
Arthur tiba di penginapan bulan, dia langsung berjalan menaiki anak tangga untuk beristirahat di kamarnya.
Kemudian membuka pintu kamarnya, dia mendengar suara langkah kaki yang sedang mendekat ke arahnya.
Gadis itu berlari ke arah Arthur, dengan cepat Arthur berbalik melihat seorang gadis yang mendekat dengan wajah yang panik.
Gadis itu menabrak Arthur hingga terjatuh masuk ke dalam kamar, dengan bibir mereka yang saling bertemu.
“Dia manis juga kalau di lihat dari dekat.” gumam Arthur mengingat gadis yang pernah dilihatnya.
Gadis itu langsung berdiri menutup pintu kamar Arthur yang masih terbuka, dia lupa dengan ciuman yang baru terjadi karena panik.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Arthur menatap gadis itu, dia adalah Rin yang pernah menabrakny.
“Tuan, ijinkan saya bersembunyi di sini!.”
Rin memohon ke pada Arthur yang sedang berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang masih panik.
“Kenapa kamu berlari ke sini?” tanya Arthur yang penuh curiga.
“Aku sedang di kejar.”
Rin menjawab dengan gugup dan nafas tidak teratur, dia tidak ingin Arthur mengetahui identitas.
Arthur sebenarnya tidak peduli tentang asal usul Rin yang terpenting dia sudah tahu nama dan tahu kalau gadis itu tidak berbahaya untuknya.
Rin terus memohon agar di bolehkan bersembunyi di kamar Arthur, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Arthur tidak tega membiarkan gadis cantik di depannya menangis.
“Baiklah untuk kali ini saja.” Arthur membiarkan Rin tetap di kamarnya sampai hingga situasi di luar sudah aman.
Arthur berjalan ke kasur dan merebahkan dirinya di atas sedangkan Rin terus berdiri di depan pintu.
“Sini temani aku tidur.”
__ADS_1
Arthur menjahili Rin yang sedang berdiri mematung di depan pintu, menurutnya Rin adalah gadis polos.
“Apa maunya pemuda ini.” Batin Rin.
Rin menatap Arthur, baru teringat kalau tadi dia tidak sengaja mencium Arthur dan wajahnya mulai memerah saat terbayang ciuman dengan Arthur.
“Apa kamu tidak capek berdiri terus disitu?.” Menepuk-nepuk kasur yang ada di samping mengajak Rin untuk mendekat.
“Aku belum mengetahui nama mu?.”
Rin berjalan mendekati Arthur yang sedang berbaring di atas kasur, dia tidak takut terhadap Arthur.
Arthur terlihat seperti pemuda biasa dari pada seorang pendekar, Rin memang tidak merakasakan kekuatan yang dimiliki Arthur jadi dia tidak takut padanya.
“Nama ku Arthur Linford.” Arthur mengubah posisinya menjadi duduk sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Rin Davira.” menjabat tangan Arthur.
Arthur menarik tangan Rin hingga jatuh di pelukannya dan berbisik kepada Rin. “Kamu tadi telah mencium ku, sekarang harus bertanggung jawab.”
Rin kemudian berlari keluar menurutnya sudah aman dengan raut wajah yang masih memerah karena malu.
“Sepertinya aku mulai menyukainya.” gumam Arthur melihat ke arah pintu tempat Rin berlari keluar.
Arthur kemudian memutuskan untuk tidur karena besok dia akan kembali mendatangi Guild Perisai Perak.
Matahari sudah memancarkan sinarnya, Arthur melakukan kegiatan paginya dengan merengangkan otot tubuhnya sebelum melatih kekuatan fisiknya dan setelah itu semua selesai Arthur bersiap untuk turun ke lantai satu
Arthur menatap Rin yang sedang duduk menikmati sarapannta. “Selamat pagi Rin” ucap Arthur kemudian duduk di depan Rin seolah mereka sudah dekat.
“Selamat pagi.” Rin menjawab dengan malas, dia mengingat kejadian semalam.
“Ada apa Rin? Kau terlihat kesal.” tanya Arthur yang penasaran dengan sikap Rin padanya, terlihat memancarkan kemarahan.
__ADS_1
“Bukan urusanmu!.” Arthur makin bingung dengan jawaban Rin dengan kasar, yang dirinya pikir adalah kejadian tadi malam.
“Kenapa kau menjawabku seperti itu? Apa kau sedang ada masalah.” Arthur tidak mengetahui kalau Rin juga sudah mulai menyukainya.
Rin seorang gadis yang baik, dia suka Arthur karena menurutnya Arthur adalah orang yang baik.
“Sudah kubilang ini bukan urusanmu!.” Rin berteriak dengan sangat kesal sampai mengagetkan semua orang yang berada di lantai satu.
“Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi.”
Arthur memutuskan untuk tidak bertanya lagi. dalam keadaan seperti ini, Rin akan bertambah marah padanya. meskipun tidak lagi bertanya, Arthur tetap memandang wajah Rin yang sangat cantik.
Rin sudah selesai makan, tapi dia tetap ditempat dan tidak bergerak kemanapun. Dalam hatinya dia masih menunggu Arthur berusaha membujuknya.
Wajahnya terlihat cemberut dan seperti menahan sesuatu dan Arthur tidak tahan melihatnya seperti itu.
Saat ini seorang gadis sedang bersedih dan akan menangis jika Arthur membiarkan. Sebagai pria sejati, dia tidak membiarkan gadis menangis, apa lagi Rin orang yang disukai Arthur.
Arthur segera berpikir bagaimana cara untuk menghiburnya. Dia menghabiskan makanan dan menatap Rin dengan serius.
Sepertinya Rin menyadari tatapan dan kembali menatap Arthur, namun tidak seperti sebelumnya, tidak melihat kemarahan, melainkan berharap Arthur mengatakan sesuatu yang dapat membuatnya senang.
“Rin, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan. tidak kekuasan dan uang ya, soalnya aku miskin.” Setelah berbicara Arthur tersenyum kecut.
Rin mengangguk pelan mendengar Arthur dan terlihat dirinya menyembunyikan senyum bahagianya dari Arthur.
“Jadi apa yang kamu inginkan dariku?” Mendengar itu, Rin menatap Arthur penuh kecemasan.
Arthur berusaha agar gadis dihadapannya tidak marah lagi padanya, Rin diam memikirkan apa yang dia inginkan tanyakan. Sebenarnya Rin sudah memperhatikan Arthur dari awal, saat Arthur masuk ke penginapan bulan.
Rin jatuh cinta pada pandangan pertama walaupun pakaian Arthur terlihat seperti pengemis tetapi Rin tidak memperdulikan itu.
***
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca.
Dukung dengan Like dan Vote.