
Akhirnya setelah berjalan tidak lama mereka tiba di depan gerbang timur benteng alpa, didepan pintu di jaga empat orang yang mengenakan seragam pelindung dan tombak di tangannya.
Benteng Alpa dapat menampung hampir seribu orang, di sana terlihat dinding tembok yang besar dan tinggi. melindungi orang yang berada di dalam benteng, mayat hidup pasti akan kesulitan untuk masuk kedalamnya.
“Kapten Evan.” Penjaga mengenali Evan, membiarkan mereka lewat kecuali Arthur dan Agus. Evan seorang pendekar di benteng Alpa, jadi banyak orang yang mengenal dirinya.
“Berhenti disitu, siapa kalian?” salah satu penjaga menghentikan Arthur dan Agus yang sedang berjalan mengikuti Evan.
Evan menceritakan semuanya pada penjaga yang menghentikan Arthur, penjaga itu mengangguk paham.
Sebelum masuk Arthur dan Agus akan melakukan beberapa pemerikasaan, penjaga mengajak mereka ke suatu ruangan.
Di samping gerbang terdapat pintu kecil yang mengarah ke ruang penjaga, dimana setiap orang baru yang masuk akan diperiksa dan akan diberikan tanda pengenal.
“Apa yang Akan kami lakukan?.” Arthur memperhatikan sekitar dengan tenang, lain halnya Agus yang sedang khawatir yang menyadari penjaga menatapnya tanpa berkedip.
Penjaga menyerahkan selembar kertas, meminta mereka berdua untuk mengisi data diri dan akan di tes sebelum memasuki benteng.
Setelah mengisi data diri, penjaga itu mengajak Arthur dan Agus mendekati bola kristal yang ada di pojok ruangan.
“Bisa sentuh bola kristal yang ada di hadapan kalian, untuk memeriksa energi jiwa yang ada di dalam diri kalian." penjaga menunjuk bola kristal yang ada di atas meja.
Agus memberanikan diri untuk mencoba terlebih dahulu, merasa khawatir apa yang akan terjadi saat dia menyentuh bola kristal itu.
Agus maju melangkah menyentuh bola kristal dengan kedua telapak tangannya, sehingga bola tersebut memancarkan cahaya yang menandakan tidak memiliki energu jiwa karena belum bangkit sempurna tetapi memiliki tubuh yang kuat.
Penjaga sudah mengetahui kekuatan yang di miliki Agus dan memintanya mencari pekerjaan yang di inginkan sambil memberikan tanda pengenal di benteng Alpa.
__ADS_1
Agus merasa lega, karena dia sudah di bisa masuk kedalam benteng Alpa dan tinggal Arthur yang masih menunggu gilirannya.
“Arthur, aku menunggu mu di dalam.” Arthur membalas dengan mengangguk pelan.
Sekarang tiba giliran Arthur yang menyentuh bola kristal, saat bola disentuh tidak terjadi reaksi apa pun terhadap bola tersebut.
Penjaga dan Evan bingung, tidak terlihat reaksi apapun dari bola kristal yang di sentuh Arthur. energi jiwa yang lemah seharusnya dapat terbaca oleh bola kristal itu.
Bola kristal itu di gunakan untuk mencari bakat yang memiliki kekuatan jiwa tingkat tinggi, agar dapat membantu benteng Alpa tetap berdiri kokoh.
Benteng Alpa di bangun untuk melatih agar manusia dapat bertahan hidup dari ancaman monster yang akan menyerang.
Evan meminta agar Arthur mencoba sekali lagi. dia yakin kalau Arthur memiliki kekuatan untuk menjadi pendekar yang sangat kuat.
Para penjaga menoleh satu sama lain. mereka tidak bisa menolak permintaan Evan yang merupakan salah satu pendekar peringkat perak di benteng alpa.
Semua orang terkejut saat Arthur menyentuh bola kristal yang memancarkan berbagai macam warna yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Semua orang dalam ruangan terkejut melihat bola kristal memancarkan cahaya putih dan hitam, yang merupakan salah satu energi jiwa yang langkah.
“Kamu memiliki energi jiwa yang sangat langkah, kamu bisa menjadi pendekar hebat dan bergabung dengan kelompok yang ada di benteng Alpa.” penjaga memberikan tanda pengenal pada Arthur.
Arthur masuk ke dalam bersama Evan, telihat Agus yang sedang menunggu. Arthur menghampiri dan menepuk bahu Agus.
“Ah.. ternyata Arthur, kamu mendapatkan energi jiwa apa?.” tanya Agus yang penasaran dan Arthur memberitahu kalau energi jiwa yang di milikinya berwarna putih dan hitam.
“Sekarang apa yang akan kalian lakukan?” tanya Evan yang masih bersama mereka.
__ADS_1
Arthur berencana akan bergabung dengan kelompok yang ada di benteng Alpa, kelompok yang dibentuk untuk mempertahankan benteng Alpa dari serangan dari luar.
Agus sebenarnya ingin mengikuti Arthur, tetapi dia tidak bisa karena pengalaman bertarungnya masih kurang dan energi jiwa yang di milikinya belum bangkit.
“Mungkin aku akan mencari pekerjaan yang cocok dengan ku.” ucap Agus yang sedikit kecewa, menyadari tidak bisa terus bersama Rudi.
Agus memeluk Arthur sebelum akhirnya mereka berpisah, walaupun baru mengenal tapi mereka sudah menjadi teman baik.
“Sampai jumpa lagi, jaga kesehatan mu pastikan kalau kita ketemu, kamu dalam keadaan baik-baik saja.” ucap Arthur, kemudia Evan mengajaknya pergi berjalan menuju kelompok Alpa dan meninggalkan Agus sendirian.
Agus menatap kepergian Arthur dan Evan, dia sedikit kecewa tidak dapat ikut bersama mereka. merasa menyesal karena tidak bisa bertarung, berkat pengalaman yang diberikan Arthur menjadi motivasinya untuk menjadi kuat.
“Sekarang saatnya mencari pekerjaan dan menjalani hidup baru disini.” gumam Agus sambil melangkahkan kakinya.
Arthur menatap sekitarnya di dalam benteng terlihat sama seperti kota pada umumnya yang memiliki beberapa bangunan dan hanya ada beberapa penduduk yang selama dari kota Alpa. Tetapi sekarang di lindungi oleh dinding yang cukup besar dan tinggi sehingga dapat menghalang makhluk yang menyerang benteng alpa.
Di perjalan Evan memberi tahu kalau benteng ini di pemimpin kelompok Alpa dan juga yang membuat aturan yang ada didalam benteng tersebut
Pemimpin itu bukan manusia dari bumi, tetapi dari dunia lain dan dunianya sudah diserang oleh monster yang sama seperti yang menghancurkan kota Alpa.
Arthur terus mendengarkan cerita Evan sambil tetap berjalan dan akhirnya mereka sampai di gedung kelompok Alpa yang merupakan markas pertahanan Benteng Alpa.
Mereka memasuki kedalam aula, untuk mendaftarkan Arthur sebagai anggota dari kelompok Alpa dan saat mereka masuk, banyak orang yang menatap Arthur dengan tatapan tidak suka.
Ruangan yang cukup luas, terlihat banyak kursi dan meja yang tersusun rapi. di sana ada beberapa pendekar yang memegang senjata seperti pedang, golok, tombak dan busur.
***
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca.
Dukung dengan Like, dan Vote.