
Malam hari udara dihutan itu sangat dingin dan sekelilingnya gelap gulita. Dari kejauhan terdengar suara binatang hutan yang berebut mencari makanan. Suara auman harimau, babi hutan, lolongan serigala, suara monyet yang lari dari pemangsa diselingi oleh suara jengkrik. Mungkin rantai makanan sedang berproses ditengah hutan itu.
Tidak jauh dari rumah ditengah hutan itu terhampar lautan lepas dengan teluk kecil yang didatangi oleh perahu musiman. Tidak ada nelayan yang berani kesana karena area yang sangat ekstrem. Selain ombaknya tinggi, laut disana juga sangat dalam. Walapun ada yang tersesat kesana mereka akan pulang tinggal nama karena teluk itu diamankan oleh para anak buah mafia bersenjata yang tidak ingin keberadaan mereka diketahui.
Teluk itu adalah teluk berbahaya bagi orang asing. Segala aktivitas disana terpantau rapi termasuk jalur lautan yang mereka lewati untuk menyeludupkan barang.
Beberapa buah kapal menepi dalam kegelapan. Tiga buah sampan kecil yang menunggu ditepi pantai bergerak menjemput penumpang kapal itu. Nata yang berpakain serba hitam dan bersenjata lengkap keluar dari kapal dan melompat kesampan. Ia bersiap dengan pistol ditangannya.
Sebuah helly berputar diatas menjemput Nata dan menunggunya didaratan. Tidak lama kemudian sebuah hely datang lagi mendarat dekat hely Nata. Dari sana tersebut keluar seorang pria bertubuh tambun dikelilingi oleh para anak buahnya membawa koper.
Pria tersebut saling berhadapan dengan Nata dan menyerahkan koper yang dibawa anak buahnya. Setelah Nata memeriksa uang
itu dan deal ia mengasih intruksi ke anak buahnya untuk memindahkan barang yang ada dikapal ke hely pria gemuk tersebut. Dalam waktu singkat pekerjaan itu selesai dan hely itu terbang di atas gelapnya hutan.
Nata yang hendak kembali kekota dengan tiba-tiba ingat dengan perempuan yang meludahinya tiga hari yang lalu.
Tiga hari yang lalu ia meninggalkan perempuan itu sedang terbaring lemah ditempat tidur dengan mata terpejam. Tangannya dijejali infus. Dokter pribadi yang selalu ikut kemanapun ia pergi ditugaskannya untuk membuat perempuan itu siuman. Dokter itu menemukan sebuah dokumen dibalik baju perempuan itu. Ternyata nama perempuan itu adalah Laras. Nama yang jelek! apa tidak ada nama lain selain itu? Nata mencibir seolah membalikkan ejekan Laras padanya yang menuduhnya kurus.
Dari dokter itu pula Nata tau kalau Laras sedang hamil. Ia menunggu perempuan itu menuduh dirinya ayah dari anak itu karena perempuan itu juga menuduhnya mencabulinya.
Nata berpikir, wanita akan jadi lemah karena itu. Senyuman Nata tercipta dari bibirnya membayangkan wanita itu selalu memohon padanya agar tidak dibunuh. Sekaligus ia akan membuat Nabil berlutut minta maaf padanya.
Nata sangat puas, mereka akan menyesali perbuatannya. mereka yang menghalanginya saja bisa lenyap tanpa bekas apalagi mereka sendirilah yang mengganggu kehidupannya.
Ketika Helly yang membawa Nata tiba diatap rumah dan ia segera turun mencari perempuan tempo hari. Ia memeriksa cctv yang terhubung kesetiap sudut rumah. Ia melihat punggung seorang perempuan yang terikat disebuah kursi dalam sebuah ruangan.
__ADS_1
"Dia selalu mencoba untuk kabur tapi kami menghalanginya" lapor anak buah Nata.
"Kenapa tidak dibiarkan saja, banyak hewan buas menunggunya"
"Kami tidak berani mengambil keputusan" ujar pria itu takut.
Nata beranjak dari sana menuju ruangan tempat Laras berada. Ia melipat tangannya didada tersenyum menyeringai pada Laras.
