
Kereta kuda Arthur mendekati pintu gerbang kota Terion, mereka di hentikan oleh penjaga saat ingin melewati gerbang.
Penjaga itu meminta bayaran jika ingin masuk ke dalam kota, Arthur memperlihatkan lencana pedagang yang di berikan Alan Rufus tetapi para penjaga bersikeras meminta biaya masuk kota.
Ruby melompat turun dari kereta melingkarkan sabitnya di salah satu penjaga gerbang, bersiap memotong leher bila menyinggung tuannya.
Penjaga yang lain menarik pedangnya, menatap Ruby yang sudah siap membunuh penjaga kota.
Rias menghentikan Ruby yang sudah siap menarik sabit, yang bisa membuat salah satu penjaga kehilangan kepalanya.
Penjaga yang menjaga gerbang kota mengenal Arthur sebagai pendekar lemah yang bekerja sebagai pedagang, mengira hanya pedagang biasa yang bisa mereka peras.
Itu adalah hari kesialan ke dua penjaga gerbang, mereka tidak tahu kalau Arthur dan salah satu gadis yang bersamanya sangatlah berbahaya.
Mereka tetap tidak mengijinkan Arthur masuk kota setelah melihat lencana pedagang milik Arthur, karena kesal Arthur menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi hingga penjaga tersebut terdiam.
Penjaga yang merasakan aura membunuh Arthur yang keluar langsung kesulitan bernafas, ingin memohon ampun tapi tidak dapat mereka lakukan.
Merasa ada keributan, kepala penjaga kota mendekati pria yang duduk di atas kereta kuda, dia mengenali Arthur salah satu pahlawan yang melindungi kerajaan Asion dari serangan monster dari dunia lain.
Kepala penjaga menatap dua penjaga yang kesulitan bernafas, mengetahui kalau itu adalah perbuatan Arthur. Dia langsung meminta Arthur untuk mengampuni mereka berdua.
“Apa kami sudah boleh masuk ?.”
Arthur bertanya pada penjaga yang sedang mematung denga raut wajah yang pucat masih ketakutan, ini pertama kalinya merasakan kematian yang berjalan mendekati mereka.
Kepala penjaga mempersilakan Arthur untuk lewat, mengambil alih karena mengetahui dua penjaga tidak bisa berbicara setelah merasakan aura membunuh Arthur.
Kedua penjaga duduk, keringat masih keluar membahasi wajah. mengetahui Arthur sudah pergi, kedua penjaga menghela nafas lega sambil menatap kereta kuda Arthur yang berjalan melewati gerbang.
“Tuan Arthur, rumahnya besar sekali ?.”
Rias menatap bangunan besar yang ada di pinggir jalan utama kota Terion, mereka bertiga telah sampai di kediaman Alan Rufus, sang pedagang terkaya di kota.
Penjaga membukakan pintu gerbang kediaman Alan, mempersilakan kereta kuda Arthur masuk ke dalam kediaman Alan Rufus.
__ADS_1
Para penjaga sudah mendapat perintah membiarkan Arthur, Rias dan Ruby masuk kedalam kediaman.
Pelayan keluarga Rufus mendekati Arthur saat turun dari kereta, mereka bertiga disambut oleh beberapa pelayan kediaman Alan Rufus dengan tersenyuman lembut.
“Silakan ikuti saya, tuan Alan sudah menunggu di ruang kerjanya.” salah satu pelayan mengantar mereka ke ruang kerja Alan Rufus yang berada di lantai dua.
Mereka menaiki anak tangga menuju ruangan, Rias dan Ruby kagum melihat semua barang yang ada di kediaman Alan, mata mereka tidak dapat berkedip menyaksikan semua kemewahan milik Alan Rufus.
Pelayan mengetok pintu ruangan menunggu jawaban Alan sebelum membuka pintu, “Tuan Alan, tamu anda sudah datang.”pelayan memberi tahu Alan.
