
Arthur membuka matanya, dia melibat banyak prajurit yang sudah bersiap masuk ke dalam labirin untuk ikut menyelamatkan.
" Apa yang terjadi ?." tanya Arthur yang bingung, di depan pintu labirin berdiri pasukan yang berbaris.
" Kami mengumpulkan pasukan untuk membantu menyelamatkan. Tapi, tidak kusangka selesai dengan cepat." ucap Wavis sambil menggaruk kepala.
" Aku memang harus mempercayai surat yang ditulis oleh Elisa. Tidak, aku yang salah."
Arthur yang mendengar tersenyum melihat Wavis.
" Mereka kembali dengan selamat, dengan ini semua pasukan dibubarkan." teriak Wavis kepada semua pasukan.
" Apakah ini Arthur yang sekarang ?. Dia sudah berubah." batin Rin menatap punggung Arthur.
" Apakah aku boleh ikut dengan mu." Rin mendekati Arthur.
" Boleh saja kalau mau ikut." Jawab Arthur, Rin yang mendengar sangat senang.
"Besok kita akan berangkat, jadi jangan terlambat ya."
Mereka semua kembali ke desa untuk beristirahat.
Malam hari Arthur melihat langit yang penuh bintang menerangi malam.
" Pedang ini sudah menyelamatkan ku." ucap Rin setelah berdiri disebelah Arthur.
" Ku berikan itu untuk mu." Rin yang mendengar langsung memeluk Arthur.
" Terima kasih."
" Pedang itu terbuat dari logam terkeras di dunia. Kekerasan dan ketajamannya tidak ada tandingan." Arthur menjelaskan.
" Arthur, kamu hebat ya. Padahal kukira kamu tidak bisa bertarung. Tapi dengan kemampuan mu, kamu bisa membuat pedang ini." Rin menatap wajah Arthur.
" Akan ku gunakan pedang ini seperti bagian tubuhku sendiri." ucap Rin tersenyum.
" Sudah malam, waktunya kita istirahat. Besok kita akan kembali ke kota Arcana." Arthur meminta Rin untuk tidur.
Rin akhirnya pergi untuk tidur tetapi langkahnya terhenti setelah mengingat surat yang di terimanya tadi sore.
__ADS_1
Dia bingung, bagaimana caranya agar dapat berpamitan dengan Arthur. Dia tidak sanggup kalau harus berpisah dengan Arthur lagi.
" Arthur, bisakah aku tidur disebelah mu ?." ucap Rin menahan rasa malu.
Arthur yang mendengar terkejut, dia penasaran apa yang membuat Rin bisa berbicara seperti itu.
" Baiklah." ucap Arthur masih memikirkan.
Arthur berjalan di depan, Rin mengikuti dari belakang. Mereka berdua menuju kamar Arthur yang sudah di pesannya tadi.
Mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar penginapan. tiba-tiba Rin memeluk dari belakang, membuat Arthur menghentikan langkahnya.
" Apa yang dia inginkan ?." Batin Arthur, dada Rin yang besar sudah menyentuh punggungnya.
" Biarkan aku memelukmu sebentar, aku sangat merindukan mu."
Rin berpikir ini adalah malam perpisahan mereka, dia ingin menghabiskan malam bersama Arthur.
Arthur melepas pelukan Rin dan langsung menciumnya. Melihat Rin yang hampir kehabisan nafas, Arthur menghentikan ciumannya.
Arthur sudah tidak bisa menahan lagi, dia ingin memiliki tubuh Rin seutuhnya.
Kemudian Arthur menggendong dan meletakan tubuh Rin di atas kasur.
" Apakah aku boleh ?." Arthur berbisik di telingan Rin.
Rin mengangguk malu wajahnya sudah memerah karena malu. Ini pertama kalinya dia akan tidur bersama pria.
Arthur sudah tidak bisa menahan lagi, dia membuka satu persatu pakaian mereka dan membuangnya di lantai.
Akhirnya terjadi pertarungan yang cukup lama hingga mereka berdua tertidur, dengan selimut yang membalut tubuh mereka.
Rin bangun setelah Arthur tertidur, dia terus memandang Arthur. Dia menangis sambil menyentuh wajah Arthur yang masih tertidur.
Sebenarnya Rin tidak ingin meninggalkannya tetapi dia tidak mau nyawa Arthur dalam bahaya.
Rin mencari kertas dan menulis pesan ke pada Arthur agar tidak mencarinya.
" Selamat tinggal." gumam Rin mencium Arthur.
__ADS_1
Rin berusaha menahan diri, dia tidak ingin membuat Arthur terbangun. Dia diam-diam pergi keluar kamar.
Pagi hari di kamar.
Arthur membuka mata, hal pertama yang dia ingin lihat adalah Rin. Tetapi saat di menoleh, dia tidak menemukan Rin di sebelahnya.
Arthur langsung bangun dan duduk di pinggir kasur. ia berpikir Rin sedang bersiap untuk kembali ke kota bersamanya.
Saat Arthur melangkah keluar kamar, dia menemukan sebuah surat yang ada di atas meja.
Setelah membaca surat, Arthur langsung berlari keluar kamar. Dia mencari Rin di dalam penginapan dan ke seluruh desa akan tetapi tidak dapat menemukannya.
Arthur memutuskan untuk kembali ke kota Arcana dengan kemampuan berpindahnya. dia langsung berpindah ke dalam ruang kerja Elisa Abony yaitu master guild Perisai Perak.
" Apa yang kamu lakukan disini, bukannya kamu sedang berada dalam labirun ?." ucap Elisa, Matanya melebar saat Arthur sudah berdiri di depannya.
" Aku sudah kembali, aku disini ingin bertanya keberadaan Rin." ucap Arthur.
" Apa yang sebenarnya terjadi ?."
Elisa bingung, dia tidak menyangka pagi-pagi Arthur sudah ada di ruangannya.
" Rin menghilang, dia meninggalkan surat ini." Arthur menunjukan surat.
" Sebaiknya kamu tunggu saja dia, mungkin ada masalah yang harus di selesaikannya. Kalau kalian berjodoh pasti akan bertemu lagi." setelah membaca isi surat yang di berikan Arthur.
Arthur mengangguk pelan, dia pikir itu ide bagus karena dia tidak tahu Rin pergi kemana. walaupun ada rasa cemas tetapi Arthur percaya kalau Rin bisa menjaga dirinya.
" Arthur, apa aku perlu memberi tahu kepada kerajaan kalau kamu sudah menaklukkan labirin itu ?." tanya Elisa.
" Sebaiknya tidak perlu, siapa yang mau percaya kalau aku sudah menaklukkannya ?. Tidak ada bukti juga." Arthur tersenyum.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekati ruangan tempat Arthur dan Elisa berbicara.
****************************************
Terima kasih sudah membaca.
klik hati jika suka, silahkan vote dan komen ya?.
__ADS_1
Mohon maaf jika tidak memuaskan.
****************************************