Legenda Penguasa Dunia

Legenda Penguasa Dunia
Lingkaran Dimensi


__ADS_3

Seorang pria yang berumur 60an berjalan mendekati Arthur, pria tua itu sedikit takut saat berjalan mendekati Arthur. “Aku harus hati-hati dengan pemuda ini.”


Pria itu adalah ketua penyihir yang akan menjelaskan tempat dan waktu diperkirakan munculnya dimensi sebagai penghubung dunia mereka dengan dunia lain.


Arthur menatap pria yang berjalan mendekat padanya, setelah memperkenalkan diri. ketua penyihir memberi tahu kalau perkiraan lokasi munculnya berada di timur kota Terion dan gelombang serangan akan muncul besok pagi.


Ketua penyihir itu sedikit berkata, dia berusaha tidak menyinggung Arthur. Ketua penyihir itu pamit setelah menjelaskan semuanya pada Arthur.


Setelah ketua penyihir pergi, Arthur dan Rias berencana kembali ke kota Terion. Mereka berpapasan dengan tiga pendekar yang ingin mengetahui tempat munculnya serangan.


Ketiga pendekar hanya melewati Arthur tanpa berani berbicara, menyadari Arthur bisa saja membunuh mereka.


“Tuan Arthur, siapa mereka?” Rias mendekat, bertanya pada Arthur.


Arthur kesal melihat Lavin, dia berjalan pergi dengan merapatkan gigi karena menahan emosinya.


Lavin mendekati Rias yang sedang berdiri, dia langsung memegang tangan Rias mengajak berkenalan. “Aku seorang pendekar, Lavin Charlote.”


“Tuan Lavin, anda tidak perlu mendekati gadis ini.” Nina memukul tangan Rias yang sedang menjabat tangan Lavin.


Rias menatap Arthur yang tetap berjalan meninggalkan dirinya. “Maaf, saya harus menyusul tuan Arthur." Rias berlari menyusul Arthur


Arthur masih bersabar, tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dia sudah tidak bisa menahan emosinya.


Dia menarik tangan Rias mengajak pergi dari tempat itu, Lavin berteriak saat Arthur pergi bersama Rias. “Setidaknya, kamu tahu rumor mengenai Arthur kan?.”


“Rumor.” gumam Rias sambil mengikuti langkah Arthur.


“Tunggu saja akan aku habisin kalian jika menghalangi jalan ku.” batin Arthur berjalan meninggalkan mereka.


Malam hari di kamar penginapan, Arthur membuatkan obat untuk Rias. Penyakit yang di derita Rias belum sembuh tapi rasa sakitnya sudah sedikit berkurang.

__ADS_1


“Apa terjadi sesuatu dengan pendekar lainnya?.” Rias bertanya karena tidak memgetahui apa-apa tentang tuannya.


“Sebaiknya kamu cepat tidur, besok kita akan melakukan pertarungan yang sangat panjang.” Arthur tidak menjawab.


Pagi hari semua pendekar berkumpul di alun-alun kota Terion untuk bersiap berperang melawan monster dari dunia lain.


Arthur memperhatikan sekelilingnya, hanya dia dan Rias saja yang tidak memiliki kelompok seperti tiga pendekar lainya.


“Tuan Arthur, saya merasa sangat bersyukur karena sudah bertemu dengan anda. mengobati penyakit saya, serta memberi makan dan merawat saya. Dan juga anda juga mengajari saya cara untuk bertahan hidup.” Rias menatap punggung Arthur.


Rias menutup mata, membayangkan semua perlakuan Arthur padanya. Dia tidak akan menyesal jika dia harus mati di pertarungan ini.


“Kemanapun anda pergi saya akan terus mengikuti anda.” Risa berlutut dihadapan Arthur dengan percaya diri, memperlihatkan bentuk kesetiannya.


“Baiklah.” Arthur menepuk pundak Rias.


Arthur menggendong Rias dengan langkah cepat, dia melompati pohon menuju sebuah desa yang tidak jauh dari kota Terion dan mereka sekarang berdiri di atas pohon


Arthur melihat ketiga pendekar dan anggota mereka berlari ke timur, mereka menuju tempat dimana makhluk dunia lain muncul.


“Tuan Arthur, di sana?” Rias menunjuk kearah desa yang mendapat serangan dari makhluk dunia lain.


Perkiraan penyihir kerajaan sedikit meleset, terdapat dua lokasi munculnya monster yang menyerang. Monster sudah tidak keluar lagi dari lingkaran dimensi, jumlah monster yang keluar cukup banyak.


Arthur melihat langit beberapa monster yang terbang dan jatuh kebawah desa. Dua jenis monster yang keluar dari lingkaran dimensi, lebah merah dan pasukan undead terlihat hanya tulang dengan zirah dan pedang.


Beberapa rumah mulai hancur tertimpa undead yang jatuh dari atas, para penduduk berlari mengambil senjata berupa alat petani yang biasa mereka gunakan di ladang.


“Kita ke desa itu.” Arthur berlari di ikuti Rias, mereka akan melindungi penduduk desa.


Mereka tiba di desa, Arthur langsung mendekati penduduk yang di serang undead. dia menahan serangan dengan sihir pelindungnya, dari belakang Rias menebas kepala undead hingga terlepas.

__ADS_1


Rias membantulah para penduduk mengungsi ke tempat yang lebih aman dan Arthur mencoba menghabisi mereka semua.


Arthur berlari sambil menarik pedang bayangan keluar mendekati penduduk yang terkepung undead, dia menebas satu persatu undead yang ada di depannya.


“Pendekar datang menyelamatkan kita!.”


“Akhirnya bantuan datang!.” ucap para penduduk bergantian.


“Semuanya dengarkan, aku akan membukakan jalan untuk kalian agar kalian bisa pergi mengungsi ketempat yang lebih aman.” Arthur berkata dengan lantang sambil terus menyerang undead yang mendekat.


Arthur berlari menyerang semua monster dengan pedang bayangannya, sehingga para penduduk dapat pergi dengan selamat. Setelah merasa cukup aman para penduduk berlari pergi meninggalkan desa mereka.


Rias memandu para penduduk untuk menjauh dari desa, mereka semua pergi ketempat yang lebih aman.


Arthur membunuh semua undead yang ada di desa, undead kembali keluar lingkaran dimensi yang ada di langit.


“Berapa banyak yang harus aku habisin.”


Arthur menatap sekeliling mencari penduduk yang masih tersisa di dalam desa.


Keadaan desa semakin berbahaya ratusan undead memenuhi desa, untuk pendekar dengan biasa mereka akan mati jika harus menghadapi semu undead yang datang.


“Dimana asal suara itu.” Arthur mendengar suara penduduk yang berteriak meminta tolong, dia berlari sambil menebas semua undead yang menghalang jalannya.


Arthur sedikit kesulitan mencari asal suara karena suara undead yang berjatuhan dari langit dan zirah undead yang berbunyi saat berjalan.


***


Terima kasih sudah membaca.


Dukung dengan Like dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2