
"tunggu dulu Tyas, aku bisa menjelaskan semuanya, ini bukan seperti yang kamu kira, aku melakukan ini karena dia yang seperti tak ingin melindungi mu dari wanita sial itu," marah Raksa.
"tapi kenapa harus melukainya,kamu tau jauh darinya saja sudah membuatku gila, bagaimana jika dia meninggal, kamu tak memikirkan diriku ..." tangis Tyas tak terbendung.
Arthur pun menarik Tyas, dan memeluk istrinya agar tenang, "aku sudah tertekan saat jauh darinya, apa salah aku mencintainya ..."
"tidak sayang, aku akan menuntut balas pada semua orang yang memisahkan kita," jawab Arthur.
"termasuk kami," tanya Rama yang datang bersama tuan Setyo yang baru sampai rumah itu.
"tidak, aku akan membalas perlakuan pria yang membuatku tidak bisa mencari istriku selama lima tahun ini," jawab Arthur marah.
mereka semua terdiam, sedang Raksa tak mengira jika temannya bisa melakukan ini.
padahal dia selalu percaya pada pria itu, terlebih dia juga sudah menemani Tyas selama ini.
di rumah sakit Andre tersadar dan melihat tuan Tjandra yang berada di sana sedang berbicara dengan polisi.
sudah dua hari dia pingsan, bukan karena tak ingin bangun, sepertinya anak buahnya melakukan kesalahan yang tak di sengaja.
"kamu bangun Andre, bagaimana keadaan mu?" tanya tuan Tjandra.
"aku baik, untuk apa anda kemari, bukankah hutang ku sudah ku bayar lunas, lebih baik jangan menemui ku lagi," kata Andre.
"aku hanya ingin melihat keadaan mu, dan setelah ini kamu bebas memilih jalan mu sendiri," jawab tuan Tjandra.
Andre memberikan kesaksian pada pihak kepolisian untuk semua kejadian itu.
dia sudah menyiapkannya dengan matang, dan dia akan pergi menjauh dari kota itu.
di rumah Arthur, semua sedang membahas apa yang akan di lakukan, Tyas dan Arthur sepakat untuk membalas segalanya.
begitupun dengan raksa yang pasrah, karena dia memang benar-benar tak tau kejadian yang hampir membunuh Arthur itu.
"baiklah, opa tak akan ikut campur, kalian sudah dewasa dan bisa menyelesaikan semua ini,tapi ingat Arthur jangan buat istrimu terluka dan tersakiti," kata tuan Setyo.
"baik opa, aku mengerti,"jawab Arthur.
__ADS_1
asisten Wisnu dan asisten Danang mulai bertindak, mereka mulai menjalankan rencana yang di berikan oleh Arthur.
sedang Rama tau apa yang sedang di pikirkan oleh saudara kembarnya itu, dan dia tak bisa diam menutup mata.
"kita pulang ke rumah opa Raksa, jangan menjadi beban di rumah ini," ajak Rama
"baiklah kak," jawab raksa pasrah.
si kembar pun sempat menyapa dan bermain sebentar sebelum mengucapakan selamat tinggal pada kedua orang itu.
"kamu yakin mau membantu kami?" tanya Tyas.
"tentu, aku ingin menunjukkan siapa diriku padanya," jawab Tyas yakin.
"baiklah, kamu bisa melakukannya tapi jangan melukai dirimu ya sayang," kata Arthur
Tyas pun mengangguk, kini Tyas sudah berangkat menuju ke sebuah restoran yang sudah di siapkan jebakan.
bahkan semua pengunjung cafe adalah anak buah asisten Wisnu yang sudah menyamar.
Tyas menunggu kedatangan pria itu, tak butuh waktu lama hingga pria yang telah menemani tys itu datang.
Tyas pun melambaikan tangan padanya, dia tak mengira meski Tyas tak memilihnya, tapi Tyas masih mau mencarinya saat ini.
"apa aku mengganggu bos besar ini?" tanya Tyas tersenyum pada pria itu.
