
Arthur langsung menuju ke kantor, sesampainya di sana semua orang terkejut, pasalnya tak ada yang tau jika ada kunjungan dari pemilik perusahaan.
Arthur langsung masuk ke kantor CEO, dan dia sempat melirik pada Dewi sebelum masuk ruangan milik Wisnu.
Dewi terus menunduk saat melihat papanya sudah datang, itu berarti semua masalah yang di buat Raksa akan di selesaikan dengan musyawarah keluarga atau lebih buruk lagi.
setelah masuk beberapa saat Arthur pulang tanpa menyapa Dewi, tapi Wisnu memanggil Dewi untuk memberikan semua pekerjaan pada gadis itu.
"apa ini om? kenapa dengan pekerjaan ini, bukankah aku sudah menyelesaikan semuanya," kata Dewi tak terima.
"tapi semua ini di tolak oleh tuan Arthur," jawab Wisnu.
"di tolak, di tolak ..." lirih Dewi yang menyadari sesuatu.
dia pun menuju ke mejanya dan bergegas mengerjakan semua pekerjaan itu dari awal.
dia tau jika Arthur mencoba untuk tidak membuatnya pulang cepat, mungkin ada sesuatu yang di rencanakan oleh mereka semua.
Tyas tak suka dengan suasana saat ini, pasalnya dia tak ingin melihat Dewi terluka.
sedang Rama dan Raksa sudah pulang dari kantor akibat panggilan dari sang kakek saat baru sampai tadi.
"ada yang kamu pikirkan Tyas?" tanya Dian melihat wanita itu melamun.
"menurutmu, aku seorang ibu yang akan melihat putrinya hancur, apa aku tak boleh khawatir," kata Tyas dengan nada suara sedikit ketus.
Dian pun sadar jika Tyas sedang banyak pikiran, terlebih dengan masalah ini.
Dian tau jika ini semua salah, tapi mereka tak bisa berbuat apapun, telebih Rama yang mengambil tanggung jawab ini nantinya.
"kenapa tak mencoba membicarakan ini lagi dengan papi,semoga dia bisa menerima usulan mu," kata Dian memberikan semangat.
"menurutmu begitu, setelah kak Rama mengiyakan itu mustahil, terlebih dia juga tak menyetujui segalanya bukan, maka baiklah aku tak ingin bicara padanya," kata Tyas melihat Arthur yang baru datang.
"kau tak bisa mendiamkan aku seperti ini," kata Arthur menahan tangan istrinya.
"seharusnya kau yang tak melukai putrimu seperti ini, kau itu papa atau musuh putrimu," marah Tyas yang menghempaskan tangan Arthur darinya.
__ADS_1
Tyas benar-benar marah kali ini, bahkan dua putranya tak bisa meredam kemarahan Tyas.
sebagai seorang ibu, Tyas tau jika putrinya akan berbuat hal yang nekat terlebih terakhir kali Tyas berhasil meyakinkan putrinya.
tapi kali ini mungkin mereka kan kehilangan Dewi selamanya, terlebih Dewi tak mudah di bujuk seperti gadis lainnya.
Tyas sedang duduk untuk memikirkan cara untuk Dewi agar bisa tenang, tapi bagaimana bisa dia masih begitu resah.
rombongan keluarga dari Jepang sudah datang dan menginap di hotel bintang Lima.
gadis itu terus tersenyum senang mendengar jika Rama mau bertanggung jawab atas dirinya.
terlebih setelah tau siapa pria yang kencan dengannya, dia pun tak keberatan untuk menikahi pria itu toh semua sudah terlanjur.
sudah pukul enam sore, Dewi bahkan tak istirahat tadi siang, karena dia harus menang melawan Arthur dan keluarganya.
terlebih Tyas sudah mengatakan jika pukul tujuh malam, wanita itu akan datang dan melakukan pertunangan.
Dewi makin panik, tapi dia berusaha tenang, sedang Tyas tak bisa berpikir tenang sedikit pun.
bahkan dia terus menghindari semua orang, bahkan tadi Raksa juga sudah dapat tamparan darinya.
pukul setengah tujuh malam semua tamu datang begitupun dengan gadis Jepang itu dan keluarganya.
terlihat tuan Setyo begitu menyambut mereka dengan ramah, begitupun Arthur.
tapi tidak dengan Rama dan Tyas yang nampak masih tak bisa menahan segalanya.
