Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
Sd_ pasangan gila semua.


__ADS_3

Arthur mengajak Tyas berjalan-jalan tak lupa mereka berdua juga membeli makanan di food court.


sedang dua anaknya sudah bermain sendiri, terlebih dua bocah itu tak mungkin tersesat saat Arthur yang keluar bersama mereka.


"sayang, apa baik meninggalkan anak-anak? mereka bisa tersesat," kata Tyas khawatir.


"tenanglah sayang, mereka bukan bocah kecil lagi, sebentar biar aku panggil mereka," kata Arthur menelpon salah satu bocah itu.


benar saja, tak butuh waktu lama Derry dan Derrick datang menghampiri kedua orang tuannya.


"sudah puas bermain sayang?" tanya Tyas pada kedua putranya itu.


"tentu saja mama, dan bisakah kita makan dan memesan menu kesukaan kami?"


"tentu, kalian tentu tau apa yang kalian inginkan, dan belajar mandiri ya nak," perintah Arthur.


"siap papa," jawab keduanya.


keduanya pun memesan nasi dan juga ayam goreng kesukaannya, dan Tyas melihat sang suami yang terlihat santai.


sedang di rumah keluarga Nugroho, Dion sedang bermain bersama sang papa.


meski jarak usia keduanya sangat jauh, tapi tuan Setyo tak segan untuk belajar semua permainan yang di sukai putranya itu.


terlebih Dian begitu telaten menjelaskan pada pria yang sudah begitu dia cintai, meski awalnya pernikahan mereka demi Dion.


tapi saat ini dia sudah benar-benar mencintai suaminya, terlebih tuan Setyo yang begitu menghormati dan begitu baik padanya.


"Dion sedang mengajak papa main apa sayang?" tanya Dian yang duduk di samping tuan Setyo.


tak lupa dia juga membawakan minuman dan cemilan, "aku sedang melawan papa dalam catur ma, habis papa begitu hebat dalam permainan ini," jawab bocah itu tak mau putus asa.


sedang tuan Setyo tersenyum melihat putranya yang begitu fokus, "lihatlah dia Dian, siapa yang memberikan sifat tidak kenal lelah ini, bahkan bocah itu tak mau menyerah,"


"yang aku ingat jika aku itu cengeng dan penakut, sepertinya dia persis ayahnya, pasti dia pria yang begitu hebat," jawab Dian tersenyum melihat tuan Setyo.

__ADS_1


"benarkah, apa kamu tak malu punya suami seperti ku?" lirihnya sambil memeluk pinggang Dian mendekat.


"papa berhentilah, bagaimana bisa aku malu, terlebih punya suami yang masih kuat luar dalam seperti ini," bisik Dian yang berhasil membuat tuan Setyo begitu tersanjung.


"papa dan mama sedang apa?" tanya Dion bingung melihat posisi dari orang tuanya.


"ah tidak, mama sedang membisikkan sesuatu pada papa, mama hanya mau memberitahu jika kita akan makan malam dengan daging sapi panggang," kata Dian tertawa.


"benarkah, sebenarnya aku ingin makan ayam bakar kecap, tapi ingin papa yang buat, karena masakan papa lebih enak," kata Dion.


"menyebalkan sekali, Kenapa kamu begitu menyukai masakan papa, tapi tidak dengan masakan mama sih?" gerutu Dian


"sudah sayang hentikan, baiklah kalau Dion mau makan ayam bakar, boleh tapi harus mau bantu papa ya," kata tuan Setyo.


"boleh dong papa, aku ingin bantu masak, tapi bolehkah aku tanya, kapan aku memiliki adik? karena aku hanya sendiri, sedang Derry dan Derrick punya saudara," tanya Dion


"tunggu papa dan mama yang masih usaha, jadi Dion sabar ya sayang," kata tuan Setyo mengenggam tangan Dian untuk menguatkan wanita itu.


