Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
Sd_kita harus berjuang


__ADS_3

Tyas membantu sang opa untuk memasak, pasalnya susah cukup malam.


"selamat malam semuanya," sapa Rama dan Dewi yang baru pulang.


"hai... kalian sudah pulang, Dewi bantu mama," panggil Tyas.


"yes mama," jawab Dewi yang langsung menuju ke dapur.


mereka berdua melanjutkan acara masak yang tadi di buat oleh tuan Setyo dan Dion.


sedang Dian tidak bisa membantu karena tiba-tiba tubuh wanita itu merasa tak enak badan.


Dewi pun terlihat begitu terbiasa dengan memasak hari ini, sedang Rama membawa koper ke kamar.


dia juga harus mengerjakan pekerjaan yang sudah sedikit menumpuk.


Dewi pun meminta para pelayan untuk menyiapkan Semuanya di meja makan.


Tyas pun memanggil semua untuk makan malam, dan saat semua orang berkumpul mereka kaget melihat semua hidangan.


"sayang kalian berdua mau bikin pesta?" kaget Arthur melihat semua makanan di meja makan.


"menurut papa, yang suka makan daging di sini cuma dua bocah kembar, lihat suamiku yang juga kurang suka makan sayur," kesal Dewi mendengar ucapan sang papa.


"aduh cantik papa, kamu habis nikah kok tambah sensitif amat sih, padahal papa cuma nanya loh?" kaget Arthur.


"jangan mulai deh pa," bisik Tyas.


"sudah-sudah ayo makan, semelum dingin, kasihan Tyas dan Dewi yang sudah masak," kata tuan Setyo menengahi semuanya.


mereka pun makan bersama, terlihat tiga bocah itu makan dengan lahap, sedang Dian langsung merasa mual saat menyuapkan makanan ke mulutnya.


dia pun buru-buru berlari ke area dapur menuju wastafel dan muntah disana.


kemudian terlihat jika Dian begitu pucat dan lemas, tuan Setyo pun menghampiri sang istri.


Dewi juga mengikuti sang opa, ternyata Dian sudah hampir pingsan, "opa bawa Tante ke rumah sakit, karena dia terlihat begitu lemas," kata Dewi panik.


"tidak usah, aku baik-baik saja, tolong buatkan susu strawberry saja, aku memang kurang suka ayam, maaf," bohong Dian.


"baiklah, Tante ke kamar dulu nanti aku antar, apa butuh sesuatu lagi?" Tanya Dewi.

__ADS_1


"tolong bawakan stroberi segar juga, dan terima kasih," kata Dian yang sudah di gendongan tuan Setyo.


ternyata di meja makan, Rama sudah berhasil menemani dan menenangkan Dion yang hampir panik.


Dewi pun langsung membuatkan susu sesuai permintaan dari Dian, setelah itu dia pun membawa susu itu ke kamar.


terlihat tuan Setyo begitu khawatir pada istrinya itu, "opa, tolong makan dulu, biar aku yang menunggu Tante di sini," kata Dewi.


"baiklah sayang, titip istri opa ya," kata tuan Setyo.


Dewi menutup pintu kamar dan menguncinya, dan terlihat dian bangun dan mulai terisak.


melihat itu Dewi langsung memeluk tubuh dari wanita itu, "jangan menangis Tante, aku akan menemani Tante besok ke rumah sakit, tapi jangan menangis," kata Dewi memohon.


"tapi tolong rahasiakan ini ya Dewi, Tante tak mau opa mu sedih, dan berusaha menyingkirkan janin ini, karena Tante juga baru tau jika Tante sedang hamil," terang Dian.


Dewi pun hanya bisa mengangguk, terlebih besok dia bisa memilih rencana lagi setelah tau keterangan dari dokter obgyn.


setelah meminum susu, Dian pun memilih tidur, karena wanita itu butuh istirahat.


Dewi pun pamit keluar setelah melihat Dian tidur, dan kaget saat keluar karena melihat sosok sang opa di depan pintu.


