
Rama ingin mendekat kearah keduanya, dengan keras Tyas tak segan untuk memukul pria itu di depan semua orang, sedang Dewi masih menangis memeluk tubuh sang mama sambung.
tuan Setyo pun meminta semua tamu pulang karena pertengkaran Keluarga mereka bukan tontonan, Aiko pun tak mengira jika ada wanita seberani ini.
"sudah ku katakan jangan mendekat, kalian bangga menyebut keluarga ini bahagia bukan, bullshiit ... kalian itu cuma keluarga hancur yang mau telihat sempurna, dari mulai kepala keluarga, hingga cucu yang merasa sempurna, benar tidak Raksa," kata Tyas yang makin tak terkendali.
Rama tau jika adiknya itu sudah mulai tak bisa mengendalikan dirinya lagi, Rama langsung merebut stik golf dan memeluk kedua wanita itu.
"tenang Tyas, jangan seperti ini lihat kedua putra mu dan Dewi," kata Rama.
"tapi semua orang tak pernah menganggap ku, dia terus mengatur ku, aku sesak kak, sesak di perlakukan seperti ini ..." kata Tyas melepaskan pelukannya pada Dewi.
"Tyas!! bangun Tyas!" panik Rama mengoyangkan tubuh Tyas yang tiba-tiba pingsan.
"pak Kim siapkan mobil, kita ke rumah sakit!!" teriak Rama panik.
saat Arthur ingin mendekat Dewi menahan papanya, "berhenti melukai mama lagi, papa sudah cukup Semuanya, aku muak dengan semua sikap mu yang otoriter itu, aku memilih mama, lebih baik kami hidup miskin tapi bahagia, dari pada dengan papa yang terus mengatur kami seperti ini,"
Dewi pun ikut pergi dengan Rama yang sudah mengendong Tyas, dan pergi ke rumah sakit.
"jadi tuan Setyo apa ini drama keluargamu, tapi bagaimana dengan putriku?" tanya pria Jepang itu dengan begitu sombong.
"kalian bisa pergi, toh aku tak peduli lagi dengan kalian mau menuntut ku, karena aku akan menemui kalian di persidangan jika itu yang kalian pilih, karena kesalahan ku mengambil keputusan, kini keluarga ku hancur karena permintaan aneh mu," marah tuan Setyo.
pria itu kaget, dia tak mengira jika tuan Setyo memilih jalur hukum, pria itu pun pergi bersama putrinya.
"aku tanya pada mu Arthur Sebenarnya apa yang terjadi, hingga Tyas bisa seperti ini, apa yang kamu lakukan padanya?" tanya tuan Setyo dingin.
"maafkan aku opa, aku terus membatasi langkahnya selama di Yunani, karena aku tak ingin Tyas kambuh depresinya, begitupun dengan Dewi yang aku baru tau jika dia mencintai Rama orang yang tak seharusnya," jawab Arthur lirih.
"kau pria paling bodoh, seharusnya kamu membiarkan Dewi memilih cintanya, karena cinta tak bisa memilih pada siapa berlabuh, dan untuk Tyas itu bukan solusi, kau malah memperburuk emosinya, dan asal kau tau dokter pernah bilang jika satu kali emosinya tak stabil maka dia bisa jadi gila, dan kalau semua itu terjadi kamu yang bertanggung jawab atas kondisinya Arthur," marah tuan Setyo yang menyusul mereka ke rumah sakit.
__ADS_1
sesampainya di rumah sakit, Tyas mendapatkan pertolongan pertama, ternyata Tyas tertekan dan mengalami pendarahan.
"bagaimana keadaan adik saya dokter," tanya Rama yang sangat khawatir.
"maaf tuan, kamu tak bisa menyelamatkan kandungan nyonya," kata dokter itu.
Dewi syok, dia tak mengira jika Tyas sedang hamil dan sekarang karena dirinya bayi itu bahkan harus mati sebelum di lahirkan.
