
Dia menahan pukulan monster itu dengan pedangnya, hingga pedang miliknya patah. Dan dia terlempar ke belakang menghantam dinding labirin.
Rin memuntahkan darah dari mulutnya. Via berlari mendekatinya untuk membantu. Gidan memberi mereka sihir pelindung agar mereka tidak mendapat serangan.
Dua monster itu terus memukul sihir pelindung Gidan, karena mendapat serangan berulang kali pelindung sedikit mengalami keretakan.
Dinding pelindung itu hancur, Rin dan Via hanya bisa pasrah melihat monster yang ada di hadapan mereka menyerang.
" Arthur, maaf." Batin Rin, menutup mata.
Muncul Arthur, menyerang monster yang ada di hadapan Rin.
" Apa yang terjadi ?." ucap Rin melihat monster itu sudah mati.
Semua orang yang melihat terkejut, begitu juga iblis yang melangkah mundur setelah monster miliknya mati.
" Kalian masih saja akur ya." ucap Arthur dari balik debu yang berterbangan.
" Arthur." Rin orang yang pertama mengenali Arthur dari suaranya.
" Hah itu Arthur, apa itu benar." Via tidak mengenali Arthur dengan penampilan barunya yang menggunakan baju hitam.
" Tenangkan dirimu Via." ucap Arthur.
" Teman-teman aku sudah memanggil bantuan." ucap Erdo.
" Erdo." ucap semua anggota tim.
Arthur melihat banyak monster yang mendekat ke arah mereka. Saat sebelum sampai dia memanggil Aron dan Ethan keluar dari cincin.
" Aron, tolong lindungi mereka." ucap Arthur.
" Baik, tuan." jawab Aron.
" Ethan, rawatlah ksatria berzirah lengkap yang terluka parah di sana."
" Baik, tuan." jawab Ethan.
" Arthur." Panggil Rin.
" Semua akan baik-baik saja jadi tetaplah disitu." Arthur menenangkan Rin.
" Serahkan semuanya pada tuan kami." ucap Aron.
Mereka semua saling memandang dengan banyak pertanyaan dalam pikiran mereka masing-masing.
" Aku tidak percaya, ada manusia yang mencari mati datang ke sini." ucap iblis.
__ADS_1
" Kalau tidak ingin mati segeralah pergi dari sini."
" Apa." Iblis itu tertawa
" Kalau pergi sekarang akan ku ampuni."
" Padahal cuma manusia, sesalilah perbuatan mu setelah mati ditangan ku."
" Begitu, jadi tidak masalah ku anggap sebagai musuh ?." Arthur menggeleng pelan.
" Sihir lemah apa yang kamu gunakan ini."
Arthur menyadari jika ada monster yang akan muncul di belakangnya, dia menangkap monster itu dan menariknya keluar dengan satu tangannya.
Rin dan yang lainnya terdiam melihat Arthur menangkap monster dengan satu tangan dan melemparnya ke atas.
Arthur menarik dua pistol dari penyimpanan dan menembak segala arah dengan masih berdiri di tempatnya.
Muncul pulahan monster yang bersembunyi dengan ke adaan mati terkena tembakan dari Arthur.
" Kenapa kamu bisa mengetahuinya ?." ucap Iblis itu saat melihat monster miliknya mati.
Arthur kembali menembak kemudian menyimpan satu pistolnya dan mengayunkan pedangnya saat monster berbentuk kelelawar mendekatinya.
Datang monster serigala hitam yang ikut menyerang Arthur tetapi dengan mudah dihabisi Arthur.
Dengan langkah cepat Arthur mendekati satu persatu monster yang ada dan langsung membunuhnya.
Arthur memperhatikan ada monster yang siap menembakan laser. Dengan cepat dia mengarahkan tangannya kedepan memunculkan perisai hitam yang dia buat sendiri dari bebatuan keras.
Serangan monster itu berhasil Arthur tahan dan dia berlari maju ke arah monster dengan terus menebak membuat kulit monster yang keras itu mulai hancur.
Akhirnya menusuk monster itu dengan pedang bayangan.
" Sepertinya kamu akan segera mati."
Arthur menatap Iblis itu mengingatkannya saat kematian orangnya yang di bunuh oleh monster.
" Siapa sebenarnya dia." ucap Amano.
" Memang sulit dipercaya. tapi, dia memang Arthur." ucap Erdo.
Amano dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Erdo.
" Sudah ku bilang, dia itu Arthur. Dia itu Arthur yang waktu itu terjatuh ke dalam labirin." Erdo menjelaskan.
" Tidak bisa dipercaya." gumam Gidan.
__ADS_1
" Penampilannya sudah berubah jadi wajar kalian tidak mengenalnya." ucap Erdo.
Jeki berkeringat, mengetahui kalau itu Arthur. Dia menjadi panik dan takut jika Arthur akan membalasnya.
" Itu bohong!, Arthur itu sudah mati. Jangan mengoceh dengan sesuatu yang tidak masuk akal." Jeki memegang kera baju Erdo. Dia belum mau mengakui kalau Arthur masih hidup.
" Aku sudah melihat karti identitasnya, jadi tidak salah lagi." Erdo berteriak.
" Pasti dia sedang menyamar dan merencanakan sesuatu." ucap Jeki yang masih panik.
" Diamlah." suara Aron membuat Jeki berhenti berbicara, Kemudian dia melihat ke asal suara.
" Apa kamu ingin menghalang Arthur lagi." Aron berbalik dan menatap tajam ke arah Jeki.
Muncul monster yang ingin menyerang mereka.
" Mereka datang lagi." teriak Gidan.
" Tenang saja." Aron mendekati mereka untuk melindungi.
" Bola api."
Aron mengarahkan tangannya ke depan dan munculah sebuah bola api yang menarik monster itu kedalam, hingga terbakar menjadi debu.
Ada beberapa monster yang ingin menyerang Ethan, kemudian dia mengambil palu yang cukup berat. Dan memukulkannya ke monster hingga membuat monster itu terlempar jauh.
Palu itu adalah pemberian Arthur yang dia buatnya saat berada di kastil.
Arthur melihat Rin ingin diserang monster, dia mengeluarkan sebuah pedang yang di buatnya sendiri.
" Rin tangkap ini." Arthur melempar pedang.
Rin mengayunkan pedangnya dengan sekali tarikan nafas, dia memotong monster menjadi puluhan bagian.
" Padahal ringan, tapi sangat kuat dan tajam." Rin menatap pedang di tangannya.
" Sudah selesai."
Arthur berjalan melangkah mendekati iblis yang ada di depannya dengan tersenyum.
****************************************
Terima kasih sudah membaca.
klik hati jika suka, silahkan vote dan komen ya?.
Mohon maaf jika tidak memuaskan.
__ADS_1
****************************************