Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
hari bahagia...


__ADS_3

pagi ini Dion sudah di bawa Arthur dan juga Tyas menuju ke pesawat, begitupun dengan Dian yang tadi sempat di bius dulu.


mereka ingin membuat kejutan, lebih tepatnya peperangan di rumah Nugroho.


terlebih Tyas dengan iseng meninggalkan bukti yang kuat dan lagi pria itu sudah tak pulang semalaman.


Rama baru selesai joging pagi, saat melihat tuan Setyo keluar dari kamar Dian dan Dion tapi wajah pria itu begitu marah.


"ada apa opa?" tanya Rama khawatir.


"adik sialan mu itu berani membawa kabur calon istriku, jika dia berani datang aku akan membunuhnya," marah tuan Setyo memberikan gelang pada Rama dengan kasar.


Rama pun kaget, meski itu gelang milik Raksa, tapi gelang itu pernah di minta oleh Derrick dan di jadikan mainan.


"opa tolong tenangkan diri mu dulu, apa sebuah gelang bisa membuktikan jika Raksa bersalah, ayolah opa jika dia memang berniat seperti itu, mungkin dia tak akan pernah membiarkan opa dan Dian menikah, dan opa tau benar bagaimana pemikiran dari cucu-cucu ku," kata Rama yang masih mencoba menenangkan pria sepuh itu.


"hentikan Ucapan mu, jika aku sampai menemukan raksa yang membawa pergi Dian, maka lihat saja kemarahan ku," kata tuan Setyo.


tak terduga Dewi datang ke rumah dengan Raksa, ya tadi mereka betemu di di depan rumah.


Keduanya masih nampak tertawa, tuan Setyo menahan dirinya terlebih ada Dewi bersama pria itu.


"dari mana sayang, kenapa tidak sekolah?" tanya tuan Setyo yang langsung memeluk Dewi.


tapi tak terduga tuan Setyo langsung mencekik leher Raksa dengan satu tangan.


Dewi pun ingin menoleh, tapi Rama juga langsung memeluknya erat, Dewi merasa begitu suka aroma tubuh Raka yang begitu maskulin.


"ada apa opa?" tanya Raksa yang sudah kesakitan


"sudah tak perlu berpura-pura, dimana kamu menyembunyikan Dian dan putra ku, jangan sampai membuat opa lupa jika ku juga cucuku," kata tuan Setyo dingin.


"opa aku tak mengerti apa maksudmu, terlebih aku juga sudah beberapa hari tak pulang," jawab Raksa membela diri.


tuan Setyo pun melepaskan tangannya dari leher Raksa, tenyata pria itu masih tak bisa meredakan amarahnya.

__ADS_1


"terus bagaimana ada gelang mu ada di kamar Dian, padahal kamu bilang sudah mengikhlaskan segalanya," kata tuan Setyo


"opa ... bukan om Raksa, tapi mama yang sudah membawa keduanya ke Bali dengan pesawat pagi ini, dan aku kesini untuk mengajak opa ke sana untuk menyusul mereka," kata Dewi yang melonggokkan kepalanya.


Rama yang gemas pun langsung mencubit pipi dari Dewi, sedang gadis itu tertawa sambil memegangi pipinya.


"dasar dua orang itu benar-benar, maafkan opa Raksa," mohon tuan Setyo.


"iya opa, tapi lain kali tanya dulu ya, ini sakit loh," kata Raksa masih memegangi lehernya.


akhirnya mereka pun juga bersiap-siap, awalnya mereka akan berangkat bersama siang itu.


tapi Tyas mengantikan penerbangan dirinya sekeluarga menjadi pagi, sedang Dewi dan asisten Danang akan mengantikan posisi Dian dan Dion.


Dewi pun duduk di apit oleh tuan Setyo dan Rama, sedang asisten Danang duduk bersama raksa.


asisten Danang sibuk membaca buku yang sengaja tadi di belinya, dia pun mencoba untuk berubah menjadi pria yang benar.


"jangan kebanyakan baca buku, mending langsung praktek biar tau rasanya," lirihnya sambil membaca majalah otomotif.


"memang beda?"


Lea juga di ajak ke Bali sekalian liburan, terlebih asisten Wisnu kasihan jika harus melihat Tyas mengasuh dua putranya sendiri.


sesampainya di Bandara, mereka langsung menuju villa dan benar saja terdengar suara anak-anak sedang berenang bersama.


Lea terlihat memakai baju pendek di temani asisten Wisnu. "kalian cuma berdua, mana yang lain?" tanya Rama.


"sedang melihat tempat buat nanti malam, tuan besar tidak membunuh orang kan?"


mendengar pertanyaan asisten Wisnu, tuan Setyo hanya bisa melengos, pasalnya dia tak ingin membuat moodnya makin hancur.


sedang Dewi sudah bergelayutan manja pada Rama, "apa keponakan om yang cantik?"


"om Dewi lapar, ingin makan sate lilit," bisik gadis itu memohon.

__ADS_1


"baiklah ganti baju, jangan lupa pakai tabir Surya," kata Rama.


"siap om..."


Rama sudah meminjam motor yang sudah tersedia di sana, mereka pun mulai berkendara siang itu berkeliling mencari tempat makan.


mereka pun berhenti di sebuah restoran pinggir jalan, dan menikmati apa yang di inginkan oleh Dewi.


"maaf tuan boleh minta nomor ponselnya?" tanya seorang wanita.


"anda buta tak melihat saja, ayolah jangan suka jadi perebut kekasih orang, kamu sudah tak laku, cih ..."


wanita itu pun merasa malu, pasalnya Dewi berkata dengan cukup keras, sedang Rama tersenyum karena merasa terbantu karena tak harus mengusirnya sendiri.


setelah makan mereka pun berjalan di pinggir pantai, setelah puas mereka pun memutuskan pulang.


dan saat itulah tatapan maut menanti keduanya, pasalnya semua orang sudah siap dengan dress code yang sudah di siapkan.


sedang dua orang ini baru pulang dan tang pasti akan telat nanti, "kalian berangkat dulu, kami menyusul nanti, biar Dewi bersama ku," kata Rama memotong ucapan dari semua orang.


Rama pun menyaksikan semua orang pergi, dia juga bergegas untuk mencari bajunya dan segera berangkat.


tak hanya itu, Dewi juga sudah di tunggu oleh make up artist yang di panggil Tyas.


setelah selesai menata rambut, Dewi pun berganti baju dengan baju khas Bali.


tak lupa hiasan rambut juga, dan saat sudah siap dia keluar dan melihat Rama ya g menunggunya sambil merokok.


"ayo berangkat om," ajak gadis itu.


"tunggu kenapa kamu belum pakai kain batik?"


"ribet om, nanti pakai di sana, lagi pula kain punyaku tinggal masukin aja," kata Dewi tertawa.


merekapun berangkat dengan mengenakan motor yang tadi, dan saat sampai ternyata Dewi lupa dengan kain miliknya.

__ADS_1


jadi gadis itu memakai selendang yang di jadikan hiasan untuk mempercantik celana jeans yang di kenakan.


pernikahan berjalan lancar, dan kedua pasang pengantin terlihat bahagia, dan terlihat Lea dan asisten Wisnu juga saling pandang.


__ADS_2