Legenda Penguasa Dunia

Legenda Penguasa Dunia
Putri Raja Berdin


__ADS_3

Seorang pria jatuh ke tanah setelah terkena serangan sihir kegelapan Arthur yang dia pelajari dari buku kegelapan dan Nina tidak menyadari orang yang ada di sebelahnya sudah mati.


Dia hanya tersenyum melihat Arthur yang kehilangan keseimbangan karena serangan angin seorang penyihir. Memberi kesempatan Jendral timur untuk mundur memulihkan tenaganya.


Saat Nina ingin memuji penyihir yang telah membantunya, dia menyadari penyihir itu sudah mati dan langsung menutup mulut agar suara teriakannya tidak terdengar orang.


Semua orang fokus menyaksikan pertarungan Arthur dan Jendral timur tanpa peduli di sekitar mereka.


“Apa sebenarnya yang terjadi?.” gumam Nina sambil melihat kearah Arthur.


“Tombak petir.”


Jendral timur mengarahkan tombaknya ke atas, sebuah petir mengalir ke ujung tombak miliknya, dia menusukkan tombaknya pada Arthur dan aliran petir menerjangnya.


Arthur terkena serangan Jendral timur, serangan itu tidak melukainya. Jendral timur tersenyum berhasil mengarah serangannya.


“Haha.. Aku yang menang.” ucap Jendral timur dengan nafas yang belum stabil, semua orang bersorak.


Arthur berjalan keluar dari balik debu yang berterbangan akibat serangan Jendral timur.


“Apa segitu saja.” Arthur terlihat tidak terluka setelah mendapat serangan.


“Hah” Jendral timur terkejut dan berbalik saat mendengar suara Arthur yang menghentikan langkahnya keluar arena.


“Ada yang ikut campur dalam pertarungan kita, tapi aku sudah membunuhnya.” ucap Arthur memberitahu untuk memperingatkan Jendral timur tidak melakukan perbuatan yang bisa memancing dirinya.


“Lihatlah.” Arthur menunjuk ke arah Nina, terlihat seorang penyihir terbaring dan sedang diperiksa.


Jendral timur tidak percaya dengan perkataan Arthur dan kembali menyerang. Pertarungan berlanjut Arthur mengambil pedang yang tadinya di lempar.


Arthur memotong tangan kanan Jendral timur hingga dirinya berteriak kesakitan. Semua yang menyaksikan terdiam, Jendral yang memimpin hampir ratusan ribu pasukan kehilangan tangan kanannya.


Raja Berdin angkat bicara, “Apa yang kamu lakukan pada Jendral timur!” Nina berlari menghampiri Jendral timur untuk melihat keadaanya.

__ADS_1


“Aku sudah tahu akan tejadi seperti ini, walaupun aku menang pasti mereka mempersulit ku.” batin Arthur sambil menghela nafas.


“Sayang sekali, Jendral timur harus pensiun dari posisinya.” bisik Arthur setelah melewati Nina yang sedang duduk melihat Jendral timur.


“Akan ku bunuh kamu” Nina berteriak mengancam Arthur.


Arthur berbisik lagi padanya. “Urusin saja paman mu, mungkin kamu selanjutnya.” raut wajah Nina berubah pucat setelah Arthur pergi.


Raja Berdin menghampiri Jendral timur yang terluka, terlihat wajahnya yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


“Hentikan dia!.” Raja Berdin memanggil pasukan untuk menahan Arthur agar tidak pergi.


Arthur yang ingin turun dari arena di halang oleh puluhan pasukan yang di perintahkan oleh Raja Berdin.


“Sebaiknya kalian jangan menghalang jalanku jika tidak ingin bernasib sama dengan dia.” Arthur mengancam sambil melirik ke arah Jendral timur.


Pasukan yang mendengar menjadi bimbang, bahkan mereka ingin lari tapi mereka tidak bisa menolak perintah Raja.


“Aku terpaksa membunuh kalian.” Arthur menarik nafas dan mengeluarkan pedang bayangan dari ruangan penyimpanan.


