
Widodo yang baru mendapatkan telpon pun langsung bergegas ke rumah sakit.
dia pun langsung memeluk Tyas yang sedang menangis histeris, pasalnya gadis itu baru saja mendapatkan kabar buruk.
pengacara Ridwan juga datang, dia pun juga bisa melihat bagaimana gadis itu begitu sedih.
"ada apa Wid?" tanya pengacara Ridwan.
"aku juga tak tau, saat aku datang gadis ini sudah histeris dan menangis," kata Widodo yang juga bingung.
"maaf tuan-tuan, apa anda keluarga dari pasien nyonya Sasa?" tanya seorang suster.
"iya suster, saya kakaknya," jawab Widodo.
"kalau begitu tolong urus adminstrasi untuk kepulangan jenazah tuan, karena nona ini dari tadi tak bisa di mintai keterangan," kata suster itu.
tiba-tiba tubuh Tyas limbung, pengacara Ridwan kaget, dia tak mengira jika mami Sasa meninggal dunia.
"bagaimana dia bisa meninggal suster, di tadi siang masih baik-baik saja?" teriak pengacara Ridwan tak terima.
"kankernya menyebar dengan ganas, dan pendarahan parah yang membuatnya kehilangan nyawa karena kehabisan darah," jawab suster memberikan surat kematian.
pengacara Ridwan mengurus semua kepulangan jenazah, Widodo pun melarang pengacara Ridwan menghubungi Arthur ataupun kedua asistennya.
dia tau jik pria itu sudah pergi dari kota Surabaya, karena tadi dia sempat mengikuti pria itu.
akhirnya mereka pun menunggu jenazah di bersihkan, dan Widodo meminta bantuan istrinya untuk menyiapkan pemakaman.
dan akhirnya jenazah pun bisa di bawa pulang ke rumah Widodo, sesampainya di rumah itu semua orang sudah berdatangan untuk melayat.
terlihat mbak Zus juga datang beserta suaminya, dan beberapa tetangga yang dulu dekat dengan Tyas.
semua berjalan lancar dan baik, pengacara Ridwan tak mengira harus menyaksikan Semuanya hanya dalam sehari.
bahkan dia melihat kedewasaan dari sosok Tyas, gadis itu terlihat tegar menyalami semua orang.
tanpa di ketahui oleh Widodo dan Tyas, ibu Sun menghubungi keluarga besar dari Sasa.
Widodo langsung melindungi Tyas saat keluarga itu datang, sosok pria sepuh dengan dua pemuda di belakangnya mengejutkan Widodo.
"selamat datang tuan Setyo Nugroho," sapa Widodo.
__ADS_1
"kau masih ingat dengan ku Wid, aku hanya datang untuk mengantar kedua pemuda ini untuk melakukan penghormatan terakhir pada ibunya, karena aku sudah tak menganggap dia putriku," kata pria itu dengan angkuh.
Tyas pun meremas baju Widodo karena takut, dia tak ingin bertemu pria itu.
kedua pria tampan itu maju, bahkan Tyas terus bersembunyi ketakutan, tuan Setyo pun melihat Tyas.
"apa dia gadis yang di lahirkan dan di besarkan di rumah bordil itu?" tanya tuan Setyo.
"sudah kakek, ayo pergi dan jangan membuatnya takut, halo Tyas sebenarnya kami ingin berbincang dengan mu, tapi maaf kami sungguh sibuk," sapa salah satu pria yang mungkin kakaknya.
bahkan pria yang mirip dengan foto sang ayah pun mengusap kepala Tyas sebelum pergi, "kita pasti akan bertemu," katanya sebelum pergi.
akhirnya Tyas juga yang melakukan semuanya sendiri di temani keluarga Widodo.
pemakaman pun berjalan lancar, peti pun di masukkan ke liang kubur, dan semua pelayat pun berpamitan pulang.
akhirnya Widodo dan istri mengajak Tyas pulang, "mulai sekarang kamu tinggal di sini ya Tyas, temani Tante Tami," kata istri Widodo.
