Legenda Penguasa Dunia

Legenda Penguasa Dunia
Memprediksi Waktu Serangan


__ADS_3

Derton mendengar suara pelanggan membuka pintu toko miliknya, dia melihat seorang gadis cantik dengan pita di kepala. Sebuah pita yang digunakan untuk menutupi tanduk yang ada di kepala Rias.


Derton melihat dari ujung kaki sampai kepala Rias, terlihat Rias seperti gadis dewasa. Arthur menoleh setelah melihat Derton yang menatap Rias yang ada di sampingnya, dia tidak menyadari kalau gadis kecil yang dia rawat dan jaga sudah menjadi gadis dewasa yang sangat cantik.


“Kamu sudah tumbuh besar.” Derton tertawa mengingat awal bertemu Rias, gadis kecil yang lemah dengan tubuh kurus.


Rias menjadi cemberut mendengar perkataan Derton, Arthur mengerutkan dahi memperhatikannya.


“Ternyata kamu itu kurang peka, ya.” Derton menggaruk kepala yang tidak gatal sambil memperhatikan Arthur dan Rias.


“Aku justru terkejut, ternyata di kota ini banyak yang tergoda dengannya.”


Arthur mengingat hampir semua pria yang melihat Rias mendekatinya untuk mendapatkan perhatian. Derton menatap Arthur yang sedang mengingat kejadian yang terjadi seminggu terakhir.


“Tuan Arthur, kamu itu tidak mengerti apa?, gadis ini bukanlah gadis biasa.” Derton sejak awal menyadari kalau Rias bukan ras manusia melainkan iblis, sebenarnya dia ingin melapor pada kerajaan. Mengetahui Arthur adalah orang penting di asosiasi, Derton mengurungkan niatnya.


“Aku ingin membeli pedang baru untuknya.” Arthur berkata sambil melirik Rias dan menghentikan Derton yang sedang berbicara.


Setelah mendengar apa yang di cari Arthur, Derton pergi mencari pedang yang cocok untuk tubuh Rias dan tidak butuh waktu lama Derton kembali membawa beberapa pedang.


“Pedang seperti apa yang kamu inginkan.” tanya Arthur sambil mengayunkan salah satu pedang yang di perlihatkan Derton.


Rias tidak menjawab dan bertanya balik pada Arthur, “Tuan Arthur tidak membeli pedang.” Rias merasa bingung selama ini Arthur melatihnya dengan sebatang ranting yang di jadikan sebagai pedang.


“Tidak perlu yang lebih penting senjata untuk mu.” Arthur menjelaskan jika dia dapat menggunakan semua benda yang ada di sekitarnya sebagai senjata.


Rias mengangguk mengerti, dia pikir kata Arthur ada benarnya dan Rias mulai memilih pedang yang sudah di sediakan Derton.

__ADS_1


“Paman pedang ini bagus.” Rias mengayunkan pedang yang membuatnya tertarik. Pedang yang di genggam Rias adalah pedamg sihir, pedang yang di tempa menggunakan batu sihir.


Setelah Rias yakin dengan pilihan pedangnya, Arthur membayar pedang tersebut dan Arthur memperhatikan Rias sedang tersenyum bahagia mendapatkan pedang baru.


Arthur berbisik pada Rias kalau dia tidak memerlukan perlengkapan yang lain, Rias mengangguk paham setelah mendengar perkataan Arthur mereka pergi.


“Kruk-kruk”


Terdengar suara bunyi perut, " yang barusan itu bukan suara perut saya." jawab Rias setelah mendengar suara itu.


“Sepertinya itu suara perutku” jawab Arthur setelah menyadari gadis kecil yang biasanya selalu diam dan menuruti semua perkataannya sekarang menatapnya.


Mereka memutuskan untuk makan di sebuah restoran tempat biasa mereka makan. Pelayan berjalan mendekati Arthur menanyakan pesan mereka, pelayan itu sudah tidak takut lagi pada Arthur.


Arthur memesan makanan yang paling mahal yang ada di restoran, mereka merayakan Rias yang bertambah kuat.


“Tuan Arthur!, Saya bukan lagi anak-anak!. Tolong perlakukan saya layaknya orang dewasa.” Rias tidak mau terus di perlakukan seperti anak kecil.


Pelayan mencatat pesanan lalu pergi, menurutnya tidak baik berdekatan dengan orang bermasalah seperti Arthur dan Rias. Setelah menikmati makan malam, mereka kembali ke penginapan.


Pagi hari, Arthur dan Rias melihat kota Terion menjadi lebih ramai dari pada sebelumnya. Penduduk kota melihat pasukan berjalan bersiap untuk berperang melawan makhluk dari dunia lain.


“Kota semakin ramai, ya?.”ucap Rias memperhatikan ratusan pasukan berjalan.


Para penduduk kota melepas kepergian pasukan dari kota Terion, kebanyakan dari mereka berasal dari kota tersebut.


“Gelombang serangan sudah dekat, sebaiknya kita mempersiapkan diri.” Arthur berkata demikian menatap keramaian kota Terion yang mengirimkan pasukan untuk membantu menghadapi musuh yang datang.

__ADS_1


“Dimana tempat muncul makhluk itu.” gumam Arthur.


“Apa kalian tidak di beritahu?” Datang Derton mengejutkan Arthur, gumaman Arthur terdengar olehnya.


Di ibu kota Kerajaan, di alun alun kota terdapat sebuah gedung. Penyihir kerajaan yang memprediksi lokasi serangan makhluk dunia lain.


Derton menyuruh Arthur kembali ke ibu kota untuk melihat tempat yang sudah di perkirakan oleh penyihir kerajaan sehingga dia dapat bersiap di tempat yang sudah di tentukan.


Arthur berpamitan pada Derton menuju ibu kota kerajaan Asion, di luar kota Terion Arthur meminta Rias menutup mata karena dia akan berpindah ke kota Asterion.


“Ah.. apa yang terjadi?.” tanya Rias, dia kaget saat membuka mata sudah berada di dekat kota Asterion.


“Aku meggunakan kemampuan ku.” Arthur menjelaskan, dia tidak ingin membuat Rias bingung. Rias mengangguk dan ingin bertanya tapi Arthur tidak menjawabnya.


Mereka berdua berjalan menuju gedung penyihir kerajaan yang berada di alun-alun kota, Rias kagum melihat sekelilingnya begitu ramai dari kota Terion.


Arthur berhenti tepat di depan gedung penyihir kerajaan, di sana ada simbol matahari yang melambangkan cahaya tepat di atas pintu masuk gedung itu.


Penyihir yang bertugas mengantar Arthur untuk mengetahui tempat dan waktu terjadinya serangan, Arthur mengikuti dari belakang. Para penyihir kerajaan yang sudah memprediksi waktu serangan yang akan terjadi.


“Tuan silakan masuk ke dalam.” penyihir itu meminta Arthur masuk kedalam dan meminta Arthur untuk menunggu ketua penyihir.


Arthur dan Rias masuk dan duduk di sebuah kursi yang ada di dalam ruangan. Mereka menunggu ketua penyihir yang ada di gedung itu.


***


Terima kasih sudah membaca.

__ADS_1


Dukung dengan Like dan Vote.


__ADS_2