"iya papa," jawab Dion yang duduk di pangkuan tuan Setyo.


dia merasa kenapa ini terjadi padanya, terlebih saat keluarganya sudah bahagia dan hanya membutuhkan seorang bayi perempuan sebagai pelengkap.


sedang di kamar pengantin baru, mereka juga sudah bersiap-siap untuk pergi karena malam itu raksa harus menuju ke luar negri bersama dengan ayu karena ada masalah.


"apa kalian yakin, aku bisa mengirimkan Adi untuk menyelesaikan ini semua," kata Rama menahan adiknya itu.


"tenang kak, kami cuma disana dua hari, setelah itu kita ketemu di Belitung, dan jangan kau kekepin Mulu tuh anak orang di kamar, kasihan, bawa keluar juga Napa," kata Raksa tertawa.


"huh, dia hanya kelelahan, sudah jangan terlalu lama disana, dan jika butuh sesuatu bilang saja, nanti kakak akan kirimkan bantuan," perintah Rama.


"iya kak, tenang saja, aku pasti akan menginggat semua ucapan mu, dan lagi nanti uang transport tolong kirim lewat transfer aja ya," kata Raksa yang kemudian berpelukan dengan Rama.


ayu pun sudah sempat berpamitan pada sang ibu dan kakaknya, dia dan raksa menganggap kepergian mereka ini sebagai bonus jalan-jalan.


setidaknya mereka bisa semakin dekat berdua, sedang Rama pun kaget melihat sang istri taj ada di kamar waktu kembali.

__ADS_1


"sayang, kamu dimana!" teriaknya panik bukan main.


"berhenti berteriak mas, aku sedang di toilet," jawab Dewi.


Rama pun membuka laptopnya dan memerintahkan anak buahnya untuk menjaga raksa dan juga ayu.


pasalnya mereka baru saja menikah, dan jika terjadi sesuatu pasti keluarga mereka akan sangat terluka.


di rumah keluarga Nugroho, tuan Setyo sedang membuat bumbu bersama putranya Dion.


sedang Dian memilih menjauh, pasalnya setiap mencium aroma dari bumbu itu pasti Dian akan bersin-bersin.


tak lama rombongan Arthur dan keluarganya juga datang, Tyas pun langsung membantu sang opa untuk memasak.


"Dian apa kamu melihat papa Tjandra?" tanya Arthur karena tak melihat pria itu dari pagi.


"mungkin di kamarnya, soalnya tadi dia sempat di luar sebentar, kemudian tak keluar lagi," jelas Dian.


"kenapa mencariku Arthur, tenang bung aku tak akan hilang atau terluka," saut pria itu yang keluar dari kamarnya.


"bukan begitu pa, ku kira papa sakit atau kenapa, soalnya dari tadi pagi tak terlihat, dan lagi kemana kekasih mu itu, kenapa dia tiba-tiba lenyap tertelan bumi?"


"aku membuangnya, dua hanya wanita yang tak tau bersyukur, bukan berterima kasih karena sudah di tolong, tapi dia malah berani mau menggagalkan pernikahan Dewi dan Rama," jawab tuan Tjandra.


"akhirnya papa sadar, Sebenarnya aku juga merasa ada yang aneh dengan wanita itu setiap menatap Rama, tapi beruntung jika papa peka, dan ngomong-ngomong mau kemana nih, kok pakai baju rapi?" tanya Tyas penasaran.


"aku ingin menonton film di bioskop, dengan teman, apa ada yang keberatan," tanya tuan Tjandra.


"tentu saja tidak, tolong jaga ya temennya jangan sampai kehabisan bensin, sayang minta kartu mu dong, perlu pa?" goda Tyas pada tuan Tjandra.


"tidak perlu, aku masih orang kaya, usaha ku tak kalah dari suamimu nak, dan jangan menunggu ku," kata tuan Tjandra yang pergi.


semua orang pun tertawa, sedang Dion dan tuan Setyo fokus pada masakannya.


begitupun dengan Tyas yang membantu menyiapkan sayuran, sedang Dian duduk mengawasi dari jauh kegiatan kedua pria tercintanya itu.

__ADS_1


__ADS_2