"iya Tante," jawab gadis itu.
dia pun langsung masuk ke kamarnya, dan pengacara Ridwan menyiapkan semua berkas yang di perlukan.
terlebih dia juga akan menyerahkan giro dan tabungan milik mami Sasa pada putrinya yang di tunjuk sebagai ahli waris.
gadis itu pun menangis sesenggukan di dalam kamarnya, bahkan setelah semua pergi dan dia sendirian baru bisa menangis.
gadis itu tak mengira semua orang pergi dari hidupnya, bahkan tanpa sadar dia tertidur setelah kelelahan menangis.
sore hari semua teman kelas Tyas datang untuk mengucapkan bela sungkawa.
sari langsung memeluk Tyas saat gadis itu keluar dengan mata uang bengkak karena kelamaan menangis.
Andi dan Farid juga memberikan kekuatan untuk sahabat mereka itu, terlebih kelas mereka akan sepi jika Tyas tidak ada.
dan sekolah memberikan cuti seminggu untuk gadis itu berduka, kini hari-hari Tyas hanya berputar di rumah karena dia tak ingin pergi kemana pun.
"Tyas, jangan seperti ini, lebih baik keluar main dengan teman-teman mu, atau melakukan apapun, mami mu pasti sedih jika melihat mu seperti ini," kata Tami memberikan semangat pada Tyas.
"baiklah Tante, kalau begitu mau gak temenin Tyas belanja baju," kata Tyas
"baiklah, kebetulan Tante juga mau belanja kebutuhan bulanan, ayo kita pergi nak," ajak Tami
__ADS_1
gadis itu pun bersiap dengan memakai baju kesukaannya, yaitu celana jeans dan kaos oblong yang di padukan dengan jaket kulit.
mereka pun membawa mobil milik Widodo, mereka menuju mall terdekat, bahkan Tami nampak seperti kakak dari Tyas.
bahkan mereka bermain bersama, sejenak Tyas memiliki sahabat dan ibu sekaligus.
sebelum pulang mereka pun memilih berhenti di sebuah tempat ibadah, dan saat masuk ketempat itu Tyas menginggat satu nama di hatinya.
gadis itu pun berdoa di altar dengan begitu khusyuk, sedang Tami juga berdoa agar segera memiliki momongan.
Tyas pun malah menginggat Arthur yang mendekap dirinya dan memberikan ciuman di keningnya.
Tyas pun meneteskan air mata saat membuka mata, Karena pria itu hilang bak di telan bumi setelah pertengkaran dengan mami Sasa.
sedang di Singapura, saat tengah rapat tiba-tiba air mata Arthur menetes dengan sendirinya.
bahkan asisten Wisnu kaget melihat itu, pasalnya ini rapat penting dan Arthur menangis.
"bos kenapa?" tanya asisten Wisnu khawatir.
"aku juga tak tau, tiba-tiba saja hatiku begitu sakit dan air mataku tiba-tiba saja jatuh," jawab Arthur.
"baiklah kita istirahat lima belas menit, baru melanjutkan rapat," kata asisten Wisnu.
Arthur pun tak bisa menenangkan dirinya sendiri, dia pun memilih ke toilet.
asisten Wisnu menelpon asisten Danang, dan bertanya kepada pria itu tentang apa yang terjadi.
asisten Danang menjawab semua akan baik-baik saja, terlebih dia juga terlalu sibuk mengurusi perusahaan itu di Indonesia.
Arthur pun mencoba menelpon pengacara Ridwan, tapi pria itu sepertinya sibuk karena ponselnya sedang tak aktif.
"sudah selesai Tyas, ayo pulang," ajak Tami.
"baik Tante, tapi sebelum itu aku ingin membeli bakso pedas dulu, ah aku tiba-tiba ingin makan itu," kata Tyas.
"baiklah sayang," jawab Tami
mereka pun menuju ke warung langganan dari Tyas, gadis itu pun mulai sedikit demi sedikit melupakan kesedihannya.
mereka sampai di warung itu, dan sudah Langsung duduk bersama, "pakde tolong bakso biasanya ya," kata Tyas pada penjual bakso itu.
__ADS_1
"iya neng, aduh sudah lama tidak lihat, kali ini bapak kasih yang spesial plus ceker banyak yuk,"