
Tengah malam Arthur bangun saat Rias dan Ruby sudah tertidur saling memeluk, Arthur berpikir tidak selamanya mereka harus berpindah-pindah tempat.
Dia berpindah ke labirin bawah tanah tempat markas pemberontak itu sebutan yang diberi penduduk yang tidak tahu kebenaran dari para pejuang yang berusaha mengalahkan kejahatan yang menguasai mereka dari belakang layar.
Arthur menggunakan kemampuannya untuk berpindah dengan membayangkan tempat yang sudah dia kunjungi.
Arthur menyimpan semua isi dalam labirin bawah tanah hingga monster dan berbagai yang ada didalam hingga membuat labirin itu tidak berharga lagi.
Arthur memiliki rencana untuk membangun markas sendiri dengan pengetahuan yang di tinggalkan oleh Leonardo pemimpin pasukan pembebas.
Setelah Arthur menyimpan semuanya dalam ruang cincin miliknya yang memilik tempat tanpa batas, dia memanggil empat pengawalnya yaitu Aron, Ethan, Karina dan Vanyar.
" Aku ingin kalian melakukan sesuatu untuk ku ?." ucap Arthur dihadapan mereka yang sedang berlutut padanya.
" Apa yang bisa kami bantu, Tuan ?." ucap mereka serentak saat mendengar Arthur.
Arthur ingin empat pengawalnya itu untuk mencari tempat yang strategis untuk membangun sebuah gerbang dimensi yang bisa memindahkan mereka ke dunia cincin tanpa harus menggunakan cincin yang ada di tangan Arthur.
Menurutnya tidak selamanya dia mengurung mereka berempat dalam cincin dan mereka tidak bisa keluar masuk tanpa seijin Arthur sang pemilik cincin.
Di dalam cincin Arthur memberi nama tempat itu dengan sebutan Menara Bayangan walaupun sekarang hanya terdapat 2 lantai yang ada didalam yaitu gudang penyimpan barang Arthur dan ruang tempat tinggal yang berisi kastil dengan taman, beserta danau yang di kelilingi hutan dan pegunungan peninggalan pemimpin pasukan pembebas Leonardo.
Arthur menyebutkan satu persatu yang mereka harus lakukan, dia meminta agar tugas ini jangan sampai membuat seluruh negeri yang ada benua kuning curiga terhadap tindakan mereka.
Arthur juga memerintahkan mereka jangan membunuh orang yang tidak bersalah, dia mengijinkan membunuh yang mereka anggap musuh yang menghalangi jalan.
" Baik, Tuan." ucap keempat pengawal, Arthur membagi mereka menjadi dua tim, yaitu Ethan bersama Karina sedangkan Aron bersama Vanyar.
" Aku harus hati-hati dengan Dark Elf yang masih mengejar mereka berdua." gumam Arthur melihat Karina dan Vanyar.
Arthur tidak ingin dalam tugas ini membuat ke empat orang kepercayaan mereka sampai terbunuh di negeri orang yang sedang mereka masuki.
__ADS_1
Sekarang dalam ruang cincin Arthur terdapat 3 lantai di tambah labirin yang berisi monster untuk penjaga bila ada penyusup yang masuk.
" Tunggu sebentar." panggil Arthur menghentikan langkah mereka yang ingin pergi.
Arthur memberi sebuah cincin pada mereka, itu adalah cincin yang berfungsi sebagai alat komunikasi sehingga mereka bisa berbicara dalam pikiran penggunanya.
" Sebaiknya kalian hati-hati, jika terjadi sesuatu segera kabarin aku." ucap Arthur mengingatkan sambil memberikan cincin pada masing-masing orang.
" Baik, kami akan hati-hati tuan." ucap Aron, dia menjadi orang kepercayaan Arthur yang memimpin tugas itu.
Setelah mereka pergi Arthur memutuskan kembali ke penginapan, dia keluar tanpa sepengetahuan Rias dan Ruby.
Arthur masih merahasiakan identitas yang dia miliki banyak yang tidak tahu apa saja yang sudah di perbuatnya dari tiga tahun lalu semenjak kejadian yang menghancurkan kota Alpa.
Sinar matahari sudah menembus di balik pepohonan, sentak Arthur kaget dia lupa harus cepat kembali sebelum mereka berdua bangun.
" Apa yang harus aku katakan jika mereka melihatku tidak ada di dalam ruangan." gumam Arthur, dia berpindah di luar kota, dia tidak bisa langsung pindah ke penginapan pastinya sudah banyak orang yang bangun untuk melakukan kegiatan mereka.
***
" Apa tuan Arthur meninggalkan kami berdua." gumam Rias yang panik.
Kasur tempat Arthur tidur sudah rapi seperti sudah di tinggal pergi oleh pemiliknya, Rias berlari keluar kamar mencari keberadaan Arthur.
Dia bertanya ke pemilik penginapan dan juga bertanya pada semua orang yang di jumpainya.
" Tuan Arthur, apa kamu membuang ku." mata Rias sudah mulai berkaca-kaca, dia tidak menemukan Arthur di seluruh penginapan tempat mereka tinggal.
Rias berjalan keluar penginapan hatinya merasa lega saat melihat seorang pria berjalan ke arahnya.
" Tuan Arthur dari mana saja anda ?." tanya Rias sambil berlari memeluk Arthur, dalam benaknya Arthur telah meninggalkan dirinya.
__ADS_1
" Aku hanya jalan-jalan mencari udara segar." jawab Arthur berbohong, dia tidak mungkin menjelaskan semuanya pada Rias.
Arthur mengajak Rias masuk ke dalam penginapan, mereka bersiap-siap untuk berangkat ke desa Lumber yang berada di selatan kota Terion.
Rias pergi membangunkan Ruby yang masih tidur, sedangkan Arthur menunggu mereka di ruang makan yang berada di penginapan.
Arthur memesan banyak makanan untuk mereka, dia sudah diberi bayaran untuk mengantar ramuan sihir oleh Alan Rufus.
" Tuan Arthur, banyak sekali makanannya." ucap Ruby tersenyum saat melihat banyak makanan yang ada di meja.
" Tuan apa makanan ini tidak berlebihan." ucap Rias mengingatkan, Arthur banyak makanan padahal mereka hanya bertiga.
" Cepat kalian duduk, kita akan segera berangkat." ucap Arthur sambil menyuruh mereka untuk makan.
Ruby dengan cepat menyantap makanan yang ada di meja walaupun tubuhnya kecil, nafsu makan Ruby sangat kuat.
Rias yang melihat hanya bisa menggeleng kepala, Arthur tersenyum melihat dua gadis yang dia rawat makan dengan lahap.
Tidak butuh waktu lama makanan yang ada di meja ludes hanya meninggalkan piring dan sendok.
" Ayo kita berangkat." ucap Arthur mengajak mereka berdua untuk pergi.
Arthur, Rias dan Ruby berjalan keluar penginapan mendekati kereta barang yang akan mengantarkan ramuan ke desa Lumber, dia memacu kuda yang menarik kereta barang meninggalkan kota Terion.
****************************************
Terima kasih sudah membaca.
Dukung dengan Like, vote dan komen ya?.
****************************************
__ADS_1