
acara pun di mulai, awalnya pelanggan ini normal dan biasa saja menurut asisten Wisnu.
tapi makin lama satu persatu orang pergi,dan tinggal beberapa orang yang memiliki tiket khusus termasuk mereka.
terlihat ada tiga kotak boneka di atas panggung, dan di tiga kotak itu terlihat ada tiga gadis.
kotak pertama dengan mudah terjual, tapi kotak kedua tak ada yang mengangkat nomor lelang.
terlebih gadis itu memiliki kulit gelap dan rambut yang kriting dan itu memang kurang di sukai oleh para tamu.
asisten Wisnu pun mengangkat nomor miliknya, "tiga ratus juta,"
"terjual!" kata pembawa acara.
"dasar pria bodoh, buat apa gadis buruk rupa begitu, bikin sakit mata saja," kesal asisten Danang.
"hentikan ocehan mu, lebih baik fokus memilih gadis milikmu," kesal asisten Wisnu.
akhirnya asisten Danang melanjutkan memilih untuk primadona barunya, dan malam ini mereka membawa dua hasil yang tak mengecewakan.
mereka langsung pergi di ikuti dua mobil yang di sewa khusus, bahkan di tubuh wanita itu di tato nama dari pemiliknya.
Wisnu pun menguyur gadis itu dengan air hingga sadar, "aku dimana? dan anda siapa?" kagetnya.
"aku sekarang tuan mu, dan mandilah karena aku tau ini bukan penampilan mu yang sesungguhnya, jika tidak mau, aku bisa memandikan mu jika di perlukan," ancam asisten Wisnu.
"baik tuan, tapi tolong jangan sakiti aku," kata gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi.
dan benar saja, setelah hampir satu jam, gadis itu keluar dengan kulit bersih dan begitu putih.
bahkan tubuhnya terlihat begitu seksi, terlebih dengan gaun malam yang berwarna hitam itu.
hingga terlihat kontras dengan warna kulit gadis itu, "siapa namamu,dan makan dulu," peti tak asisten Wisnu.
"namaku Khanza," jawab gadis itu.
"baiklah Khanza, mulai saat ini kami Adalah milikku, jadi ingat jangan berani kabur atau kamu mati," kata asisten Wisnu yang di angguki oleh gadis itu.
sedang di Jombang, malam ini semua keluarga sedang makan malam di restoran apung.
mereka memilih untuk pulang setelah makan, terlebih mereka tak siap membuka kamar tadi siang.
jadi terpaksa mereka harus pulang, tapi asisten Sardi menghentikan mereka.
__ADS_1
"tak perlu pulang tuan dan nona, sebenarnya saya sudah menyiapkan sebuah rumah untuk kalian tempati, kebetulan pemilik rumah sengaja dan boleh menyewakan rumahnya pada ku," kata asisten Sardi.
"apa itu rumah dari Ari?" tanya Dian.
"iya nyonya, Dian menyewakan rumah itu karena kosong, terlebih wanita itu tinggal di rumah lain karena tak ingin teringat masa kelamnya," kata asisten Sardi.
"ya gadis baik yang harus terus terluka karena cinta dan keegoisan," lirih Dian
akhirnya malam ini mereka pun menginap di rumah yang sudah di siapkan.
ternyata rumahnya ada di sekitar rumah sakit itu, dan tak begitu jauh dan rumah mewah itu memang kosong dan hanya ada pelayan yang membersihkan saja.
mereka pun berbagi kamar, Dewi tidur bersamping dengan kamar Raksa dan Rama.
sedang duo kembar akan tinggal bersama tuan Tjandra, sedang Tyas dan arthur kebagian kamar di lantai dua.
saat di lantai itu, Tyas bisa melihat foto yang tercetak besar, sebuah foto yang tetap di pajang meski foto pria di dalamnya sudah rusak.
akhirnya malam ini mereka bisa tidur dengan tenang, dan besok pagi akan berkunjung ke daerah wonosalam.
terlebih mereka ingin melihat acara kenduren duren yang di adakan setiap tahun di desa itu.
keesokan harinya, pukul lima pagi mereka sudah bersiap berangkat untuk menuju ke desa wonosalam.
