
Di kediaman Crozzo, Aron meminta Welf mengikutinya, tidak jauh dari rumah yang terbakar ada empat mayat yang terbaring di tanah.
“Bantu mengangkat mayat ini ke rumah mu” perintah Aron tanpa menjelaskan apapun.
Ke empat mayat itu adalah orang suruhan jendral Jaden yang mati tanpa perlawanan, mereka semua terbunuh oleh Aron saat mulai membakar rumah tapi sisahnya berhasil melarikan diri tanpa mengetahui siapa yang menyerang anggota mereka.
Welf membantu Aron mengangkat mayat itu ke dalam rumah yang sudah terbakar menyisahkan puing-puing bangunan saja.
“Ingin melakukan apa dengan mayat ini?” gumam Welf sambil meletakan mayat terahkir.
Mereka membaringkan ke empat mayat tepat di ruang makan, dimana saat penyerangan keluarga Crozzo sedang menikmati makan malam.
Api muncul dari mayat yang mereka letakkan di lantai, Welf terkejut dengan yang terjadi pada mayat yang di angkatnya tadi.
“Aku harus berhati-hati dengan dia.” batin Welf, dia takut setelah apa yang terjadi pada mayat suruhan Jaden.
Menatap Aron yang sedang membakar mayat itu hingga menjadi abu yang menyisakan beberapa tulang yang tidak terbakar habis, meninggalkan jejak keluarga Crozzo yang tewas terbakar.
Welf mengerti Sekarang Keluarga Crozzo sudah hilang dari desa besi, karena kebakaran yang terjadi di kediaman Crozzo menyebabkan seluruh keluarga tewas.
Sebelum pergi dia mencari tubuh Luke yang terbakar, mencari di sekitar rumah yang hampir rata dengan tanah dan masih menyisahkan hawa panas.
“Sebaiknya kita cepat pergi dari sini.”
Aron mengingatkan Welf, dia tidak tahu kapan orang suruhan Jaden datang untuk memeriksa mayat keluarga Crozzo.
Welf melangkah menjauh dari rumah dengan rasa kecewa tidak menemukan tubuh Luke yang terbakar api tanpa tersisa.
Mereka masih menunggu Cattelya yang pergi, Welf memberanikan diri untuk bertanya dengan rasa takut yang berusaha disembunyikan.
“Tuan, kalau boleh tahu siapa sebenarnya anda?.”
Welf menatap Aron yang sedang berdiri tidak jauh darinya, berharap tidak menyinggung pria berbahaya yang ada dihadapannya
Aron memperkenalkan diri, dia mengaku kalau dirinya adalah seorang pelayan yang akan menjaga mereka.
“Jika kalian ingin ikut denganku, aku akan membawa ke tempat yang lebih aman” Aron kembali mengajak, menurutnya Welf masih ragu pada dirinya.
Welf akan memberi jawaban setelah Cattelya datang, dia masih harus berdiskusi dengan adiknya.
__ADS_1
Cattelya berlari ditengah malam yang sepi, di sepanjang jalan menahan emosi atas kematian Luke.
“Kau sudah kembali.” Aron melihat Cattelya datang membawa barang dan Giant sword di punggungnya.
Cattelya mendekati Welf yang sedang duduk di samping Claudia yang masih pingsan, tidak bisa menerima kematian Luke.
“Kak ini barang-barang yang bisa ku bawa dari bengkel.”
Cattelya menyerahkan semua barang pada Welf, dia berdiri mendekati Aron yang tidak jauh dari mereka.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” Welf berusaha menahan, Cattelya berjalan sambil mengangkat Giant sword di bahu dan tidak menghiraukan Welf.
Aron hanya berdiri dengan tenang menyilang kedua tangan di dada, masih menunggu untuk membawa mereka semua ke tempat yang aman.
“Apa yang kamu inginkan dari kami?”menatap Aron dengan penuh curiga.