"tentu tidak, kamu lupa ini hari Minggu, tapi kenapa kamu tidak pergi bersama di kembar, bukankah ini akan mengasikkan terlebih Sekarang kamu sudah bersatu dengan suami mu bukan," Tyas pun menghela nafas lelah. "bukan tidak mau kak,aku hanya ingin bertemu dengan mu yang selama ini telah membantuku, kak Ian," kata Tyas tersenyum pada pria itu.
Ian pun merasa jika dia masih punya kesempatan, "benarkah, bukannya kamu tidak mau bersama ku dan memilih pria tua itu," ledek Ian.
"ah itu karena aku baru di pisahkan darinya, dan kak Ian memaksaku untuk bersama mu, itu aku tak suka, apalagi aku baru tau dari kak Rama, sebab kenapa dia tak mencariku," kata Tyas memancing pria di depannya itu.
"habis aku ingin melihatmu tersenyum tentunya," jawab Ian yakin.
Arthur yang mendengar percakapan mereka pun merasa kesal dan marah, dia pun memilih turun dan langsung menuju ke meja keduanya.
Arthur pun langsung mencium pipi Tyas dan mengejutkan wanita itu.
__ADS_1
"papa disini!"
"ah... kebetulan aku lewat, dan melihat restoran kesukaan si kembar, dan kamu tak berencana selingkuh dari ku, dengannya bukan," kata Arthur memandang remeh Ian.
"hahaha tuan Arthur bercanda ya," kata Ian canggung.
"tidak kok, kamu itu satu selamanya," jawab Tyas memeluk suaminya.
Ian pun merasa kesal melihat itu, pasalnya Tyas dan Arthur sengaja memamerkan kemesraan mereka.
"kalau begitu aku pamit pergi dulu ya, kebetulan aku meninggalkan Edwin di tempat les tadi," kata Ian yang tak ingin melihat kemesraan itu lagi.
"kenapa buru-buru, setidaknya kita bisa berbincang dulu, terlebih bukankah ada beberapa hal yang ingin kamu sampaikan, tentang mobilku yang tiba-tiba menabrak mobil karena tembakan dan senggolan dengan sepeda motor sport berwarna hitam, berplat nomor L001EDW."
Ian langsung terhenti saat mendengar ucapan Arthur, dia pun mengepalkan tangannya dengan marah.
dia pun berbalik dan masih mencoba tersenyum pada pria itu, "apa maksud mu?" tanya Ian mencoba menahan dirinya
Tyas hanya berdiri di belakang Arthur dan melihat kearah Ian, "kau sudah tau harusnya, kenapa pura-pura bodoh, setidaknya bukankah kamu yang mengendarai motor itu bukan," kata arthur menatap tajam kearah Ian.
"kalau kau tau, kenapa hanya diam dan tak melaporkan polisi," kata Ian.
"aku hanya penasaran dengan alasan di balik rencana itu, setidaknya aku sadar saat ini, dengan permintaan mu pada istriku, ternyata kamu mengincarnya, kau tak punya harga diri," ejek Arthur.
"tutup mulut mu itu!!!" teriak Ian yang ingin menyerang Arthur.
tapi semua orang bergerak dan mengamankan pria itu agar tak melukai tuan mereka.
"aku tak mengira kamu begitu jahat, aku tak mau lagi bertemu dengan mu," kata Tyas di pelukan Arthur.
"kau ingat ini Tyas, suatu hari aku akan membuat mu bertekuk lutut padaku, ingat itu," kata Ian yang sudah di tahan oleh anak buah Arthur.
"jangan berharap hal itu, kamu selamat saja sudah beruntung dari mereka," kata Arthur menyeringai.
mereka pun pergi membawa Ian, dan mobil pria itu juga tak lupa di bawa, sedang Tyas tak peduli dengan apapun yabg di lakukan oleh suaminya.
karena itu akan menjadi hal yang perlu di lakukan karena pria itu harus tau di mana batasan.
__ADS_1
Tyas pun pergi bersama Arthur, dan membiarkan semua anak buah mereka yang melakukan pekerjaan dengan baik.