
hari ini Tyas sudah bersiap untuk ke sekolah, bahkan gadis itu terlihat begitu cantik dengan semua yang dia kenakan.
dia juga sudah memotong pendek rambutnya, sekarang menjadi lebih terlihat lebih fresh.
gadis itu juga sudah membeli sebuah sepeda motor untuk kemudahannya, dan kini dia keluar dan duduk bersama Widodo dan keluarganya.
"yakin mau berangkat sendiri? om bisa antar loh," tawar Widodo melihat gadis itu.
"yakinlah om,aku bukan gadis kecil yang harus selalu di awasi, terlebih aku juga harus berjuang demi membahagiakan ibu juga toh, meski dia sudah tenang di surga mungkin," kata Tyas sedikit lirih.
"baiklah, dan ini bekal untuk mu, oh ya nanti sore jika Tante belum pulang kamu bisa mengantar Oma ke tempat terapi gak, soalnya Tante sepertinya lembur," kata Tami dengan dua takut melihat suaminya.
"gak papa sayang, biar aku yang mengantar ibu, dan kamu bisa tenang bekerja," jawab Widodo dengn suara dingin.
"maaf ya mas," kata Tami ketakutan.
Tyas tak mau ikut campur, dia tau jika Tami memiliki salon, dan salon itu cukup ramai, tapi itu yang membuat mereka sulit memiliki anak.
karena kesibukan keduanya, padahal dokter sudah meminta mereka untuk beristirahat agar semuanya membaik.
Tyas pun pamit, dan mulai menjalankan sepeda motornya menuju ke sekolah.
sesampainya di sekolah, semua murid kelas Tyas langsung berlari menyambut gadis itu, sari bahkan langsung memeluk gadis itu.
sedang Farid dan Andi juga menyapa Tyas, "akhirnya Mak... kamu datang juga setelah libur, kami gila tanpa mu," kata Farid lebai.
"dasar cowok aneh, tapi aku bersyukur Mak kamu masuk, setidaknya aku bukan satu-satunya manusia waras si kelas kita, ya Tuhan mereka menggila selama kamu libur," adu sari dengan gaya centilnya.
"kamu yang gila, kita mah cuma menikmati waktu kosong, karena kamu merasa sendiri bukan," omel Andi.
"sudah-sudah ayo masuk, sebentar lagi jam pelajaran pertama," kata Tyas yang tak bisa mendengarkan semua ocehan dari teman-temannya.
Tyas masuk dan melihat jelas itu seperti kandang sapi, "ya!!! kalian mau mati kenapa tidak ada yang membereskan kelas ini, jadwal piket siapa!" teriak Tyas
"maaf Mak, kami lupa," jawab Ando dan Veri dari belakang.
semua pun membantu, meski Tyas perempuan dia adalah ketua kelas paling kejam di banding yang lain.
mungkin awal-awal mereka tak ada yang menurut, tapi entah bagaimana sekarang Tyas adalah orang yang paling di takuti karena di balik gadis cantik itu, dia menyimpan banyak rahasia.
akhirnya jam pertama pun di mulai, dan bertepatan dengan pak Teguh, guru killer tanpa ampun.
__ADS_1
pria itu bahkan sempat tersenyum sekilas saat melihat sosok Tyas yang sudah datang.
dan ini yang akan Tyas jalani tiga tahun kedepan, dan dia sudah siap menghadapi dunia ini.
Tyas yang di besarkan di tempat hiburan malam, tidak akan pernah terjerumus sesuai pesan dari mami Sasa.
sedang Arthur tak betah jika harus tinggal di Singapura seperti ini,meski dia sudah berusaha.
tapi hatinya tetap menuju gadis dengan wajah cantik dan senyum menawan itu, tapi halangan terbesar Arthur adalah Sasa.
karena Arthur belum tau apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan kehidupan gadis yang dia cintai.
pengacara Ridwan akan memantau setiap pengeluaran Tyas dan memastikan gadis itu tak boros.
hari demi hari Tyas lewati dengn biasa, setiap Minggu dia akan berdoa ke tempat ibadah terdekat dan hanya satu nama yang akan teringat di hatinya.
tapi pemilik nama itu mungkin sudah melupakannya, entahlah sejak kapan Tyas terus memikirkan pria yang menolongnya itu.
