
Arthur menatap Rin yang sedang duduk di hadapannya. “Baiklah, tidak masalah. Katakan saja.”
Rin memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Arthur yang sedang menunggu dia berbicara. “Aku ingin bertanya padamu, dan kamu harus menjawabku dengan jujur!.”
Arthur tidak tahu apa yang ingin di tanyakan. Tapi dia menyetujui dan akan menjawabnya dengan jujur apa pun itu.
Rin diam untuk beberapa saat, Lalu mengusap matanya dan menatap Arthur dengan serius. Entah kenapa, firasat Arthur jadi tidak enak.
Rin bertanya apa Arthur sudah memiliki wanita, dia ingin tahu karena sudah sangat menyukai Arthur dan tidak ingin orang lain memilikinya.
Bukan hanya Arthur, tapi semua orang di ruangan yang mendengarkan, memiliki reaksi bingung dengan ucapan yang keluar dari mulut Rin.
“kenapa tiba-tiba kau bertanya soal itu?.” tanya Arthur yang sedikit canggung melihat semua orang yang menatapnya.
Seorang gadis menanyakan itu membuat semua orang terkejut, apalagi Rin adalah gadis yang sangat cantik.
“Kenpa hanya diam saja, cepat jawab pertanyaanku!” ucap Rin yang sudah kesal menunggu jawaban Arthur, dia tidak sadar kalau sudah tidak seperti biasanya.
Arthur berpikir cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Rin, dia menatap Rin yang sedang menunggu jawabannya.
“Baiklah, akan ku jawab dengan jujur.” Arthur menghela nafas sebelum berbicara
Rin mengangguk dan menatap Arthur dengan lebih serius dari sebelumnya, berharap Arthur belum memiliki wanita lain.
“Sebenarnya, ada.” ucap Arthur dengan santai, membuat Rin bertambah kesal tidak tahu apa yang ada di dalam pikirnya.
“Siapa, Apa orangnya ada di kota ini?” tanya Rin yang penasaran dan Arthur memgangguk yang membuat Rin makin penasaran. Rin bertanya pada Arthur tentang wanita yang di sukai seperti apa.
“Wanita yang memiliki sikap yang baik tanpa memaksakan diri atau berpura-pura dan wanita yang memiliki hati yang tulus.” Arthur menjelaskan semua.
__ADS_1
“Jadi, selama wanita itu orang yang baik, kamu akan menyukainya?” tanya Rin.
“Maksud dengan suka itu, cinta atau hanya sekedar suka?” tanya Arthur yang merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Rin, jadi memastikannya.
Tapi Rin hanya diam. Dia seperti tidak berani atau malu untuk mengatakannya, karena wajahnya terlihat memerah.
“Rin” panggil Arthur, membuat Rin terkejut dan mengucapkan kata yang tidak bisa di ucapkannya tadi.
“Cinta.”
Wajah Rin semakin memerah, hingga dia menutup wajah dengan ke dua tangannya. Kemudian Arthur berdiri mendekatkan mulutnya ke telinga Rin dan berbisik.
“Kamu jatuh cinta sama aku ya?” Bisik Arthur di telingan Rin.
" Tidak." dengan cepat Rin memalingkan wajah yang memerah.
“Kalau begitu, kenapa kamu memalingkan wajahmu dariku dan wajah mu memerah?” Arthur memperhatikan wajah memerah
Arthur benar-benar tidak dapat memahaminya, ini pertama kalinya aku berhadapan dengan sikap wanita.
“Kamu benar-benar tidak menyukaiku!. kalau gitu aku mau mencari wanita yang mencintai ku saja.” Arthur tersenyum kemudian berdiri, dia ingin melihat apa yang akan di lakukan Rin.
“Kamu aneh, Dasar bodoh. Kenapa harus aku yang mengucapkan duluan.” gumam Rin tidak berani mengungkapkannya tapi di dalam hatinya dia tidak ingin Arthur dimilik orang lain.
“Ah.. aku menyukaimu!” Rin tiba-tiba berteriak kepada Arthur dan berlari keluar meninggalkan penginapan, sambil menahan rasa malu.
Sedangkan Arthur, dia mengalami kejutan yang sangat besar, hingga membuatnya terdiam ditempat karena tidak pernah menduga kalau Rin akan mengucapkannya langsung.
Setelah beberapa saat, dia menyentuh dadanya, jantungnya berdetak kencang seperti mau pergi berlari dari tempatnya.
__ADS_1
Suara yang begitu berisik tiba-tiba menjadi tenang dan tidak ada satu pun kata yang keluar dari setiap orang yang melihatnya, semua orang disana hanya melihat dengan tatapan penuh rasa iri, dan hanya menghela nafas serta menggelengkan kepala.
Setelah beberapa saat terdiam dalam kesunyian, Arthur sadar dan mulai bergumam pada dirinya sendiri.
“Apa Rin benar-benar menyukai ku? Tapi dia belum terlalu mengenal ku.” Kemudian Arthur berlari keluar mencari Rin tetapi dia tidak menemukanya.
“Aku baru ingat, kartu guildku seharusnya sudah jadi hari ini.”
Mencari tidak menemukan Rin, Arthur pun meninggalkan penginapan dan pergi ke Guild Perisai perak dengan khawatir dan merasa bersalah pada Rin.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Arthur sampai di Guild Perisai perak. Seperti biasa, disana ramai orang. Banyak pendekar yang sedang mengobrol dan memilih misi untuk diambil.
Semuanya akrab tanpa adanya perkelahian. Melihat itu membuat Arthur merasa sedikit lebih tenang, karena dia tidak suka dengan keributan.
“Orang yang tidak berguna sepertimu, sebaiknya pergi dari sini!.”
Seorang pria besar dengan luka yang ada dipipi kirinya, meneriaki tangan Arthur yang sedang berdiri.
Pria itu melihat Arthur seperti pecundang yang tidak memiliki kemampuan bertarung dengan tubuh yang tidak besar.
Arthur sudah ingin menarik pedang bayangannya keluar untuk menebas leher pria yang menarik tangannya itu.
Elisa menahan nafas saat melihat Arthur ingin menarik pedangnya keluar dari sampingnya. dia tidak tahu pedangnya muncul dari mana, yang terlihat kalau Arthur tidak membawa senjata sama sekali.
Dengan cepat Elisa mendekati Arthur dan berusaha menahan agar tidak mengeluarkan pedangnya. hanya Dia yang menyadari kalau Arthur sudah menarik sedikit keluar gagang pedangnya.
Elisa Abony berusaha memisahkan Arthur dengan pria itu, takut kalau Arthur akan mengamuk dan menghancurkan guildnya.
***
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca.
Dukung dengan Like dan Vote.