku! kenapa dia bisa pergi dari sini??' pria itu marah-marah pada semua anak buahnya. Ia sudah trauma ditinggal Laras sekarang terjadi lagi.
***
Rumah-rumah permanen dekat aliran sungai itu terlihat asri diantara pokok pohon kelapa yang melambai-lambai ditiup angin. Bocah kecil itu berlari menyisiri tanah yang berpasir dengan gembira.
"Ayo ibu kejar aku!"
__ADS_1
Perempuan itu tersenyum melihat anaknya sangat senang.
Dulu ia juga suka bermain disana bersama kakaknya berlarian diantara pepohonan dan mandi diair sungai yang mengalir jernih.
"Ibu apa kita pulang?"
Bocah itu senang kembali kesana karena area tempat bermain yang luas dan sejuk. Laras mengangguk. Di sana ia membawa diri ketika di hujat orang-orang hamil tanpa suami.
Rumah panggung kayu berhalaman luas. Ada beberapa makam disana, makam keluarga besarnya dibawah pohon jambu air yang sedang berbuah lebat tumbuh disamping rumah.
Pintu rumah itu terbuka lebar. Ruangan tengah berbatasan langsung dengan dapur.
Laras tertegun dipintu dapur berlantai tanah melihat seorang wanita berdaster coklat sedang menyalin air dari kendi ke dandang yang ada ditungku.
"Ibu!!" panggil Alan pada Laras karena ada orang asing disana.Wanita itu menoleh, wajahnya berubah ketika melihat Laras bersama anaknya.
Serta merta Laras melepaskan apa saja yang ia bawa dan berlari kepelukan wanita itu.
"Kamu baik-baik saja" bisik wanita itu setelah pelukan mereka lepas. Laras mengangguk.
Perempuan itu melambaikan tangan pada Alan "sini cucu nenek"
"Alan, salim sama nenek"
Bocah itu menurut.
"Kamu sudah gede nak, maafkan nenek yang tidak tau keadaan kamu" Maya memeluk cucunya.
"Kapan mama kesini ma?" tanya Laras penasaran karena sebelum dia baranjak dari sana mamanya belum datang.
"Baru beberapa hari Ras, kata tetangga kamu baru saja pergi, mereka menceritakan bagaimana keadaan kamu disini pada mama untungnya mereka ada yang menyimpan nomor kamu"
"Iya ma, begitu mama telepon aku langsung kesini"
Maya mengira anaknya pergi darinya karena kecewa dengan keadaan ditambah lagi pertikaiannya dengan Riyanto tidak kunjung usai makanya dia juga memilih pergi.
Setelah Laras menceritakan bagaimana keadaanya barulah Maya lega kalau putrinya sudah baik-baik saja.
"Aku sudah kembali ke kak Nabil ma, ada kak Airin juga disana, aku mengasih kak nabil kepercayaan sekali lagi" beritahu Laras.
Semarah-marahnya Maya pada Airin tapi ia tidak sanggup membenci anak itu. Dia yang membesarkan Airin sejak dari dalam bendongan.
"Bagaimana keadaan kakak kamu?"
"Kak Airin baik-baik saja ma"
"Syukurlah..."
"Mama sendiri bagaimana?"
__ADS_1
"Mama juga baik- baik saja, sebelumnya mama berkerja di kebun teh, papa kamu juga sering kesana menanyakan kalian kalau saja ada diantara kalian yang kebetulan menemui mama"
"Bagaimana keadaan papa ma? aku juga sudah lama tidak ketemu papa"
"Papa kamu sudah berhenti kerja kantoran dan sekarang membuka warung kecil- kecilan tidak jauh dari rumah kita yang dulu"
"Mama dan papa sudah baikan?" tanya Laras penuh harap
Maya menggeleng "mama dan papa sudah nyaman begini, dengan seperti ini mama dan papa tidak ribut lagi, saling menghargai satu sama lain, tidak ada membahas hal yang rumit"
Laras menghargai keputusan orang tuanya meskipun sedih. Tapi ia tidak ingin sok tau. Orang tuanya lebih tau dengan apa yang mereka jalani.
Malam itu Laras dan Alan nginap disana. Dikamar bagian depan. Rumah itu diterangi lampu minyak seadanya dan udara terasa sangat sejuk. Laras mengajak Alan menyembunyikan diri dibalik selumut tebal.
Tengah malam pintu rumah itu diketuk oleh seseorang dari luar.
Laras dan Maya terbangun dan berkumpul diruang tengah saling pandang.
"Siapa sih ma yang menggedor pintu tengah malam gini?" Laras melihat ke jam dinding, pukul setengah dua dinihari.
"Lihat dulu Ras, siapa tau penting tapi kita juga harus waspada"
Laras melihat ada sapu, pentungan dan alat-alat lainnya jika keadaan memungkinkan. Laras mengambil sapu, siap dibelakang mamanya yang membuka pintu dengan pelan menggunakan lampu minyak.
Diluar sangat gelap tidak bisa mengenali wajah orang. Maya mengamankan lampu minyak ditaangannya agar tidak padam oleh tiupan angin. Kalau sampai lampu itu padam habislah mereka siapa tau yang datang adalah penjahat.
"Ini aku!"
Suara Nabil terdengar dalam kegelapan. Pria itu menaiki jenjang rumah yang terbuat dari kayu untuk masuk.
"Nabil, mama kira siapa?"
Nabil menyalami Maya menanyakan kabarnya lalu beralih pada Laras untuk minta maaf. Wajah pria itu sangat cemas.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kamu kecewa, aku dan Airin hanya membahas tentang mamanya itu saja, aku tidak mungkin keluar batas lagi, kamu percaya aku! aku tidak bohong"
Dahi Laras berkerut, tidak mengerti. Nabil tiba- tiba langsung membahas hal yang membagongkan.
"Apaan sih?"
"Kamu jangan marah"
"Siapa yang marah?" Laras tidak bisa mengelak dari Nabil yang memeluknya.
"Jangan tinggalkan aku lagi"
"Aku buru-buru mendengar kabar mama aku, aku mencari kamu tapi kamunya tidak ada, aku meninggalkan pesan di atas meja"
Nabil yang sudah ketakutan menjadi bengong "aku tidak menemukan apa-apa"
__ADS_1
"Kurang teliti kali....lagi pula ngapaian bawa pasukan yang segitu banyaknya seperti mencari penjahat" Laras melihat anak buah Nabil dihalaman.
Nabil mengusap kepalanya dengan ringisan. Sudah pasti mereka ditugaskan untuk mencari Laras yang jago menghilang.