
Karina dan Luke sedang berlari melewati perbatasan kerajaan Spin. Daerah luas yang di penuhi banyak pasir dan batu besar di sepanjang perjalanan, menurut legenda dulu pernah terjadi perang besar yang melibatkan tiga ras yaitu dewa, iblis dan manusia.
Perang tersebut menjadikan tanah yang subur menjadi gersang, tidak ada satupun hewan dan tumbuhan yang dapat bertahan hidup di sana.
Mereka sudah tiga hari berlari dari tempat Aron dan lainya, mereka beruda masih perlu dua hari lagi untuk melewati perbatasan.
Cuaca sangat terik siang ini, membuat udara disekitar terasa panas. Ditambah daerah gersang yang tidak memiliki satu pohon pun untuk berteduh, membuatnya tidak salah bila wilayah ini dikenal dengan sebutan tanah mati.
“Panas sekali.” ucap Karina sembari meminum air yang ada di kantong kulit. Karina dan Luke semakin dekat bahkan mereka berdua terlihat seperti pasangan saat berjalan berdampingan.
“Siapa kemarin yang tidak ingin melewati hutan.” Luke yang mengusap keringat di wajahnya, menurutnya jika mereka lewat jalan yang lain pasti tidak mengalami hal seperti ini.
Karinya hanya terdiam dan tidak membalas perkataan Luke. Karina tidak memilih lewat hutan karena harus memutar lagi dan membutuhkan waktu lebih lama dari jalan yang mereka lewati sekarang.
“Iya, aku yang salah” jawab Karina sedikit kesal, sepanjang perjalanan mereka selalu beradu mulut. Itu semua yang membuat Karina dan Luke dekat.
Permbicaraan mereka kemudian dihentikan oleh getaran di bawah tanah dan suara getaran itu semakin mendekat ke arah mereka.
“Luke, suara apa itu?.” Luke tidak menjawab pertanyaan Karina dan menunjuk tanah yang bergerak, tidak jauh dari tempat mereka berdiri. tiba-tiba tanah mendadak terbelah, seolah ada yang berjalan dengan sangat cepat di dalam tanah.
"Kurasa kita harus menjauh. Aku merasakan sesuatu yang berbahaya dari bawah” Luke mengajak Karina untuk cepat meninggalkan tempat itu.
Dari dalam tanah muncul cacing besar yang melompat keatas dengan kulit berbentuk sisik ular yang melindungi dari gesekan tanah. Karina dan Luke belum bergerak dari tempat mereka, saat cacing besar itu muncul di hadapan mereka dan kembali masuk ke dalam tanah.
Luke sudah bersiap menarik katana yang berada di pinggangnya dan langsung membatalkan niatnya setelah makhluk itu muncul.
“Apa kamu melihatnya, Luke?.”
__ADS_1
“Iya. aku juga melihatnya.” Luke mengenali makhluk itu, makhluk yang di ceritakan sebagai penjaga tanah mati. makhluk itu bernama cacing predator adalah makhluk yang memakan semua yang ada di atas permukaan tanah.
“Ayo kita pergi” Luke segera menarik tangan Karina untuk cepat keluar dari tanah mati. mereka pasti akan kesulitan menghadapi cacing predator yang bisa bersembunyi di dalam tanah.
Hari mulai beranjak malam. Mereka berdua sudah berjalan cukup jauh dari tempat sebelumnya. Luke yang tampak memandang berkeliling, memastikan keadaan sekitar sudah aman.
“Apa itu cahaya api unggun?” tanya Karina menatap titik cahaya yang tidak jauh dari mereka.
“Sepertinya.” Tanpa rasa takut mereka berjalan mendekat ke arah cahaya itu berasal. terlihat sebuah kereta dan seorang pria tua yang sedang duduk di depan sebuah api unggun.
Menyadari Karina dan Luke menghampiri, pria tua tadi segera berdiri dengan tongkat kayu di genggaman tangan kanannya. pria itu terlihat menatap Karina dan Luke dengan wajah takut.