Setelah mendapat izin, pelayan membuka pintu dan mempersilakan Arthur untuk masuk ke dalam ruangan.
“Pahlawan suci, silakan duduk.” Alan tersenyum menatap Arthur yang berjalan masuk, berita Arthur sudah menyebar di kota.
Arthur bingung mendengarnya, begitu juga Rias dan Ruby saling memandang bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Alan.
Arthur tidak mengetahui jika dia mendapat julukan pahlawan suci, sang penyelamat desa Lumber dan juga menperlihatkan banyak keajaiban, membantu para penduduk hingga mengatasi semua kesulitan yang ada di desa.
Alan Rufus menjelaskan semua yang dia tahu, sehingga Arthur paham mengapa Alan tadi memanggilnya pahlawan suci.
Arthur meletakan benih Trombe di meja, dia menggunakan sihir manipulasi tanaman agar tidak menjadi tumbuhan berbahaya yang menyerang desa Lumber.
Benih Trombe berbentuk bulat terdapat rambut kecil seperti buah rambutan berwarna merah.
“Itu sudah tidak berbahaya.”
Arthur mengetahui kalau Alan takut tanaman itu menjadi monster yang bisa menghancurkan kota jika ditanam.
Alan mengambil dan memperhatikan benih Trombe, Arthur juga memberikan satu buah Trombe pada Alan.
Arthur memberi tahu buah Trombe sangat enak dan manis, setelah yakin Alan mencoba buah yang di berikan Arthur.
“Benar-benar enak.” ucap Alan sembari terus memakan buah Trombe sampai habis.
Dia berpikir bisa mendapat keuntungan jika dapat menjual buah Trombe di kota, karena buah Trombe enak dan manis menurutnya penduduk kota pasti akan menyukainya.
__ADS_1
“Benih ini memang luar biasa, aku akan membeli semuanya termaksud buahnya.”
Alan Rufus ingin semua benih dan buah yang Arthur miliki, dia mengajak Arthur keluar untuk mengambil benih dan buah yang ada di kereta.
“Tuan Alan tidak perlu keluar.” ucapan Arthur menghentikan langkah Alan yang ingin keluar ruangan.
Alan bingung pada Arthur, padahal dia ingin mengambil benih dan buah yang ada di dalam kereta.
Arthur mengeluarkan dua kota benih Trombe dan enam keranjang buah dari ruang penyimpanannya di dalam ruangan kerja Alan.
Alan terkejut menatap semua benih dan buah Trombe yang Arthur keluarkan, penasaran dari mana semuanya itu.
“Dari mana itu semua?.” tanya Alan sambil menunjuk semua benih dan buah Trombe yang ada dihadapannya dengan raut wajah yang masih terkejut.
Arthur mengajak Alan kembali duduk, dia mengeluarkan satu cincin ruang penyimpanan dan memperlihatkannya pada Alan.
cincin itu adalah buatan Arthur sendiri memanfaatkan bahan yang berlimpah di dapatkan dari labirin bawah tanah.
Cincin ruang yang di keluarkan memiliki luas ruang 100 meter persegi yang dapat menyimpan berbagai macam barang kecuali mahkluk hidup.
Arthur menjelaskan benih dan buah Trombe di simpan di dalam cincin ruang, memudahkannya membawa benih dan buah Trombe tanpa kesulitan.
Cincin ruang sangat langkah hanya orang tertentu saja yang memilikinya, jika di jual mungkin harganya sangat mahal.
Alan sangat tertarik dengan cincin milik Arthur, dia langsung menawar dengan harga satu juta koin emas untuk cincin ruang itu.
Arthur akan menjualnya dengan syarat membantunya menjadi pedagang resmi, tanpa berpikir Alan langsung menyetujui syarat itu.
Arthur berencana membangun perusahaan yang memproduksi senjata dan berbagai macam alat sihir seperti cincin ruang penyimpanan.
***
Terima kasih sudah membaca.
Dukung dengan Like dan Vote.
__ADS_1