"apa ..." kaget tuan Setyo dan Arthur yang baru sampai rumah sakit.
melihat kedatangan sang papa, dewi Murka, "seharusnya kamu membunuh ku dulu, kenapa aku harus melalui ini semua, setidaknya aku bisa bertemu mama ku di surga, bukan terus melukai wanita yang sudah begitu mencintaiku, bunuh aku ..." kata Dewi yang begitu sedih mengetahui semuanya.
"jangan bilang seperti itu, maafkan papa Dewi, papa tau ini salah papa, papa hanya belum siap kehilangan mu, terlebih aku mengenal siapa Rama," kata Arthur mencari pembenaran.
"tidak, berhenti bersikap seperti kau peduli, aku muak, aku ingin pergi, dan jangan mencariku," marah Dewi yang berlari entah kemana.
tapi beruntung Rama sudah berhasil menahan gadis itu, dan mengajaknya berbicara.
wajahnya begitu pucat dan tak berdaya, dia sudah sangat melukai wanitanya.
ya Arthur sadar jika semua ini kesalahannya, terlebih setelah tau putrinya hilang dulu makin memperjelas luka di hatinya.
dia pun tanpa sadar melampiaskan segalanya pada Tyas dan Dewi, dan sekarang ini yang di dia dapatkan kehilangan lagi.
"maafkan aku sayang, ini semua adalah salahku ..." lirih Arthur.
"tak berguna, apa kita kehilangannya juga ..." lirih Tyas.
Arthur mengangguk, Tyas hanya tersenyum saja melihat jawaban dari Arthur.
"sudah dia memang tak bisa bertahan, karena aku sudah ke dokter dan di anjurkan untuk melakukan proses kuret," kata Tyas menjelaskan.
__ADS_1
"tapi ini semua salahku, seandainya aku tak berkeras hati," lirih Arthur.
"aku sudah berkali-kali bang jangan terus merasa bersalah karena kematian putri kita, seandainya bukan karena Ian mengatakan itu bayi kita, buktinya bayi kita sudah mati jadi tak perlu terus kamu sekali, jadi stop memperlakukan kami seperti ini," kata Tyas.
"baiklah, aku akan membiarkan apapun pilihan Dewi, tapi bolehkah dan maukah kamu memaafkan ku?" tanya Arthur.
"tentu, tapi ingat jangan melakukan kesalahan lagi atau aku akan marah sangat padamu," kesal Tyas yang sudah mau di peluk oleh Arthur.
"ingat tuan, jika kamu berbohong maka siap-siaplah bertemu dengan malaikat penjaga neraka," kata Tyas mengancam Arthur.
"pasti sayang, aku ingat itu," jawab Arthur tersenyum.
sedang di taman Dewi merasa sedih dan kini sedang bersama Rama, pria itu sedikit banyak membuatnya tenang.
"sejak kapan?"
"apanya, dan berhenti bertanya tentang hal yang tak jelas," kesal Dewi
Rama pun mengerti dan tak melanjutkan pertanyaan itu, tak lama Raksa datang membawa kopi.
"sudah ku katakan berkali-kali, aku suka coklat dan benci kopi," kata Dewi melihat gelas itu.
"cobalah dulu, jangan pernah melihat semua dari kemasannya saja, begitu pun dengan papa mu, mungkin semua ini demi kebaikan mu," kata Raksa.
Dewi hanya mengerucutkan bibirnya, dia tak mengira jika Raksa bisa bicara bijak, dan bisa selembut itu.
tuan Setyo memilih pulang dan menenangkan dirinya, pasalnya hari ini terlalu banyak hal yang terjadi.
tapi beruntung semua tetap berjalan di jalan yang seharusnya, untuk hubungan Dewi dan Rama.
tuan Setyo percaya jika tuhan memiliki Jalan terbaik untuk keduanya.
__ADS_1