
Arthur menuju ke kantor pengacara Ridwan, pria itu tak tahan lagi untuk tidak menemukan Tyas.
para pegawai ingin menghentikan Arthur tapi tak bisa, saat masuk ruangan pengacara Keluarga itu.
Arthur langsung mencekik leher pengacara Ridwan dengan erat, "katakan dimana Tyas, dan apa maksudmu tak mengatakan apa yang tah terjadi selama ini," bentak Arthur.
"baiklah, tapi tolong lepaskan cekikan mu,ini membuatku sulit bernafas," terang pengacara Ridwan yang kini kesakitan.
dia tak mengira jika Arthur bisa segila ini jika membahas tentang Tyas, entah sejauh apa hubungan yang mereka miliki.
pengacara Ridwan pun mengatakan segalanya, dan Arthur tak mengira jika semua ini permintaan Widodo.
yang makin membuat pria itu marah karena pengacara Ridwan tetap tak ingin memberitahukan dirinya dimana gadis itu kini tinggal.
Tyas pun sampai di sebuah kos yang sudah satu tahun ini dia tinggali, dia hanya bisa menangis di dalam ruangan ini.
terlebih dia benar-benar sendiri sekarang, Tyas memang memutuskan untuk pindah saat Widodo dan Tami memiliki bayi setelah penantian mereka.
dan hanya tempat kos itu yang kini yang bisa menjadi tempatnya berlindung.
meski Widodo tetap mengawasi dan mendatanginya beberapa kali, tapi Tyas tau diri, dia tak ingin merepotkan pria itu.
Arthur langsung menelpon asisten Danang, "halo cari keberadaan dari Tyas, dan aku ingin alamat secepatnya!" teriak pria itu dari sebrang telpon.
asisten Danang kaget, pasalnya dia berpikir jika Arthur sudah melupakan gadis itu.
tapi ternyata dia salah, karena pria itu tetap menyimpan gadis itu di hatinya.
asisten Danang pun bertindak secepat mungkin untuk menemukan Tyas dimana pun itu.
Arthur sedang di dalam mobil yang terparkir di sebuah taman, dia tak mengira jika kepulangannya akan mendapatkan berbagai hal yang mengejutkan seperti ini.
"kamu dimana Tyas..." gumam Arthur.
tak terduga seseorang mengetuk mobilnya, dan mengira jika Arthur pingsan di dalam mobil.
tapi saat Arthur melihat siapa yang mengetuk mobilnya itu, dia pun buru-buru keluar dari mobil mewahnya.
dan bergegas memeluk gadis yang sudah di carinya itu, bahkan Tyas yang kaget pun langsung mendorong Arthur hingga terjatuh.
"jangan memelukku sembarangan, dasar pria mesum!" teriak Tyas dengan air mata yang menetes.
__ADS_1
Arthur pun bangun dan kembali memeluk Tyas, tapi gadis itu kini hanya menangis sesenggukan di dekapan hangat Arthur.
"kenapa baru sekarang, kenapa baru datang, kenapa pergi selama ini menghilang ...."
Arthur juga tak bisa menjawab, karena dia begitu senang bercampur sedih bisa mendekap gadis yang selalu di ingatannya.
"maaf... seharusnya aku berjuang karena aku baru sadar jika aku mencintaimu," kata Arthur.
"om jangan pergi lagi..." kata Tyas membalas memeluk Arthur dengan erat.
"tidak akan, aku akan disini bersama mu," jawab Arthur mencium puncak kepala Tyas.
adegan mereka pun jadi tontonan dari semua orang, terlebih Arthur yang seorang pria dewasa, bisa-bisanya memeluk gadis remaja di depan umum.
"tunggu,kenapa kamu disini? bukankah ini sudah terlalu jauh dari rumah mu Tyas?" tanya Arthur melepaskan pelukan gadis itu.
"aku tadi mau cari makan,terus melihat ada orang pingsan di dalam mobil terus mengetuknya," jawab gadis itu sambil menghapus air matanya.
