
Penginapan begitu sederhana kini kembali terlihat bersih di beberapa ruangan, bangunan dua lantai yang berada di tengah hutan sudah diterangi lilin dan lentera di depan penginapan.
Rias yang khawatir menyalakan semua penerangan yang masih tersisa di dalam penginapan.
Mereka tidak perlu lagi memesan kamar yang berada di lantai dua, karena sekarang Arthur sudah terlihat seperti pemilik penginapan.
Memang awalnya penginapan sepi dan gelap, sekarang sudah seperti penginapan yang menunggu pengunjung untuk datang.
Setelah Arthur membersikan meja, dia mengeluarkan makan dari cincin ruangnya. Memanggil Rias dan Ruby untuk menikmati makanan yang dibawa dari kota Terion.
Mereka melangkah mendekati Arthur yang sedang duduk, Rias dan Ruby telah membersikan ruangan yang akan di tempati untuk bermalam.
“Kalian masih dalam masa pertumbuhan, makanlah yang banyak.”Arthur menatap kedua gadis yang sedang duduk.
Arthur tidak ingin kedua gadis itu kelaparan, menyuruh Rias dan Ruby menikmati makanan yang sudah dihidangkannya.
“Terima kasih tuan Arthur.” ucap Rias dan Ruby bersamaan.
Mereka berdua mulai mengambil satu demi satu makanan yang ada di meja, Arthur memperhatikan mereka berdua makan dengan lahap mengingat mereka masih dalam proses pertumbuhan.
Mereka tidak bicara sepatah katapun saat makan, salah satu etika yang diajarkan Arthur pada kedua gadis dihadapannya untuk tidak berbicara saat sedang makan.
Setiap kali udara terasa dingin, Rias akan mulai batuk-batuk ringan walaupun dia merasa penyakitnya sudah sembuh, tapi kenyataanya belum sembuh sepenuhnya.
Arthur memandangnya dengan cemas menyadari kemampuan pengobatannya belum baik, tetapi Rias mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, padahal Arthur sadar kondisi Rias sedang tidak baik.
“Kali ini aku tidak akan membiarkan mu menderita.”
Arthur bertekad dalam hatinya, dengan pengetahuan yang dimilikinya dari Leonardo bukan tidak mungkin menyembuhkan penyakit yang diderita Rias.
__ADS_1
Selesai makan malam, Arthur duduk bersila di atas ranjangnya untuk melakukan pelatihan pernafasan untuk melatih tenaga dalamnya, sementara Ruby meminta izin untuk pergi untuk berjaga-jaga di luar kamar di temani Rias.
Mereka sudah terbiasa melihat Arthur yang memang hanya tidur beberapa jam saja setiap harinya, demi meningkatkan kemampuannya.
Mengetahui itu adalah salah satu kebiasaan Arthur saat berlatih, di lantai dasar Penginapan tidak ada pengunjung, Rias bernafas lega karena berpikir kejadian buruk akan terjadi jika ada seorang yang datang ditengah malam.
Hanya saja selepas makan malam, perasaan Rias menjadi tidak nyaman. Meskipun hari sudah gelap tetapi bisa dikatakan malam masih panjang dan kemungkinan untuk terjadi sesuatu masih ada.
Mengingat mereka masih berada ditengah hutan, Ruby dan Rias turun ke lantai dasar untuk mengamati situasi.
Lantai dasar Penginapan terlihat seperti restoran dan kedai minum terdapat di pojok ruangan, ada beberapa meja dan kursi untuk duduk menikmati hidangan.
Rias dan Ruby terkejut saat muncul seorang yang berdiri di depan penginapan, sambaran petir membuat pria itu terlihat seperti sosok putih yang memgejutkan mereka berdua.
Seorang pria tua berambut putih yang terlihat berusia 60an tahun dengan jubah putih yang sedikit basah dan membawa tongkat yang menopang tubuhnya.
Pria tua berambut putih hanya sendirian, hujan disertai angin yang kencang membuatnya harus menghentikan perjalanan.
“Ah, kami bukan pemilik penginapan ini.” Rias terlihat kebingungan dan juga khawatir dengan pria tua yang bertanya padanya.
Rias ingin mengusir pria tua berambut putih, namun melihat wajah pria tua itu dan juga sepertinya merupakan seorang kakek tua yang sedang kesulitan membuatnya tidak berani melakukannya.
Dari dalam kamar, Arthur menyadari kehadiran pria tua berambut putih yang berada di lantai dasar, dia pergi untuk melihatnya.
Arthur berjalan menuruni tanggan dan mendekati pria tua berambut putih tersebut, menatap Arthur yang berjalan kearahnya.
“Nak, siapa kamu sebenarnya?” suara pria itu dengan lembut, meskipun memiliki wajah yang tua tetapi sikapnya sopan terhadap Arthur.
Arthur tidak menjawabnya melainkan meminta izin duduk di meja yang sama dengan pria tua itu, melihat sikap Arthur yang baik, pria tua berambut putih mengangguk sembari tersenyum meiyakan.
__ADS_1
Pria tua berambut putih itu bingung harus bereaksi seperti apa, namun dirinya berterima kasih pada Arthur yang telah menyambutnya dengan hangat.
Pria tua itu merasa Arthur merupakan pemuda yang cerdas, aura yang di miliki Arthur berbeda seperti orang pada umumnya
“Kakek, tidak merasa lapar?” Arthur meminta Rias membawakan makan dan arak yang ada di pojok ruangan.
“Terima kasih.” Pria tua berambut putih itu menatap Rias yang meletakan beberapa hidangan di meja, mengeluarkan beberapa keping koin untuk diberikan pada Rias.
Dengan cepat Rias menolak saat mengetahui apa yang akan diberikan pria tua berambut putih itu.
“Terima kasih telah memberikanku makanan.” Pria tua itu kemudian memandangi Arthur dan terlihat kekaguman di matanya.
“Siapa nama mu?” tanya pria tua berambut putih yang penasaran dengan pemuda dihadapannya.
“Kakek, namaku Arthur Linford.” Arthur memperkenalkan diri dan kedua gadis yang berdiri di sampingnya yaitu Rias dan Ruby.
Arthur menjelaskan kalau dia seorang pedangan yang sedang berkeliling, di temani oleh kedua rekannya.
Belum sempat pria tua itu memperkenalkan diri, mereka sudah merasakan kehadiran beberapa orang yang sudah mendekati penginapan.
Arthur menatap pria tua yang ada dihadapannya, bertanya-tanya siapa orang yang ada diluar tetapi pria tua menggeleng kepala tidak tahu.
Arthur meminta Rias dan Ruby untuk tetap tenang menunggu situasi apa yang akan terjadi setelah beberapa orang itu masuk ke dalam penginapan.
Mereka semua sudah menunggu di lantai dasar penginapan, bersiap menyerang orang yang akan masuk.
***
Terima kasih sudah membaca.
__ADS_1
Dukung dengan Like dan Vote.