"ada yang salah opa?" tanya Dewi kaget.


Dewi pun segera membawa gelas kosong itu ke dapur dan memberikan gelas kotor pada pak Kim.


setelah itu Dewi duduk di meja makan, dan Rama mulai menyuapi sang istri.


"ada apa sayang, apa Tante baik-baik saja?" tanya Rama melihat istrinya.


"iya mas, dan besok aku akan mengantar Tante ke rumah sakit, sekalian mau minta cara biar cepat hamil," kata Dewi jujur.


mendengar ucapan dari sang istri, Rama terkejut hingga terbatuk-batuk, pasalnya mereka baru menikah sehari.


"kalau itu kita hanya terus bisa melakukan hal itu sesering mungkin," kata Rama


"ya gak gitu konsepnya, itu sih mau mas saja bukan," kesal Dewi yang mendengar jawaban dari sang suami.


sedang di tempat lain ada dua orang yang baru keluar dari bioskop terlihat tersenyum bersama.


ya itu adalah tuan Tjandra dan Bu Nuning, dua orang itu begitu menikmati filmnya selama di putar tadi.

__ADS_1


"bagus ya tadi filmnya, ah... ayat-ayat cinta," kata Bu Nuning.


"bagus, tapi kasihan istri pertamanya, apa mau makan dulu atau pergi main?" tawar tuan Tjandra.


"main seperti anak kecil saja, kita keliling saja yuk menikmati suasana mall," ajak Bu Nuning.


"lebih baik kita belanja dulu, anggap saja ini hadiah pertemuan dan pertemanan dariku," ajak tuan Tjandra kesebuah toko perhiasan.


sesampainya di toko tuan Tjandra langsung memilihkan sebuah kalung yang terlihat biasa tapi begitu cantik.


tak hanya itu, ada juga cincin untuk wanita yang tengah duduk bersamanya.


"ini berlebihan,"


"tidak kok, mohon di terima ya, setelah ini kita makan dulu yuk, aku sudah lapar nih," ajak tuan Tjandra.


"baiklah, kita ke tempat kesukaan ku pasti mas nanti juga akan suka," jawab Bu Nuning.


mobil mereka pun menuju kesebuah kawasan yang cukup padat saat malam hari dengan semua pedagang kaki lima.


mereka pun memilih berjalan kaki sambil menikmati suasana malam hari, tak lupa tuan Tjandra membelikan lumpia ayam untuk semua orang.


mereka pun berhenti dan memilih makanan tahu campur khas Lamongan.


meski awalnya tuan Tjandra terlihat tak suka, tapi karena rasanya yang khas, pria itu pun akhirnya makan dengan lahap.


sedang di rumah, Dewi tak bisa tidur karena memikirkan masalah Dian, sedang Rama sudah menekuk tubuh istrinya itu dengan erat.


Dewi pun memilih untuk membuat susu hangat, tapi sebelum itu dia memutuskan untuk membersihkan diri dulu.


"sayang mau kemana?" tanya Rama yang melihat istrinya itu ingin pergi.


"aku ingin ke dapur mas, mau bikin susu hangat karena aku tak bisa tidur," jawab Dewi.


"baiklah, tapi jangan lama-lama, aku tak bisa tidur saat kami tak ada," kata Rama.


"sudah mas tidur duluan, aku cuma sebentar ini," jelas Dewi yang langsung keluar kamar.


kebetulan dia melihat tuan Setyo yang bingung di dapur, "ada apa opa?"


"ini, opa mau bikin susu untuk Dion, tapi opa tak tau ukurannya," jawab tuan Setyo melihat Dewi.

__ADS_1


"tidak perlu opa, tadi Dewi sudah meminta pak Kim memberikan susu untuk Dion, jadi opa tidur saja," jawab Dewi


"ah benarkah ... terima kasih ya, karena opa tadi lupa karena terlalu fokus pada Dian,"


__ADS_2