"itu bukan jawaban pertanyaan ku, kenapa kamu-"
ucapan Arthur tertahan oleh jadi lentik Tyas yang menyentuh bibirnya, "aku tak ingin merepotkan siapapun, aku ingin hidup mandiri, dan aku memilih untuk in the kos di sekitar sini," lirih Tyas.
Arthur mencium jari yang tertempel di bibirnya itu, "kalau begitu boleh aku melihatnya dan berkunjung," kata Arthur yang mendapatkan anggukan dari Tyas.
Tyas sudah berusia delapan belas tahun, dan Arthur juga makin dewasa, tapi tak menghalangi Tyas untuk mengagumi atau bahkan mencintai pria itu.
apalagi penampilan dari Arthur yang masih terlihat muda, dan akhirnya mobil itu sampai di tempat kos milik Tyas.
berhubung ini tempat kos yang cukup bebas di banding yang lain, bahkan Arthur bisa melihat beberapa pria yang datang.
"kamu tinggal di tempat seperti ini?" bisik Arthur yang mengandeng Tyas.
"tenang om, aku bisa menjaga diri, lagi pula ini adalah tempat kos termurah di sekitar tempat kerjaku," jawab Tyas tersenyum.
"kamu sudah bekerja? sebagai apa dimana?" kaget Arthur.
"di sebuah bengkel di sekitar sini, dan kebetulan hari ini jatahku libur, dan kalau malem jadi pelayan di sebuah bar," jawab Tyas.
"apa kamu jadi pelayan bar, ya Tuhan kenapa tidak menghubungi Danang, agar di tempatkan di perusahaan atau bengkel milikku," kata Arthur yang masuk kedalam tempat kos lantai dua itu.
dan pria itu begitu tertarik dengan warna kamar itu yang bernuansa biru, dan begitu tenang.
__ADS_1
Keduanya pun duduk di lantai, dan Tyas mengambilkan minuman dingin, "om kenapa pergi, apa setelah bertengkar dengan mama?" tanya Tyas.
"kami hanya membicarakan sesuatu, karena dia tak mau putrinya terjerumus ke dunia malam," jawab Arthur asal.
"apa itu karena aku bilang pada mami, jika aku akan melakukan apapun asal dia sembuh," gumam Tyas.
Arthur pun merangkul Tyas dan mengusap rambut gadis cantik di sampingnya itu.
"sudah, tidak usah sedih,sekarang dia sudah bahagia di sana," gumam Arthur.
saat keduanya sedang diam menikmati suasana tenang, bahkan kehadiran dari satu sama lain.
tiba-tiba terdengar suara ******* dari samping kamar Tyas, Arthur pun kaget bukan main.
"suara apa ini?" tanya Arthur yang mulai tak tenang.
"ah kak Cika kenapa malah main siang-siang gini ih..." kata Tyas yang ingin keluar dan menegur.
tapi Arthur menariknya hingga jatuh ke pangkuannya, bahkan Tyas bisa merasakan benda keras di bawahnya.
"om...."
entah siapa yang memulai, keduanya sudah berciuman dengan begitu mesra.
bahkan pelukan Arthur makin membuatnya dan Tyas semakin menempel satu sama lain.
Arthur pun mencium leher jenjang Tyas. gadis itu pun lemas di buatnya oleh Arthur.
keduanya pun bangun tapi tak melepaskan pelukan satu sama lain, bahkan Arthur mengendong Tyas sambil terus berciuman.
pria itu pun mengunci kamar Tyas agar tak ada gangguan, terlebih suara kamar sebelah membuat keduanya makin panas.
Arthur sudah menindih tubuh Tyas di atas ranjang, bahkan Tyas meremas rambut Arthur yang sedang memberikan rangsangan pada dirinya.
"om..." lirih Tyas yang merasakan sengatan listrik di sekujur tubuhnya.
Arthur tak mengira jika gadis itu begitu sensitif hingga bisa mencapai inti dengan secepat ini.
bahkan wajah merah Tyas begitu mempesona, bahkan nafas hadis itu tersengal-sengal.
"kenapa kamu begitu cantik ..." kata Arthur mengusap bibir indah Tyas.
__ADS_1
"om ...."