Mendapati reaksi dari pria tua yang mewaspadai mereka, Luke segera menyapa, “Selamat malam, Tuan. Kami sedang dalam perjalanan pulang ke desa. Apakah boleh, bila kami ikut beristirahat di tempat Anda ini?” Luke berkata dengan lembut memperlihatkan jika diri mereka tidak berbahaya.
“Oh, syukurlah kalian bukan bandit.” pria tua tersebut merasa lega setelah mengetahui Luke dan Karina bukanlah bandit yang akan menjarah barang miliknya.
“Perkenalkan, nama saya Koniko.” pria tua memperkenalkan diri setelah Karina dan Luke selesai memperkenalkan dirinya.
“Apakah kalian seorang pendekar?” tanya kakek Koniko setelah melihat dua pedang yang menyilang di belakang pinggang Karina dan Katana Luke yang di letakkan disebelahnya.
Kakek Koniko menatap Karina yang melepas tudung kepalanya, Koniko tidak merasa takut setelah melihat wajah Karina yang berkulit sedikit abu-abu dengan telinga runcing memperlihatkan gadis di hapadapannya bukanlah manusia.
“Benar, kami memang pendekar yang melakukan perjalanan ke selatan. Sedang anda sendiri berasal dari mana kalau saya boleh tahu?” Luke memulai percakapan dengan Kakek Koniko.
“Saya dari desa kecil di kerajaan Spin, seminggu perjalanan dari perbatasan ini.”
Jawab kakek Koniko sambil mengeluarkan beberapa roti untuk menemani pembicaraan mereka.
__ADS_1
Pagi harinya karena usulan dari Luke, mereka berdua meminta Kakek Koniko untuk membawa mereka menggunakan kereta Kakek Koniko keluar dari perbatasan.
Kereta itu sudah mulai berjalan, Kakek Koniko mempersilakan mereka berdua untuk ikut bersamanya. Kakek Koniko adalah seorang pedagang, terlihat dari kereta empat roda yang membawa banyak barang dengan kerangka bambu yang ditutup kain sebagi pelindung dari hujan dan panas matahari
Luke yang merasa tidak nyaman meminta Kakek Koniko untuk duduk di dalam kereta dan Luke yang mengemudikan kereta kuda tersebut melewati tanah yang gersang.
Dua hari setelah mereka melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta tanpa menemukan kendala, akhirnya mereka melihat tebing batu dengan sebuah celah untuk keluar dari tanah mati.
Cacing Predator muncul menghalangi jalan mereka, Luke mengira perjalanannya dua hari ini tidak ada kendala. Tapi sayangnya cacing predator sudah menunggu mereka di depan tebing batu.
Pertarungan tidak bisa di hindari, sebelum Luke dan Karina berlari mendekati cacing predator, mereka meminta Kakek Koniko untuk pergi meninggalkan mereka.
Kakek Koniko mengiyakan, dia tidak ingin menjadi beban kedua pendekar yang ada bersamanya, sebelum pergi Luke berterima kasih dan meminta Kakek Koniko untuk melanjutkan perjalanannya.
Setelah kereta kuda Koniko pergi tanpa mendapat serangan, Luke bernafas lega. Karina sudah terlebih dahulu menyerang cacing predator yang terlihat kelaparan. Mungkin cacing itu kesulitan mendapat makanan di daerah gersang dan jarang di lewati.
“Apa yang harus kita lakukan?.” tanya Luke, beberapa serangnya tidak berhasil menembus kulit cacing itu dan Karina masih memandang sekeliling mencari keberadaan cacing predator yang masuk ke dalam tanah.
“Luke, Awas.” Karina mendorong Luke yang mendapat serangan cacing predator dari belakangnya.
Karina mendorong Luke untuk menghindari mulut cacing predator sudah membuka lebar siap menelannya. Luke tidak menemukan Karina dan tepat disampingnya setengah tanah hilang.
***
Terima kasih sudah membaca.
Dukung dengan Like dan Vote.
__ADS_1