
Arthur turun di dekat kota Terion yang tidak jauh dari perbatasan kerjaaa Asion yang menjadi pusat perdagangan di kerajaan. dia memutuskan mencari anggota yang bisa di percaya karena dia punya rencana sendiri untuk pengikutnya.
Ethan kembali masuk ke dalam ruang dimensi Arthur dan akan memanggilnya jika di butuhkan, sebelum pergi Arthur berterima kasih pada Ethan karena telah mengantarnya.
Arthur berjalan masuk ke dalam kota Terion seperti biasa sebelum masuk dilakukan pemeriksaan identitas, para penjaga mengenali Arthur dan mereka melarangnya masuk kedalam kota akibat rumor yang beredar bahwa dia adalah seorang penjahat.
Arthur menatap para penjaga bergantian, mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat membuat para penjaga menjadi sulit bernafas dan para penjaga tidak berani setelah merasakan aura yang di keluarkan Arthur kemudian membiarkannya masuk ke dalam kota.
Para penjaga menyadari jika rumor yang diberitakan sangat berbeda dengan apa yang mereka saksikan sendri. Kalau Arthur sangat mengerikan dari pada monster yang pernah mereka hadapi.
Arthur melewati pertokoan, semua orang menatapnya dan membicarakannya. Seluruh kota di kerajaan sudah mendengar rumor yang beredar tentang Arthur, membuatnya di jauhi banyak orang.
Arthur berjalan di tengah kota Terion, tanpa peduli orang yang sedang membicarakan dirinya. Di setiap sudut kota terpampang gambar wajah Arthur, mungkin banyak orang yang kesulitan mengenali karena gambarnya yang kurang bagus.
Dia masuk kedalam sebuah bar yang ada di tengah kota lalu memesan makanan. Banyak pengunjung yang mengenali Arthur adalah seorang pendekar dari baju yang digunakannya seperti pada poster yang terpajang.
Arthur tetap menyantap makanan tanpa peduli dengan orang-orang yang menatapnya. Arthur sedikit terganggu dengan orang yang menatapnya.
“Tuan pendekar.” salah satu pria mendekati Arthur di ikuti 2 orang temannya.
“Aku punya sebuah bisnis.” Pria itu merangkul bahu Arthur, kemudian menjelaskan bisnis yang akan mereka akan lakukan.
Arthur menyadari kalau orang yang bersamanya adalah seorang penjual budak,
“Kalau begitu apa yang harus aku lakukan?” menatap pria yang ada di sebelahnya.
Pria itu menyuruh Arthur untuk menangkap gadis-gadis untuk mereka jual ke tempat perdagangan budak.
“Bagaimana dengan pembagian hasil?” Arthur bertanya pada salah satu orang yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Ketiga pria yang ada di hadapan Arthur tertawa senang mendengar Arthur akan ikut dengan bisnis yang akan mereka lakukan. “Hasil akan dibagi sesuai kinerja mu!.”
Arthur sedikit mulai kesal, melihat tingka mereka yang ingin mencari untung darinya dan meminta bayaran lebih dari hasil buruan mereka.
“Kalau kalian tidak mau, tentu saja aku tidak akan ikut dengan kalian.” Arthur memperjelas.
“Apa-apaan itu, bukannya kau menguasai semua hasilnya?” Sahut salah satu pria disebelah Arthur dengan kesal.
Pria itu menyetujui permintaan Arthur, “Aku bisa membunuhnya jika sudah tidak berguna.” batin pria yang menjadi pemimpin dari tiga orang pria itu.
Arthur berjalan mengikuti ke tiga pria yang dia temui di bar. mereka bertiga mengajak Arthur ke sebuah gubuk yang berada di tengah hutan.
Arthur menatap sebuah gubuk kecil yang ada di dalam hutan, gubuk kecil itu adalah tempat menahan gadis-gadis sebelum di jual di perdagangan budak.
“Apa itu markas perdagangan budak.” gumam Arthur tetap tenang mengikuti mereka dari belakang.
Meraka hanya butuh beberapa jam untuk sampai di gubuk di dalam hutan, terlihat beberapa penjaga yang sedang memegang golok.
“Siapa dia?” pemimpin kelompok itu menatap Arthur dengan penuh curiga.
“Dia adalah pendekar yang yang di usir dari ibu kota karena telah melakukan kejahatan." Salah satu pria menjawab.
“Ternyata kamu pendekar yang di rumorkan itu.” Pria itu menyodorkan tangannya menyambut Arthur.
Arthur menangkap tangan pria itu kemudian membantingnya, Salah satu pria mengeluarkan pisau dan beberapa penjaga yang ada diluar masuk ke dalam.
“Aku harus membunuh kalian semua”
Arthur mengeluarkan pedang bayanganya dan menebas satu persatu pria yang ada di dalam gubuk.
__ADS_1
Mereka menyadari kalau tidak bisa mengalahkan Arthur, akhirnya mereka mundur tapi Arthur tidak membiarkan untuk pergi dan membunuh semua orang.
“Sampai kapan kau akan bersembunyin disitu.” Arthur menyadari ada seorang pria yang berusaha bersembunyi darinya.
“Tuan jangan bunuh saya.” pria dengan tubuh besar berkata dengan tangan yang bergetar.
Pria bertumbuh besar sudah melihat teman-temanya terbunuh, bahkan mereka semua belum sempat melakukan perlawanan.
“Sepertinya kau dalam kesulitan, ya.” Arthur mendekati pria itu, dia bertanya dimana lokasi mereka menjual gadis-gadis yang mereka culik.
“Sebaiknya kau berkata jujur.” Arthur mendekatkan pedang bayangan tepat di leher pria itu.
“Baik” pria itu menjawab semua pertanyaan yang di ajukan Arthur, setelah mengetahui semuanya Arthur menarik pedang yang ada di leher pria itu.
Arthur tidak mengampuninya nyawanya tetapi langsung membunuhnya, tanpa di sadari pria itu terbunuh setelah mengucapkan terima kasih pada Arthur.
“Orang seperti kalian tidak akan aku biarkan hidup.” Arthur berjalan keluar gubuk, di dalam gubuk sudah di penuhi puluhan mayat penculik gadis.
Arthur membakar gubuk dengan kekuatan api hitam miliknya, tidak butuh lama gubuk tersebut rata dengan tanah tanpa meninggalkan jejak apapun.
Dia erencana mendatangi tempat penjualan budak yang ada di kota Terion, Arthur sudah mendapatkan informasi yang di butuhkan dari orang yang terakhir dibunuhnya.
Arthur mengikuti semua kata pria itu menuju sebuah tempat yang cukup besar, berada di pinggir kota Terion. Arthur butuh waktu sebentar untuk sampai di tempat perdagangan budak, dia menggunakan langkah cepat untuk melompati semua pohon.
Terlihat beberapa penjaga yang sedang berdiri di depan pintu sebuah penginapan, itu bukanlah penginapan bisa melainkan tempat dimana orang membeli dan menjual budak.
***
Terima kasih sudah membaca.
__ADS_1
Dukung dengan Like dan Vote.