“Papa bunuh saja dia.” Nina tersenyum menyembunyikan rasa takutnya, meminta Raja Berdin.


Arthur yang mendengarnya menjadi kesal, dia baru tahu kalau Nina adalah putri Raja. “Jadi sejak awal semua sudah di rencanakan.” gumam Arthur.


Terlihat dari balik pasukan berjalan tiga orang pendekar, mereka adalah Lavin, Wiliam dan Phlip dengan senjata di tangan.


Ketiga pendekat sudah sembuh dari luka yang mereka dapatkan saat bertarung dengan Chimera, berkat bantu pil penyembuh memulihkan tenaga dan menyembuhkan luka mereka dengan cepat.


Pil penyembuh jarang di jumpai mungkin pil yang di makan ketiga pendekar adalah yang terakhir. Sebelumnya Raja Berdin meminta kepala penyihir untuk mengobati ketiga pendekar untuk menghindari hal yang tidak di inginkan.


Sekarang terbukti, Raja Berdin meminta tiga pendekar untuk mengalahkan Arthur. “Tiga pendekar seharunya sudah cukup kan?.” Raja Berdin hanya meminta tiga pendekat untuk mengalahkan Arthur tanpa bantuan pendekar lain.


Para pengawal membawa Rias turun ke arena untuk menjadikannya tawanan agar Arthur tidak berani pergi.

__ADS_1


“Baiklah aku akan mulai.” Lavin melompat ke atas arena di ikuti Wiliam dan Philip, mereka bertiga akan bekerja sama melawan Arthur.


Jendral timur sudah dibawah pergi Nina untuk mengobati luka di tangannya dan dia juga sudah tidak bisa bertarung lagi.


Arthur hanya diam melihat semua yang terjadi, dia tidak ingin melakukan apapun. Tapi dirinya dipaksa untuk menghadapi tiga pendekar yang sudah siap menyerangnya.


“Lebih baik Kerajaan ini hancur saja.” Arthur sudah tidak peduli pada kerajaan Asion.


“Dasar lancang.” Raja Berdin tidak terima dengan perkataan Arthur.


"Berani-beraninya kamu memiliki niat buruk di kerajaan ku?” Lavin berlari menyerang Arthur yang ada di hadapannya.


“Apa yang kamu lakukan!” teriak Lavin pada Rias setelah mendapat tendangan Rias yang sudah melepaskan diri dari pengawal.


Rias sangat marah menurutnya Arthur adalah satu-satunya orang paling penting dalam hidupnya, dia sudah bertekad akan selalu berada di sisi Arthur.


“Ta-tapi kamu diperbudak olehnya.” Lavin tidak tahu sebenarnya yang terjadi, dia hanya iri dengan kedekatan mereka berdua.


“Memangnya kamu tahu apa soal tuan Arthur?. tuan Arthur itu tidak pernah memaksaku melakukan sesuatu di luar kemampuan ku dan aku sendiri yang mau mengikutinya.”


“Yang benar saja, pasti kamu sudah di pengaruhi olehnya.” Lavin menunjuk Arthur dengan kesalnya.


“Tuan Arthur memerlukan rekan untuk membantunya, jadi dia bisa mengandalkan orang aku untuk bertarung bersamanya.” ucap Rias dengan kesal mendengar Arthur yang terus di hinanya.


“Kamu tidak perlu memaksakan diri, kamu hanya akan dipaksa bertarung sampai kelelahan!.” Lavin tidak mau mengalah dengan Rias, mereka terus berdebat.


“Tuan Arthur selalu melindungi dan merawatku.” Rias mengingat semua perlakuan baik Arthur padanya.


Lavin melangkah mundur, dia sudah tidak bisa berkata lagi. Menurutnya semua perkataan Rias tidak benar. Terlihat Wiliam dan Philip bersiap menyerang Arthur yang sedang memperhatikan Rias dan Lavin berbicara.


***


Terima kasih sudah membaca.

__ADS_1


Dukung dengan Like dan Vote.


__ADS_2