Dewi pun menyelesaikan semua pekerjaannya, "selesai, terserah mau di periksa atau tidak, tapi aku harus pulang,"
"tunggu aku antar," kata Wisnu menahan gadis itu.
"jika tak ingin aku membencimu, lepaskan tangan ku om, dan jangan membuatku dan mama ku marah selamanya!" bentak Dewi dingin.
gadis itu berlari ke lift dan mengejar waktu yang akan habis, bahkan dia menggunakan ojek online untuk sampai di rumah lebih cepat.
pesta pun di mulai, gadis itu mencari sosok pria yang dia cintai,Rama dan raksa turun bersama.
__ADS_1
gadis bernama Aiko itu tersenyum begitu bahagia, pasalnya pria yang sudah mencuri hatinya.
kini akan menjadi miliknya sepenuhnya, tanpa ada orang yang akan menganggu mereka.
tapi saat Aiko ingin mendekati Raksa, sang ayah menghentikan putrinya. "bukan dia orang yang akan kau nikahi, tapi pria berjas hitam di depan mu," kata pria itu berbisik.
Aiko terkejut, karena dia hanya mau menikah dengan Rama tapi kenapa berbeda dengan yang di kenalnya.
tukang ojek itu pun mengantar Dewi sampai di rumah yang begitu ramai itu.
Dewi berlari sekuat tenaganya untuk sampai di rumah karena halaman rumah itu terlalu luas.
Dewi bahkan melepaskan sepatu haknya, dia pun menerobos pak Kim yang menahannya di luar.
"lepas pak Kim atau aku akan membunuh diriku sendiri di sini, om Rama!!!" teriak gadis itu dengan begitu keras.
Rama pun menoleh,semua tamu terkejut mendengar teriakan itu, dan melihat kondisi dari Dewi yang begitu buruk bahkan gadis itu sudah menangis tapi tak bisa masuk kedalam rumah.
"lepaskan putriku!!" marah Tyas yang di tahan Arthur.
"tidak, bawa dia pergi," kata Arthur.
"berhenti melakukannya, kau itu laki-laki paling kejam, kamu itu seorang ayah, atau seorang penjahat," marah Tyas di depan semua orang.
tuan Setyo kaget melihat pertengkaran antara Tyas dan Arthur, bahkan Dian yang ingin menenangkan bahkan di dorong oleh Tyas.
"jangan menyentuhku," kata Tyas yang pergi menghampiri putrinya.
Tyas memukul para pengawal dengan stik golf yang di ambilnya, di depan semua orang Tyas murka untuk putrinya itu.
"siapapun yang berani mendekat dan menyentuh putriku akan mati, termasuk kau juga," tuding Tyas sambil memeluk Dewi yang masih sesenggukan.
"sebenarnya ini ada apa? kenapa kau menggila Tyas!" marah tuan Setyo.
"kau tanya kenapa, hei pria tua tanya pada kedua cucu kebanggaan mu itu, Rama cucu yang selalu bersikap baik, bodoh dan rela melakukan dan menutupi kesalahan adiknya, dan Raksa, pria busuk yang selalu bergonta-ganti perempuan karena sakit hati gadis yang di cintai lebih memilih kakeknya, kalian keluarga sempurna, dan aku gadis yang dulu di buang, dan di sayangi, kemudian selalu di minta untuk sempurna oleh suamiku yang bahkan seusia ayah ku, tapi lihat pria itu juga yang tak baik, saat putrinya mencintai pria yang lebih tua, dia menutup mata dan ingin menghancurkan putrinya itu, hei tuan Arthur Alejandro Sanz, kau ini manusia atau patung batu, bahkan hewan saja tau cara mencintai anaknya," kata Tyas membongkar segalanya.
"tutup mulut mu Tyas, kau sudah tak sopan!" bentak Rama.
__ADS_1
"aku bilang berhenti dan jangan mendekatiku," kata Tyas mengacungkan stik golf pada Rama.