Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
berkata jujur.


__ADS_3

Lea sedang keluar untuk membeli keperluan rumah, tak hanya itu wanita menenteng beberapa kresek di tangannya.


tak sengaja dia menabrak seorang gadis kecil berusia empat tahun yang nampak ketakutan.


"maaf ..."


gadis itu pun pergi begitu saja, tak lama seorang remaja berlari mengejarnya dan akhirnya tak terlihat lagi.


"dasar anak-anak," kesal Lea yang memunguti semua belanjaannya.


Arthur, dan Rama sampai di sebuah markas yang begitu gelap, hari ini mereka harus menyelesaikan semuanya.


terlebih ini sudah terlalu lama, dan Arthur takut jika istrinya akan segera sadar terlebih pagi tadi Tyas sudah mengatakan semua mimpinya pada Arthur.


Arthur pun makin khawatir karena Tyas sempat mengalami depresi setelah melahirkan.


"kenapa kalian datang, sudah menyerah mencari putrimu, cih ternyata hanya segitu saja kekuatan kalian, menyedihkan," ejek Ian.


"cih ... kau tak sadar diri, kondisimu yang bahkan lebih menyedihkan, lihat pria yang dulu tampan kini jadi kurus kering begini," ejek asisten Wisnu.


"ini karena ulah kalian!!!" teriak Ian marah.


asisten Wisnu menampar Ian dengan cepat dan keras, "ingat Ian, jika terjadi sesuatu pada putriku, maka aku tak akan melepaskan putra mu juga, nyawa di bayar nyawa," ancam Arthur.


"kau tak mungkin bisa menemukan gadis itu, Krena putra ku bukan putra biasa," kata Ian tertawa lagi.


bahkan kondisinya yang sudah sangat lusuh dan buruk, tak membuat pria itu berkata jujur.


"apa aku boleh membunuhnya, dia membuatku marah, orang yang kami percayai bisa melakukan ini,"marah Rama.


"tahan Rama, tak semudah itu menyingkirkan pria itu, kamu ingat perusahaannya sedang tak ada yang menangani, sebaiknya kamu ambil alih, setidaknya kamu bisa membuat pergerakan dari putranya terbatas," usul Arthur tersenyum.

__ADS_1


"itu tak mungkin, dasar pria brengsek, jangan berani melakukan itu, itu mustahil," marah ian.


dia yakin jika Putranya bisa mengelola bisnis yang dia tinggalkan dengan sangat baik.


"ide bagus, terlebih aku juga penanam saham terbesar kedua di perusahaan itu, jadi ini akan mudah," jawab Rama.


Ian berusaha berontak tapi tak bisa, asisten Wisnu pergi dengan Rama untuk mengerjakan Semuanya.


sedang Ian di buat lumpuh, pria itu benar-benar di siksa secara perlahan, karena kematian terlalu enak untuknya.


sore itu, tuan Setyo datang bersama Dian dan Dion ke rumah keluarga Nugroho.


Dian pun merasa masih takut menginjakkan kaki di rumah itu, terlihat hanya tuan Tjandra dan juga cucunya yang menyambut mereka.


"selamat datang kawan, maaf hanya kami yang menyambut mu, kamu tau sendiri kan mereka semua sedang sibuk dengan urusan kantor," seru pria itu.


"aku juga tak berharap akan kedatangan dirimu," kata tuan Setyo berpelukan dengan ruan Tjandra.


"seret semua orang yang berani menatap sinis pada calon istri opa dan nyonya rumah ini," perintahnya.


"baik nona," jawab semua pengawal.


"tolong jangan nona, kami minta maaf," kata para pelayan yang berteriak-teriak.


tapi semua orang berdiam, terlebih Dewi begitu datar melihat saja, begitupun dengan dua bocah kecil itu.


tak butuh waktu lama, semua pelayan itu mendapatkan ganjarannya dan sekarang si buat bersujud di kaki Dian.


"lain kali jika kalian lupa, aku dengan senang hati menginggatkan siapa wanita di depan kalian itu," suara Dewi terdengar dingin.


tuan Setyo mengacungkan jempolnya pada tuan Tjandra, bahkan pria itu masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya, Arthur versi wanita.

__ADS_1


"Dewi tolong antar Tante ke kamar lantai dua, ingat kamar utama ya," kata tuan Setyo.


"no, bukan lantai dua, bisa di grabak om Raksa yang mata keranjang itu, kamar mamsy ada di lantai satu samping kamar opa, dan itu sudah aku siapkan, dan kalian dua bocah nakal, ajak om kecil main, jika sampai dia menangis, kakak jewer kuping kalian sampai putus," ancam Dewi pada dua adiknya.


"iya kakak Dewi yang cantik," jawab dua bocah itu.


mereka bertiga pun bermain di temani pengasih dan pelayan, sedang Dewi mengandeng Dian ke kamar di lantai bawah.


"gadis itu makin dewasa, dan terlihat makin kejam seperti papanya," gumam tuan Setyo.


"ya mau bagaimana lagi, orang udah bibitnya," jawab tuan Tjandra tertawa.


sedang di resto miliknya, Tyas begitu sibuk hingga harus terjun langsung membantu melayani pelanggan.


bahkan wanita itu nampak cekatan, Arthur, datang bersama asisten Danang.


tapi sayang karena kesibukannya Tyas Tak sadar ada suaminya, "Bu bos, hentikan lihat ada pak bos di sana, sudah temenin gih," kata salah seorang pegawai.


Tyas pun bergegas menghampiri suaminya, dan langsung memeluk pria itu.


"maaf aku tak sadar ada kamu disini," kata Tyas sambil mencium pipi Arthur dengan mantap.


bahkan sampai bekas lipstik itu menempel di pipi Arthur, "bagaimana Kak Danang, bagikan stempel milikku?" tanyanya dengan senang hati.


"sempurna," Jawab asisten Danang sambil meminum kopi miliknya.


"sudah-sudah aku tak akan menghapusnya kalau begitu, kamu tak ingin menyambut kedatangan opa dan calon Oma mu, lihat bahkan bos-nya saja sudah lemes gitu, karena penghasilan clubnya pasti terjun bebas," ejek Arthur Pada asisten Danang.


"sudahlah, aku yakin bos seperti kak Danang pasti sudah siap dengan semua cadangan, benar tidak, dan lagi pasti wanita lain juga lebih cantik bukan," kata Tyas.


"pasti lah..." jawab asisten Danang

__ADS_1


__ADS_2