Legenda Penguasa Dunia

Legenda Penguasa Dunia
Hutan Kematian


__ADS_3

Arthur berdiam cukup lama menatap hutan yang ada dihadapannya, “Apa ini hutan kematian?” gumam Arthur sambil melihat sekeliling.


Arthur merasa hutan yang ada di depannya sudah sangat berbeda dengan terakhir kali di lewatinya, sekarang orang biasa tidak mungkin bisa keluar masuk seenaknya.


Dunia sekarang cukup berbahaya untuk manusia tanpa memiliki kemampuan bertarung untuk menjaga diri dari serangan monster maupun manusia yang bisa membahayakan nyawa mereka.


Bahkan banyak orang yang harus berjuang untuk bertahan hidup dari kelaparan dan lingkungan yang sangat berbahaya, Arthur mengingat semua pengalaman yang di jalaninya tiga tahun lalu.


Dunia yang sekarang banyak mengalami perubahan, banyak makhluk lain bermunculan menyerang manusia mulai dari goblin, orc, dan ras lain saling menyerang untuk bertahan hidup.


“Setelah kejadian itu, aku hanya harus menjalani hidupku dengan baik sekarang.” sambil terus berjalan tetapi langkahnya terhenti.


Arthur merasa ada kehadiran makhluk yang mendekatinya. jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 meter di depan.


Arthur berjalan menuju makhluk yang ada di depannya. sosok itu kemudian terlihat, sebuah sosok makhluk berbadan hijau dengan bertelanjang dada.


“Apa itu goblin?” batin Arthur terus memandang ke depan menurutnya goblin yang ada dihadapannya sedikit berbeda dengan yang pernah di temuinya.


Goblin sebagai makhluk kecil yang terus-menerus mengganggu dan memiliki berbagai kemampuan magis, mereka juga sangat serakah, cinta emas atau jenis perhiasan dan menyukai perempuan.


Goblin merupakan makhluk yang buas dan ganas, mereka tinggal di gua-gua yang gelap atau di bawah tanah. Ras mereka diidentikkan dengan makhluk jahat dan merupakan petarung yang brutal.


Mereka makhluk berbadan tegap seperti manusia, berkulit hijau, telinganya lancip, dan berwajah sangar dan mengerikan. Kadang-kadang mereka menculik bayi dan memangsa manusia.


Arthur menatap goblin itu, dengan menarik pedang bayangan di samping melalui penyimpanan ruangnya.


Arthur merasa ini cukup bagus untuk pemanasan sebelum mencapai kota yang ada di balik hutan kematian.


Bagaimanapun, monster yang memiliki niat jahat harus di musnahkan agar tidak membahayakan orang lain.


Arthur memegang pedang, mengayunkan pedang bayangan ke arah goblin di depannya.


Pedang mengenai leher goblin, membuatnya langsung mati dengan kehilangan kepala.

__ADS_1


Arthur kembali mengayunkan pedangnya, setelah melihat beberapa goblin ingin menyerang dengan senjata pemukul yang terbuat dari kayu.


Serangan Arthur membunuh semua goblin yang mendekatinya tanpa tersisa satupun, Arthur merasakan kehadiran yang mendekat ke arahnya dengan cepat.


“Apa ada monster lain lagi?” gumam Arthur.


Dirinya merasa banyak yang datang ke arahnya, terus mendekat. dia melihat ke arah semak yang ada di depannya


Dari arah semak-semak, puluhan goblin keluar dengan mulut di penuhi air liur, mata menatap yang mengerikan dengan tubuh hijaunya. serta tongkat pemukul di tangan.


Puluhan goblin menatap Arthur dengan buas, saling tersenyum aneh seakan mengatakan pemuda di hadapan mereka adalah makan yang siap untuk di santap.


“kekekek.”


Puluhan goblin mendekat dan menuju arah Arthur dan mengepungnya, Arthur hanya berdiri dengan tenang sambil memainkan pedangnya.


Satu goblin kemudian berlari ke arah Arthur, mengarahkan pemukulnya.


Arthur menghindarinya, memberi Arthur kesempatan untuk mengayunkan pedangnya lagi ke arah leher goblin itu.


Arthur menebas dengan mudah, sehingga kepala goblin jatuh ketanah.


Arthur kemudian mundur selangkah mempersiapkan dirinya untuk menebas semua goblin yang datang ke arahnya.


“Akan ku bunuh kalian semua!”


Arthur berlari maju ke arah beberapa goblin, mengarahkan pedangnya dengan santai memotong goblin yang ada didekatnya.


Dengan tersenyum aneh, goblin yang lain tidak tinggal diam. mereka menyerang Arthur, namun Arthur berhasil menghindar dan membunuhnya.


Arthur sudah membunuh hampir dua puluh goblin, dia mengayunkan pedang ke samping untuk membersihkan pedangnya dari darah goblin.


Sudah banyak goblin yang tergeletak di tanah, sisanya menatap buas terhadap Arthur.

__ADS_1


Arthur kemudian memandang goblin yang tersisa kemudian dirinya kembali menyerang satu persatu goblin yang tersisa.


Melihat situasi yang merugikan, goblin yang masih hidup mencoba untuk kabur, menyadari kalau tidak bisa mengalahkan pemuda yang ada di hadapan mereka.


Arthur memandang goblin yang kabur, dengan teknik langkah bayangan dia mengejar satu persatu goblin yang kabur.


Dengan gerakan cepatnya menghentikan goblin yang berusaha kabur dan menebasnya, membuat semua goblin mati dalam waktu singkat.


Arthur kemudian melihat sekeliling yang dipenuhi genangan darah merah goblin. Tubuhnya tidak terluka, meski pakaiannya telah kotor dan terdapat darah disekitarnya.


Setelah beristirahat sebentar, kemudian Arthur bangkit dan berjalan menyusuri hutan kematian yang cukup luas.


Arthur memutuskan jalan lurus ke depan untuk keluar dari hutan kematian, dalam perjalanan, Arthur telah membunuh kurang dari 500 monster yang di temui dari goblin, serigala, Orc, dan makhluk yang berniat membunuhnya.


Dari kejauhan, sebuah dinding besar dan kokoh terlihat. dengan beberapa orang yang keluar masuk kota.


Dan menara jaga yang tinggi di setiap dinding. membuat Arthur yakin jika dia telah sampai di sebuah kota.


“Akhirnya aku menemukan kota.” gumam Arthur, kota yang pernah Arthur datangi saat dia pergi meninggal kota Alpa.


Sudah Beberapa tahun kota Arcana terus berkembang, semua penduduk bekerja sama memperkuat pertahanan kota.


Arthur berjalan mendekat, terlihat dinding yang kokoh dan tinggi. Serta para prajurit yang menjaga gerbang kota.


Sebuah papan besar tergantung di atas gerbang kota, tertulis dengan jelas nama kota ini.


kota Arcana


Kota Arcana adalah salah satu kota yang ada di kerajaan Asion, mereka sudah mulai memperkuat pertahanan wilayah dari serangan monster yang datang.


Arthur tidak menyadari baju yang dia kenakan sudah usang, terlihat seperti pengemis tetapi Arthur sudah terbiasa dengan itu.


***

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca.


Dukung dengan Like dan Vote.


__ADS_2