Legenda Penguasa Dunia

Legenda Penguasa Dunia
Penaklukan Labirin


__ADS_3

Dalam penaklukan Labirin ini hanya Arthur saja yang terlihat lemah, selebihnya sudah mencapai pendekar peringkat perak.


Sekian lama mereka menelusuri labirin tersebut tepatnya di lantai 10, lantai yang belum pernah tersentuh pendekar dan akhirnya mereka bertemu dengan monster pertama yang akan mereka hadapi.


Monster laba-laba yang muncul dengan jumlahnya begitu banyak dan mereka juga bertemu dengan Ratu laba-laba yang memiliki tubuh sangat besar.


Tim Amano mulai mengambil posisi dan bersiap untuk memulai Penaklukan labirin. Gidan maju ke depan sambil mengangkat perisainya yang cukup besar seukuran tubuhnya untuk menahan laba-laba yang mulai menyerang.


Rin, Amano dan anggota lainya juga menarik senjata mereka untuk melawan monster yang datang berbeda dengan Arthur, dia hanya melihat sambil menggendong ransel besarnya.


Amano menghadapi Ratu laba-laba sendirian, dia mengayunkan pedangnya yang berukuran besar membuat Ratu laba-laba terluka.


Pertarungan Amano cukup lama hingga dia berhasil memotong salah satu kaki Ratu laba-laba dan menusuk kepala hingga mati.


Rin mengayunkan pedangnya membunuh laba-laba yang mendekat di bantu anggota yang lain.


Arthur hanya berdiri melihat sekitar dan sesekali membantu Rin yang bertarung, tanpa disadari Rin.


Mereka semua bertarung dengan monster laba-laba sampai akhirnya menghabisi semua monster yang datang menyerang mereka.


Amano dan timnya berhasil melewati satu persatu labirin dengan mudah dan membunuh banyak monster yang di temui sepenjang perjalanan.


Mereka semua tiba di sebuah ruangan yang cukup luas memutuskan untuk beristirahat di sana.


Arthur hanya mengikuti dari belakang sambil menggendong ransel besar yang di berikan kepadanya.


Arthur merasakan ada monster yang mendekat untuk menyerangnya, kemudian dia menghindari serangan monster dengan mudah dan berpura-pura terjatuh.


Datang Amano mengayunkan tiga gerakan pedangnya membelah monster yang muncul menjadi tiga bagian.


Arthur sudah tahu kalau ada Amano yang akan membunuh monster tersebut.


“Aku akan melindungi semuanya.” Amano berbicara dengan lantang.


Arthur hanya melihat dari belakang karena hanya bertugas mengangkat barang bawaan mereka, jadi dia tidak memiliki niat untuk membantu bertarung.

__ADS_1


Salah satu anggota memberikan pedangnya untuk membantu Arthur jika dalam keadaan bahaya.


“Tidak ada artinya kamu membawa pedang, soalnya kamu benar-benar tidak berguna.” ucap Jeki mengambil pedang itu, sejak awal tidak suka dengan Arthut.


“Kamu baik-baik saja, Art.” Rin mendekati Arthur yang sedang terduduk di tanah, bersama dengan anggota tim lainnya.


“Aku baik-baik saja” menatap ke arah Rin sambil tersenyum lembut.


Jeki iri melibat Rin yang begitu dekat dengan Rudi.


“Itu apa?, berkilau-kilauan.” Rin menunjuk ke arah batu bercahaya berwana biru.


Jeki tersenyum, mendekati batu bercahaya yang menempel pada di dinding untuk mengambilnya.


“Itu adalah batu kristal biru, ukuran sebesar itu jarang di temui. Kristal itu biasa di gunakan untuk bahan cincin pertunangan.” Amano menjelaskan.


“Kalau begitu biar aku ambil.” Jeki memanjat dinding batu dengan percaya diri.


“Hei, jangan memanjat. Jangan bertindak sembarangan, kita masih belum memastikan keamanannya.” Teriak Amano.


Mereka semua berpindah ke tengah jembatan yang di hiasi batu biru yang menerangi di setiap pinggir jembatan.


Di depan mereka berlarian pulahan manusia tengkorak dan di ikuti monster yang berukuran besar menyerupai naga dan semua orang panik melihat monster muncul di hadapan mereka.


Terlihat disebrang jembatan ada sebuah jalan yang menuju lantai selanjutnya, tetapi mereka memilih untuk mundur karena belum memiliki persiapan untuk menghadapi monster yang ada di hadapan mereka.


“Ini jebakan, menjauh dari sini. Semua mundur ke tangga itu.” Amano meminta mereka semua mundur.


Di belakang mereka ada sebuah tangga yang menuju lantai atas labirin dan Amano melawan manusia tengkorak bersama dengan anggota yang lain sambil melangkah mundur.


“Cepatlah pergi, aku tidak bisa membiarkan kalian mati disini.” Amano menahan monster berukuran besar dengan pedangnya, tetapi dia kalah kuat dengan monster yang membuatnya terlempar jatuh ke belakang.


Rin yang berlari terjatuh, Arthur yang melihat tidak tinggal diam. meletakkan ranselnya dan berlari ke arah Rin, kemudian menahan Monster besar tersebut.


“Art.” Rin melihat Arthur yang datang untuk menolongnya.

__ADS_1


“Lari lah selagi ada kesempatan.” Arthur menahan monster besar itu dengan tangannya.


Jembatan terlihat mulai retak menahan beban monster besar yang ada di atasnya, mereka semua tidak menyadari itu.


“Kamu baik-baik saja, Arthur.” ucap Amano sambil mendekati Rin dan membantunya berdiri.


“Amano, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. cepatlah bawa Rin dan pergilah dari sini.” Arthur tidak memiliki banyak tenaga untuk menahan monster itu terlalu lama.


“Aku pasti akan menolong mu, jadi bertahanlah.” Amano menggendong Rin dan pergi menjauh.


Amano dan Rin sudah dekat dengan anggota yang lain di ujung jembatan, hanya tinggal Arthur yang masih ada di atas jembatan.


"Arthur pergilah dari sana, Kami akan membantu." teriak Amano dari ujung jembatan.


Setelah berhasil sampai di pinggir jembatan yang dekat dengan tanggal menuju lantai atas.


“Kalian sudab siap.” Semua anggota bersiap menembakan sihir, muncul lingkaran sihir yang akan mengeluarkan serangan.


Arthur melepas monster itu kemudian berlari ke arah mereka, semua melepaskan serangan mereka ke arah monster itu.


Berbagai jenis atribut air, api, angin, tanah dan sebaginya mengarah ke monster yang ada di tengah jembatan.


Salah satu tembakan mengarah ke arah Arthur dan berhasil menghindarinya, tetapi jembatan sudah tidak mampu menahan beban.


“Aku tidak ingat kalau ada yang mengincar nyawaku, tapi aku merasakan kalau itu diarahkan padaku.” Batin Arthur yang pasrah terjatuh ke jurang, dia melihat sebelum serangan mengarah ke dirinya, Jeki tersenyum licik padanya.


“Art!” Teriak Rin memanggil nama Arthur, Rin ingin berlari mendatangi Arthur tetapi Amano menahannya.


Akhirnya jembatan itu roboh dan Arthur pun ikut terjatuh bersama semua monster yang ada di atasnya. Rin yang menyaksikan Arthur terjatuh langsung berteriak histeris, Kemudian dia pingsan akibat tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi pada Arthur.


***


Terima kasih sudah membaca.


Dukung dengan Like dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2