Aron belum sempat berbicara tetapi Cattely sudah mengayunkan pedangnya, membuat lubang besar di tanah.
Aron menghindar, berlari menjauh dari Cattelya sambil mencari tempat yang jauh dari desa, menurutnya desa sudah tidak aman untuk keluarga Crozzo jika tetap di sana.
“Sebaiknya kamu ikuti adik mu.”
Aron terus berlari hingga berhenti di tempat yang sepi jauh dari desa besi, mereka berhasil keluar tanpa di sadari penjaga desa.
“Sampai kapan kau lari?” teriak Cattely yang fokus mengejar.
Aron tersenyum melihat Cattelya yang sudah tidak kuat untuk berlari, dari jauh Welf membaringkan Claudia sambil terus memperhatikan.
Terlihat Aron sudah tidak berlari lagi, Cattelya melompat menghempaskan pedangnya ke tanah membuat di sekitarnya bergetar.
“Apa segitu saja kemampuan mu?.”
Cattely menjadi kesal mendengar ucapan Aron, muncul angin di sekitar Giant Sword miliknya.
“Terimalah ini.”
Cattely mengayun pedangnya kesamping, membentuk pisau angin mengarah pada Aron, dengan cepat Aron melompat menghindari tebasan Cattelya.
Serangan Cattelya menghancurkan sebagian hutan yang ada dibelakang Aron, dia berpikir untuk mengakhiri pertarungan ini dengan cepat sebelum hutan menjadi rata dengan tanah.
__ADS_1
Aron terus meminta Cattelya untuk menghentikan serangannya sambil terus menghindari serangan pedang Cattelya.
Cattelya yang terbawa emosi tidak mendengarkan semua ucapan Aron, dan memilih untuk menyerang tanpa henti.
Tidak satupun serangan melukai tubuh Aron, Cattelya sudah mengeluarkan banyak tenaga, gerakan pedangnya tidak bisa menandingi Aron yang lincah.
“Aku tidak bisa mengalahkannya” gumam Cattely, mengelap keringat yang membasahi wajahnya.
Aron yang tidak mau membuang-buang tenaga lagi, maju mendekati Cattelya yang sedang terengah-engah karena sudah hampir mencapai batasnya.
“Maafkan aku nona” berbisik di telinga Cattelya.
Aron sudah muncul dihadapan Cattelya, sentak Cattelya terkejut melangkah mundur menjauh dari Aron.
Pukulan Aron telak mengenai perut Cattelya hingga kesadarannya hilang, Aron menangkap tubuh Cattelya yang hampir terjatuh dengan cepat.
Welf yang menyaksikan itu langsung menghampiri Aron, takut kalau adiknya sampai di bunuh. dari yang dia lihat Aron sama sekali tidak memiliki belas kasih saat membakar mayat suruhan jendral Jaden.
“Tuan, ampuni nyawa kami.”
Welf berlutut dihadapan Aron meminta pengampunan, berharap dapat menyelamatkan nyawa mereka semua.
Aron tertawa saat mendengar Welf memohon, sebenarnya dia tidak ada niat untuk membunuh mereka.
“Baiklah, kalian harus ikut dengan ku.”
Aron mengajak Welf menuju sebuah desa kosong yang sudah di tinggal pergi penduduknya, Welf menerima tawaran itu dan berjanji akan mengikuti semua perintah yang diberikan untuknya.
Desa itu sudah lama hancur karena serangan siluman yang keluar dari Lembah Bulan, hanya berbatasan antara gunung yang mengelilingi Lembah Bulan.
Aron ingin keluarga Crozzo, melayani Arthur dan menjadi pengikut setianya.
Mereka beristirahat sebentar menunggu Cattelya dan Claudia sadar, Aron tidak ingin berjalan sambil menggendong Cattelya yang pingsan.
***
Terima kasih sudah membaca.
Dukung dengan Like, dan Vote.
__ADS_1