Legenda Penguasa Dunia

Legenda Penguasa Dunia
Hujan Api


__ADS_3

Arthur berlari sambil memperhatikan sekitarnya, dia mendekati orang yang meminta tolong. Arthur menebas undead yang ada di depan pria yang sedang terduduk di tanah.


“Cepatah pergi ke tempat yang lebih aman!.” teriak Arthur setelah menolong pria itu, dia kembali berlari menghabisi undead dan lebah merah yang mendekat.


Arthur melindungi semua penduduk desa dari serangan monster, sesekali dia mengingat kehancuran kota Alpa. Jika saja dulu dia sudah kuat, mungkin kedua orang tuanya tidak akan terbunuh.


Arthur terus berlari hingga ratusan lebah merah yang mendekat di tebas tanpa kesulitan, menyadari kalau lebah yang datang tidak ada habisnya.


Arthur memancing undead dan lebah merah untuk berkumpul agar dia dapat membunuh mereka semua dalam satu serangan.


“Aku harus melindungi nyawa mereka, tidak akan aku biarkan kejadian itu terulang.” gumam Arthur yang terus berlari sambil sesekali menghindari lebah yang menyerang dari udara.


“Semua, cepat kesini!.”


Di tempat lain Rias mengarahkan penduduk menjauh dari desa, dia dan para penduduk naik ke atas bukit tidak jauh dari desa. mereka dapat melihat desa yang terbakar beberapa penduduk wanita dan anak-anak menangis.


“Kalau sebanyak ini, pasti akan sulit menghabis mereka semua supaya tidak banyak penduduk desa yang menjadi korban.”


Arthur menatap menara kayu yang ada di alun alun desa, Arthur berlari dan melompat ke atas menara agar dapat melihat seluruh desa.


para penduduk yang terkepung oleh kawanan undead dan di atas mereka ada beberapa lebah merah. Arthur melompat dari menara membunuh semua monster yang mengepung penduduk.


“Sial, belum ada tanda-tanda akan berakhir!.” Arthur melihat lingkaran dimensi masih terbuka dan Rias sudah membawa semua penduduk ke tempat yang aman.


Arthur menarik nafas panjang setelah melihat semua undead sudah berkumpul di disekitarnya, musuh yang datang tidak ada habisnya.


“Teknik pedang dimensi, Tebasan pemotong waktu.”


Arthur hanya berdiri mengayukan pedang bayangan ke segala arah hingga semua undead dan lebah merah yang ada di sekitarnya terpotong menjadi dua.

__ADS_1


Arthur menggunakan langkah cepat untuk berpindah tidak jauh dari tempatnya tadi beridiri mencari penduduk yang tersisa. Dari jauh Rias terkejut saat melihat semua monster yang berada di tengah desa terbunuh.


“Teknik yang sangat hebat.” Arthur menatap semua monster sudah terbunuh, tinggal beberapa monster yang masih hidup berada di luar desa.


“Tuan Arthur!.” Seorang pria dengan zirah besi, Arthur menoleh dan mengenali pria itu adalah komandan Berian.


“Setelah melihat keberanian anda, kami para pasukan merasa malu dan kami juga akan bertarung.” Komandan Berian meminta Arthur agar membiarkan mereka membereskan sisanya.


“Baiklah.” Arthur menghargai keberanian pasukan itu.


Tiba-tiba muncul Giant undead dari atas Arthur, keluar dari lingkaran dimensi yang ada di atas desa.


Arthur yang menyadari bayangan dari atas dengan cepat melompat ke arah komandan Berian yang ada di dekatnya untuk menghindari monster yang jatuh dari atas.


Salah satu prajurit komandan Berian menyerang Giant undead, tidak tahu kalau monster yang ada bukanlah tandingan mereka.


Tekanan dari serangan itu membuat tanah terguncang membuat sebuah lubang besar, Giant undead mengangkat kapak untuk melakukan serangan kedua.


Arthur menahan kembali serangan untuk menyelamatkan pasukan yang berada di dekatnya, mungkin semua pasukan itu sudah mati terkena serangan Giant undead jika tidak ada Arthur yang menahannya.


“Teknik tiga tebas bayangan.”


Arthur melompat mengayunkan serangan beberapa kali hingga monster itu berbelah menjadi tiga bagian.


“Terima kasih tuan Arthur, telah menyelamatkan kami” Komandan Berkata demikian setelah Arthur membunuh Giant undead.


“Yang di sini serahkan pada kami, Tuan Arthur segeralah bantu mereka.” Komandan Berian meminta Arthur mendatangi lokasi kedua, tempat dimensi yang lain muncul.


“Baik, tolong berhati-hatilah.” Arthur meninggalkan tempat itu. Dia menoleh ke belakang, terlihat semua pasukan bertarung melawan undead dan lebah merah.

__ADS_1


Arthur melihat sebuah bola api di langit yang berkumpul di atas langit. “Bukankah itu?.” dia mengetahui apa yang terjadi dan mempercepat langkahnya.


Bola api itu menjadi hujan api yang jatuh membakar semua pasukan yang membantu tiga pendekar yang ada tanpa tersisa. Dengan menyatukan kekuatan sihir pelindung ketiga pendekar berhasil selamat, serangan hujan api tidak dapat menebus sihir pelindung.


Pasukan yang membantu tiga pendekat tersapu bersih oleh serangan hujan api yang di keluarkan monster yang mereka hadapi.


“Sekali serang langsung membunuh banyak pasukan!” Lavin menatap sekeliling setelah hujan api menghilang.


Wiliam dan Philip mendekati Lavin yang masih memperhatikan sekitar, hanya mereka bertiga yang selamat dari hujan api.


Raut wajah mereka berubah menjadi marah setelah mengetahui semua pasukan yang mengikuti mereka sudah terbunuh. Arthur menatap monster yang mengeluarkan hujan api.


Lavin melompat menyerang monster itu, serangannya berhasil di tahan monster itu. kulit yang di miliki sangat keras dan tiga pendekat yang ada tidak bisa melukainya.


“Tuan Arthur apa yang sedang terjadi di sini?” Rias menatap hutan yang sudah terbakar.


“Pergilah dari sini.” Arthur meminta Rias untuk menjauh, menurutnya monster itu memiliki serangan penghancur yang sangat berbahaya.


Rias melompat mundur setelah mendengar perintah Arthur, dia akan kembali ke desa untuk membantu pasukan komandan Berian.


“Tuan Arthur jangan sampai mati.” setelah berkata Rias pergi.


Arthur menyadari Rias sangat takut saat menatap monster yang sedang bertarung dengan ketiga pendekar. Hawa membunuh yang dikeluarkan monster itu sangat kuat, Rias yang merasakan tidak bisa bertahan lama.


***


Terima kasih sudah membaca.


Dukung dengan Like dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2