
Delon yang tidak terima dengan keputusan Ace, dia menantang Arthur bertarung satu lawan satu membuktikan kekuatan yang di miliki Arthur.
Semua pendekar yang ada di dalam aula melihat yang dilakukan Delon dan mendukungnya. tetapi Evan dan Elien hanya diam saja, karena tidak memiliki hak untuk melarang Delon untuk menantang Arthur.
Ace yang mendengar keributan dari bawah mendatangi mereka, “Apa yang sedang terjadi?” Ace datang mendekati Delon yang dari tadi berteriak.
“Ketua, aku tidak terima kalau dia mendapat posisi itu tanpa mengikuti aturan.” Delon menunjuk ke arah Arthur.
“Itu sudah keputusan ku, jika aku bertarung dengannya sudah pasti aku akan kalah." ucap Ace.
Evan, Elien dan Delon terkejut mendengar ucapan Ace. tidak hanya mereka, semua yang mendengarnya juga terkejut. mereka sendiri kesulitan untuk mengalahkan Ace.
“Aku tetap tidak terima, aku ingin bertarung dengan dia satu lawan satu.” ucap Delon yang yang belum menerima keputusan Ace.
“Arthur apa kamu menerima tantangannya”
Ace melihat kearah Arthur, sebenarnya dia tidak ingin Delon bertarung, sudah dipastikan Arthur akan menang dengan mudah.
Arthur menyetujui tantangan yang di ajukan Delon, kemudian Ace mengajak mereka ke arena bertarung tidak cukup jauh dari gedung kelompok Alpa.
Sebuah lapangan luas yang ditengahnya terdapat arena tempat latihan bertarung anggota kelompok Alpa.
Mereka berdua naik ke atas arena, semua orang mengikuti untuk menonton pertarungan Arthur dan Delon dari luar arena. tanpa terkecuali Evan dan Elien.
“Aku akan menjadi wasit di pertarungan ini, kalian berdua bertarung secara adil dan tidak boleh membunuh lawan.” Ace melihat ke arah Arthur dan Delon bergantian, Arthur dan Delon menganggukkan kepala menandakan kalau mereka sudah mengerti.
“pertarungan di mulai!.”
kabut hitam yang muncul di tangan Delon, dia mengalirkannya ke senjata berupa tongkat dengan ujung pedang sabit.
__ADS_1
“kenapa kamu hanya diam saja?” teriak Delon, wajahnya mulai kesal menatap Arthur tidak memegang senjata.
Arthur berdiri dengan tenang tanpa mengeluarkan pedangnya, Delon yang kesal berlari menyerang Arthur dengan tongkat sabitnya. mengayunkan senjatanya ke arah Arthur.
Arthur menghindar dengan menggerakan sedikit tubuhnya, kemudian Arthur menggunakan langkah bayangan untuk bergerak cepat.
“Dimana dia?” batin Delon melihat sekeliling tetapi tidak menemukan Arthur.
Arthur muncul dibelakang Delon dan langsung memukulnya dengan tangan kosong. gerakan cepat Arthur tidak bisa dihindarinya.
Delon terdorong mundur setelah mendapat pukulan dari Arthur, semua orang yang melihatnya terdiam.
“Sepertinya yang dikatakan ketua benar” gumam Evan.
“Evan, menurutmu apa Delon akan kalah?” tanya Elien, menatap pertarungan yang berat sebelah.
“Kesempetannya sangat kecil untuk menang, Arthur belum menunjukan semua kemampuan yang dimilikinya." Evan tetap fokus memperhatikan Arthur dari luar arena.
Pertarungan terus berlanjut hingga puluhan pukulan mengenai Delon, sudah beberapa kali Delon memuntahkan darah tetapi dia tidak ingin menyerah.
“Menyeralah, kamu sudah terluka parah. kamu harus banyak berlatih lagi.” Arthur memberikan pelajaran untuk Delon agar dia tidak meremehkan orang dari penampilannya.
Delon berteriak sambil mengumpulkan kekuatannya, muncul aura hitam di sekitar tubuhnya membentuk sosok bayangan grim reaper yang memegang senjata khasnya di belakang Delon, meningkatkan kekuatan tempur dan kecepatannya.
“jadi itu yang disebut kekuatan jiwa kegelapan” gumam Arthur, ini pertama kalinya melihat orang yang menggunakan kekuatan jiwa.
Ace yang melihat ingin menghentikan pertarungan, dia tidak ingin ada yang mati di pertarungan ini.
Ace melihat ke arah Arthur dari luar arena, terlihat raut wajah Ace yang mulai khawatir. tetapi Arthur memberi isyarat kalau dia ingin pertarungan tetap dilanjutkan.
__ADS_1
Ace menganggukkan kepalanya mengerti dan setuju untuk melanjutkan pertarungan. Muncul kabut dihitam di samping Arthur. dia memasukan tangannya ke dalam kabut tersebut dan menarik pedang bayangan dari tempat penyimpanan ruang yang telah dipelajari dari Ace.
“Aku tidak menyangka dia memiliki pedang lain selain pedang yang ku berikan.” batin Ace, menatap Arthur yang sedang memegang pedang bayangan di tangannya.
Delon mulai menyerang Arthur dengan senjatanya. benturan senjata mereka membuat getaran disekitar arena.
“Ini kah pertarungan sesungguhnya antara dua pendekar.” ucap Elien yang serius melihat pertarungan itu. selama ini tidak ada yang bertarung serius selain saat menghadapi mayat hidup di luar benteng.
“Mungkin, aku tidak bisa sampai bertarung seperti itu." Evan frustasi menyadari dia masih lemah dan semua orang yang menonton tidak dapat berkata apapaun melihat pertarungan Arthur dan Delon yang begitu hebat.
“Apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa mengalahkannya.” batin Delon yang terus menatap Arthur yang mendekat padanya.
“Apa kamu sudah menyerah?.” Arthur berjalan mendekati Delon yang sedang menopang tubuhnya dengan senjatanya.
Arthur menghilang dari pandangan Delon menggunakan langkah bayangan dan muncul dari belakang Delon, tetapi serang pedang Arthur berhasil ditepis dengan sabit Delon.
Delon juga menghilang menyatu dengan kabut hitam yang menutupi arena membuat Arthur sulit melihat. Delon keluar dari balik kabut dan muncul dari belakang Arthur sambil mengayunkan sabitnya.
Arthur yang menyadari Delon dengan gerakan pedang yang sangat cepat, sehingga Arthur terlebih dahulu mengayunkan beberapa gerakan pedangnya tepat di dada Delon.
Delon yang terkena serang terlempar keluar arena, di dadanya membekas beberapa goresan pedang yang tidak cukup dalam.
Ace berlari mendatangi Delon yang sedang terbaring, “Arthur masih menahan dirinya, kalau tidak mungkin Delon sudah mati.” batin Ace, memeriksa keadaan Delon.
Semua orang yang melihat terdiam tidak bisa berkata apa-apa, setelah melihat Delon kalah dengan telak tanpa melukai Arthur sedikitpun. Ace mengakhiri dengan menyatakan Arthur sebagai pemenangnya
***
Terima kasih sudah membaca.
__ADS_1
Dukung dengan Like dan Vote.