
Gadis penerima tamu melihat ke arah Arthur yang sedang berjalan mendekatinya, meja resepsionis berdekatan dengan ruang makan yang ada di penginapan tepatnya di lantai satu adalah sebuah restoran.
“Selamat datang di penginapan bulan.” gadis itu menyapa Arthur dengan hormat.
Gadis itu cantik, memiliki suara merdu dan lembut terdengar dari mulutnya, dengan senyum lembut memberi pesona tersendiri bagi orang yang melihatnya.
“Apa tuan ingin memesan kamar?” tanya gadis itu saat Arthur sudah berdiri di hadapannya.
Arthur memesan satu kamar untuk dirinya, terlihat pengunjung penginapan berlalu lalang masuk ke dalam, ada yang mencari makan dan juga kembali beristirahat.
Rata-rata pengunjung penginapan adalah seorang pendekar dan beberapa orang penyihir yang melakukan perjalanan.
“Baik, disini ada jenis kamar yaitu ukuran besar, sedang dan kecil. tuan ingin yang mana?” tanya gadis itu lagi.
“Kamar ukuran kecil saja” jawab Arthur ragu-ragu.
Arthur tidak tahu berapa harga semalam di penginapan ini, dia takut kalau koin yang dimilikinya tidak cukup.
“Kamar berukuran kecil, biaya permalam adalah 50 koin tembaga.” ucap sang gadis.
Arthur bingung dengan jumlah koin yang harus di serahkan kepada gadis itu, “Aku memesan untuk 4 malam.” ucap Arthur yang masih berpikir.
“Totalnya 2 koin perak, apa tuan ingin memesan untuk makan pagi juga?” tanya sang gadis.
Arthur mengangguk sambil menghitung koin dalam pikirannya, memastikan koin yang dia punya cukup untuk bertahan di kota.
“Kamar untuk 4 malam beserta 3 kali makan, biayanya adalah 2 perak, 15 tembaga.” ucap sang gadis resepsionis.
Arthur kemudian mengambil koin dari kantong kecil dan memberikan 3 koin perak kepada gadis itu dan mengambil kunci kamarnya.
Gadis itu memberi tahu kamar nomor 201, itu berada di lantai 2 penginapan dan Arthur berjalan menuju kamar, banyak orang yang menatapnya dengan tidak suka.
__ADS_1
Arthur melihat ke arah tubuhnya, dia baru menyadari pakaiannya begitu kotor dan hanya memiliki satu baju yang dia pakai beberapa hari ini.
“Kenapa aku lupa membawa lebih banyak pakaian saat di kota Alpa, padahal aku bisa meletakkan di ruang penyimpanan.” Arthur kesal sendiri menyadari tidak ada satupun baju yang di bawahnya.
Arthur tidak langsung ke kamar, dia menuju kamar mandi yang ada di penginapan untuk membersikan dirinya dan pakaiannya dan tidak lupa Arthur meminjam pakaian yang ada di penginapan.
Setelah selesai Arthur berjalan menuju kamarnya. dia tidak sengaja menabrak seorang gadis cantik.
Mereka berdua terjatuh, dengan posisi Arthur menimpa gadis cantik itu. Arthur tidak sadar kalau tangannya menyentuh dada gadis itu, dia sempat meremas beberapa kali hingga terhenti.
Saat melihat ke arah tangan yang menyentuh dada gadis tersebut, Wajah gadis itu memerah karena malu, ini pertama kalinya dia di sentuh oleh pria.
“Plak.”
Tamparan keras melayang ke wajah Arthur, ini juga pertama kalinya, dia mendapat tamparan seorang gadis. Setelah menampar Arthur, gadis itu pergi tanpa berbicara sama sekali.
Arthur ingin meminta maaf tetapi tidak bisa, karena gadis itu sudah pergi meninggalkan Arthur yang sedang berdiri sambil menyentuh bekas tamparan di wajahnya.
“Dia sangat cantik.” gumam Arthur menatap gadis itu pergi menjauh darinya.
“Tidak apa-apa, kalau boleh tahu siapa nama gadis cantik itu?.” tanya Arthur sambil menunjuk kearah gadis yang menabraknya.
“Oh, gadis yang menampar tuan.” ucap sang pelayan sedikit tersenyum, Pelayan itu sempat melihat kejadian yang di alami Arthur.
Arthur mengangguk, dia sedikit malu mengingat kejadian yang telah terjadi padanya.
“Itu nona Rin, salah satu pengunjung penginapan ini.” jawab sang pelayan.
Arthur masih memikirkan kejadian tadi menurutnya gadis yang menabrak itu sangat cantik, hingga dia disadarkan pelayan yang berdiri didepannya.
Pelayan itu undur diri masih banyak tugas yang haru dikerjakannya melihat pengunjung penginapan yang sangat ramai.
__ADS_1
Arthur kembali berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah membuka pintu kamar, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Arthur tidak bisa tidur, wajah gadis cantik itu selalu muncul di pikirannya. IaArthur yang tidak bisa tidur mengeluarkan kedua pedangnya dari ruang penyimpanan dimensinya.
Pedang bayangan dan pedang dimensi yang di berikan oleh Ace, kedua pedang itu di letakkan di depannya.
“Aku sudah hampir menguasi isi dalam buku itu.” gumam Arthur sambil memperhatikan pedang dimensinya.
Pedang bayangan mengeluarkan kabut hitam dan menarik pedang dimensi yang berada disampingnya.
“Desing...”
Kedua pedang itu saling berbenturan, mengeluarkan suara yang cukup keras seperti berusaha untuk menyatu.
Arthur hanya diam melihat yang terjadi pada pedangnya, tidak tahu apa yang harus di lakukan.
Tidak lama kemudian pedang itu menjadi satu, yang awalnya pedang bayangan bergagang hitam polos sekarang berubah menjadi hitam bermotif warna putih.
“Apa pedang bayangan dan pedang dimensi menjadi satu.” gumam Arthur yang masih bingung.
Dulunya Arthur menemukan pedang bayangan jatuh dari atas langit tepat dihadapannya, tanpa berpikir Arthur mengambil dan sampai sekarang pedang itu selalu bersamanya
Arthur berlari ke depan membuka pintu sambil melihat keluar, dia takut suara benturan pedang tadi membuat orang disekitarnya terganggu.
Arthur kembali duduk menatap pedang bayangan yang ada di depannya yang serang tampak berbeda. sudah pusing memikirkan masalah tadi, di tambah pedangnya sekarang ini.
“Ah, biarkan saja lah.”
Arthur menyimpan pedang bayangan, kemudian memutuskan untuk tidur karena dia sudah lelah untuk memikirkannya.
***
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca.
Dukung dengan Like dan Vote.