Arthur dan Raksa sudah mengendong si kembar, dan Tyas berjalan bersama Dewi, tuan Tjandra dan Rama melindungi dua wanita itu.
mereka juga menemukan bagian wirausaha yang menjual semua jenis olahan hasil bumi desa itu.
Tyas pun dengan semangat mencicipi setiap hasil bumi itu, sedang Dewi foto-foto bersama Rama yang menjaganya.
tak sengaja seseorang menabrak Dewi hingga hampir jatuh, dan dengan sigap Rama menahan tubuh gadis itu.
bahkan tak hanya itu, saat berjalan Rama terus merangkul Dewi, dan terus melindungi gadis itu dari kerumunan orang agar tak terluka.
"sudah kita duduk di sini dan lihat saja, aku tak ingin kamu terluka," kata Rama.
"baik om," jawab Dewi.
tak lama semua orang datang dan bergabung dengan keduanya, dan menyaksikan acara yang digelar.
banyak orang yang terinjak saat berebut gunungan yang terbuat dari ribuan duren berbagai macam itu.
saat acara itu di mulai, mulai banyak yang terluka karena terkena lemparan durian dari atas gunungan, bahkan Rama menutup mata Dewi karena begitu mengerikan.
__ADS_1
"Kita tak bisa pulang, lebih baik kita ke rumah bapak tadi, aku tak sanggup melihat ini semua," mohon Tyas.
akhirnya mereka pun pergi, bapak itu tau jika pemandangan itu cukup mengerikan, bahkan sirine ambulan terus menerus berbunyi.
mereka pun memilih bersantai di rumah pria yang menjadi tour guide mereka.
"ada yang mau makan duren, kebetulan duren di samping rumah sedang berbuah," kata pria itu.
"tidak, saya gak minat," jawab Tyas menginggat kejadian tadi.
"kalau matoa, kelengkeng atau manggis Bu, itu juga enak loh," kata pria itu
"boleh, saya juga penasaran dengan buah hasil panen sendiri, terlebih katanya tanah tempat ini begitu subur," kata Arthur.
"sebentar tuan, biar saya panen, atau ada yang mau bantu," kata pria itu mengalihkan perhatian semua orang.
akhirnya semua pun bantu, Raksa terlihat begitu bahagia, bahkan Dewi dan Rama saling bantu karena tak kebagian galah.
tak hanya itu, dua putra tyas dan Arthur malah nyebur ke kolam ikan yang ada di sekitar sana.
beruntung dua bocah itu tidak kena patil, karena kolam itu berisi ikan lele.
bahkan bapak pemilik rumah yang panik langsung menarik dua bocah itu hingga keluar kolam.
"ya tuhan dua bocah nakal ini," kata Tyas tak habis pikir dengan dua putranya.
tapi beruntung kolam itu tak dalam jadi keduanya tak tengelam.
"mama ikan," kata Derry memegang lele yang berukuran cukup besar.
"Derry!!!"
bocah itu hanya tertawa menunjukkan hasil tangkapannya, bahkan Derrick tak jauh beda, lele itu masuk ke celana bocah itu, dan itu adalah lele yang masih berukuran kecil.
"ha-ha-ha Derrick mancing lelenya pakai celana nih, dan dapatnya banyak ya, ada tujuh lele," kata Raksa tertawa.
"ya tuhan Derrick Alejandro Sanz," kata Tyas benar-benar tak habis pikir.
akhirnya siang itu, mereka makan penyetan lele dan juga Bali lele, tak lupa semua buah yang tadi di petik.
dan tifa bule yang tak pernah makan ikan lele, ya dia adalah Rama, Arthur dan juga tuan Tjandra.
sedang Raksa dan Dewi saling berebut ikan air tawar itu. begitupun dengan dua bocah laki-laki yang begitu lahap itu.
__ADS_1
Tyas hanya tersenyum saja, dia bahagia melihat keluarganya, dan dia berharap sang opa juga akan bahagia nantinya.