"Akhirnya kau datang juga pria kurus, anak buah kamu sangat keterlaluan"
"Mereka begitu karena perintah ku, apa yang terjadi kepadamu adalah kemauan aku"
"Lepaskan aku!!" Laras meronta minta ikatannya dilepaskan.
Tangannya terasa perih oleh tali yang mengikatnya. Ia sudah capek duduk berjam-jam dikursi ini. Makan dan tidur disana.
melihat pertunjukan yang menarik" Nata menekan bell room. Dalam waktu singkat semua anak buahnya berkumpul disana.
"Siapkan wine, aku ingin pertunjukan yang bagus malam ini"
"Ya boss, kita akan persiapkan, boss ingin apa?"
"Kalian,...sembilan belas orang! dan wanita itu didepan aku"
Otak Laras ngeleg sebentar begitu juga dengan para anak buahnya. Sembilan belas orang dengan satu perempuan yang sedang lemah. Pria kurus itu pasti sakit jiwa.
__ADS_1
Kesembilan belas orang pria itu melihat pada Laras semuanya. Mungkin tidak semuanya yang bernafsu tapi demi perintah sang boss. Para anak buah itu maju demi perintah si boss.
Ini mengerikan, lebih mengerikan dari pada ia dimasukkan kedalam kandang harimau. Bagaimana bisa ia bersama sembilan belas orang pria. Ini namanya bunuh diri. Tidak mungkin ia melawan para pria itu. Pria yang patuh pada majikannya dan tidak akan berani melanggar perintah. Gilanya Nata yang menyuruh mereka berbuat nyeleneh. Otak dan kejiwaan pria itu sangat parah.
"Diam kalian disana, jangan mendekat!" teriak Laras panik. Tidak terbayangkan olehnya ia dipermalukan sedemikian rupa.
Para anak buah Nata tidak mendengar meskipun laras setengah gila menyuruh mereka untuk berhenti. Ikatan talinya dibuka dan ia didorong ke tengah ruangan. Sedangkan Nata duduk santai disebuah kuris dan disuguhi wine.
Laras tidak akan mampu melawan mereka apalagi mereka adalah pria terlatih dan juga bengis. Satu-satunya yang bisa menghentikannya adalah sikurus itu jangkung itu.
"Aku mohon, lepaskan aku! aku mohon! aku mohon!" Laras menjatuhkan diri didepan Nata.
Pria itu tertawa menyeramkan. Ia mengguyur kepala Laras dengan wine yang ada ditangannya "dalam hidup seorang Nata tidak pernah menerima sebuah permohonan, aku bukan seorang yang plin plan"
Kehormatan Laras berada diujung tanduk. Ia lebih memilih mempertahankan harga dirinya dari pada nyawannya. Percuma ia bernyawa tapi harga dirinya sudah tidak ada. ia melihat sebuah pis*u lipat dibalik kemeja hitam salah seorang pria yang berada didekatnya.
"Aku mohon tuan, jangan sentuh aku! bagaimana perasaan kamu kalau istrimu atau anak perempuan kamu diperlakukan sedemikian rupa?" tanya Laras pada pria berkameja hitam itu.
"Maaf nona aku belum pernah menikah" jawab pria itu datar.
Laras salah berkata ia mengira pria itu sudah menikah karena wajahnya sudah terlalu dewasa. Laras mendekati pria itu dan mencabut pis*u lipat yang ada dipria itu. Sebenarnya pria itu bisa dengan mudah menghalangi Laras karena ia adalah pria terlatih.
Dengan cepat Laras mengacungkan pisau itu pada Nata "lepaskan aku! atau kau aku bun*h"
Pria itu masih santai meminum wine ditangannya lalu matanya mengarah tajam pada Laras "lihat disekitar kamu, lihat siapa kamu, pantasnya begini" Nata membalikkan tangan Laras hingga pis*au itu mengarah balik.
__ADS_1
Mata Laras membola melihat mata pisau itu bergerak mendorong mendekati lehernya. Jaraknya hanya tinggal beberapa senti lagi nyaris menyentuh lehernya.
"Harusnya kamu yang mati"