"Tuhan jika memang aku berjodoh dengannya tolong tunjukkan jalannya, entah aku dulu tak mengerti kenapa mami dan dia bertengkar, tapi mami mungkin akan bahagia jika aku bahagia, ah maaf tuhan aku ngelantur ternyata, tolong jaga mami di sana aku percaya mami bahagia di dekat Mu," batin Tyas saat akan selesai berdo'a.
gadis itu pun keluar dan membagikan makanan pada para warga di sekitar sana.
"kakak, mau beli bunga dari ku tidak?" tanya seorang anak penjual Bunga di lampu merah.
"boleh, kakak beli semua ya," kata Tyas memberikan uang seratus ribu pada bocah itu yang nampak begitu senang.
gadis itu pun bergegas menuju ke tempat yang sudah selama dua tahun ini menjadi tujuannya.
ya itu adalah makam dari mami Sasa, tapi saat dia sampai dia kaget melihat sosok dua pria sepuh di makam maminya.
"ah maaf jika aku mengganggu, silahkan lanjutkan," pamit Tyas yang ketakutan.
"tunggu Andrea!" panggil tuan Tjandra.
"maaf, nama itu sudah tak ku gunakan setelah ayah pergi karena anda," kata Tyas berlari pergi.
dia tak mengira gadis kecil yang pernah di bawa Sasa ke rumahnya, kini sudah besar dan terlihat begitu mirip dengan putra angkatnya Andre.
"apa dia begitu membenciku..." lirih tuan Tjandra.
"sudah tenang saja, tak usah di pedulikan, toh hanya gadis yang tak tau tata Krama, karena di besarkan di tempat laknat seperti itu," kata tuan Setyo Nugroho.
__ADS_1
"kamu ternyata kejam juga ya Setyo, bagaimana pun dia tetap cucu dari putrimu," kata tuan Tjandra yang berjalan menjauh.
tyas pun berlari tanpa peduli apapun, dia tak ingin bertemu pria yang terus membencinya itu.
bahkan dulu saat dia terpuruk karena kematian sang mami, pria itu bahkan tak mau memeluknya sekedar meringankan beban deritanya.
tapi karena dia yang berlari tanpa melihat, tak sengaja dia menabrak seseorang.
"maafkan aku..." lirihnya sambil kemudian menjauh dari tempat itu.
sedang pria yang di tabrak oleh Tyas hanya diam membeku, pria itu bahkan tak bisa mengatakan apapun.
hatinya terasa begitu sakit saat melihat gadis itu menangis di depannya.
"dia kenapa..." gumam Arthur yang masih bisa melihat gadis itu berlari dari kejauhan.
"ada apa Arthur?" tanya tuan Tjandra.
"tidak pi, bagaimana sudah selesai lebih baik kita pulang," kata Arthur yang sibuk melihat ponselnya.
"tunggu Arthur, setidaknya kamu juga harus menyapanya dulu, mumpung ada disini?" kata tuan Setyo.
"menyapa siapa om, lagi pula istriku tidak di makamkan di tempat ini," jawab Arthur bingung.
"ah ya kami belum ternyata, Cassandra Nugroho, temanmu, atau kamu lebih mengenalnya dengan nama mami Sasa," kata tuan Setyo.
"apa maksudmu om, Sasa, bukankah dia sedang berobat karena sebelum aku pergi dua tahun lalu..." kata Arthur yang teringat dan langsung berlari pergi.
"hei Arthur, papa kamu tinggalkan..." kata tuan Tjandra.
"tidak ku mohon... kenapa aku harus tak ada saat di hari tersedihnya..." batin Arthur yang meninggalkan pemakaman itu.
sedang tuan Setyo pun tertawa karena dia harus mengantarkan temannya itu, karena di tinggal begitu saja oleh putranya.
Arthur pun langsung bergegas mencari keberadaan dari Tyas, sekarang dia tau kenapa dua tahun ini begitu menyedihkan baginya dan begitu merindukan Tyas.
sepanjang jalan Arthur pun tak hentinya merutuki kebodohannya, bagaimana dia bisa kecolongan seperti ini.
bahkan asistennya Danang juga tak melaporkan apapun, dan pengacara Ridwan.
"awas saja mereka akan ku beri pelajaran, karena berani menyembunyikan semua ini..." gerutu Arthur.
__ADS_1