
pesta pun berakhir pukul dua belas malam, semua orang sudah ke kamar masing-masing, sedang kedua pasangan pengantin masih di ruang pesta sambil duduk di meja bundar.
"kenapa kalian mengajakku duduk disini?" tanya Rama yang membantu istrinya melepas hiasan kepala.
setelah itu beberapa asisten make up artis datang membawa baju ganti untuk kedua pengantin wanita.
setelah berganti pakaian, mereka pun duduk bersama kembali, Rama pun tak segan lagi merangkul Dewi.
"kita mau bulan madu bersama atau gimana nih?" tanya Raksa yang langsung dapat cubitan dari ayu.
"ku kira kamu ingin mengatakan apa mas, kenapa malah bertanya hal seperti itu?" kesal ayu melihat suaminya itu.
"memang kenapa, itu bukan dosa bukan, aku ingin mengunjungi Ternate, atau tidak ke Belitung juga boleh, Indonesia punya tempat yang indah untuk menghabiskan waktu," kata raksa memberikan ide.
"boleh juga, tapi lebih enak kita berangkatnya mengunakan kapal pesiar, setidaknya kita bisa santai sambil menikmati waktu bersama, dan menikmati perjalanan menuju ke tempat seperti itu," jelas Rama.
"tapi yakin, pekerjaan kita nanti bagaimana, ayolah mas jangan aneh-aneh deh kamu, bisa-bisa semua terbengkalai tanpa ada yang bisa menghendel," kata Dewi yang sudah terlihat lemas.
" kamu sakit Dewi atau kelelahan, kenapa wajahmu pucat?" tanya ayu melihat Dewi.
"aku hanya kecapekan dan mengantuk, sudahlah kalian berdua hentikan, kita bahas Lain kali saja, atau kalau tidak kita naik pesawat saja ya, pinjem punya mama lebih cepat dan tak melelahkan," kata Dewi yang sudah tak bisa menahan kantuknya.
"baiklah, besok kita bahas lagi, kalian istirahat dulu," kata Rama yang langsung mengendong istrinya itu menuju ke kamar pengantin mereka.
ayu pun juga mengajak suaminya untuk tidur, pasalnya dia juga lelah dengan rangkaian acara tadi terlebih gaunnya yang begitu besar dan mengembang.
Raksa pun mengendong tubuh ayu ke kamar mereka, Dewi pun tak melepaskan suaminya itu.
"tunggu sayang, biar aku kunci kamar dulu," bisik Rama memohon.
Dewi pun mengangguk dan melepaskan suaminya, setelah mengunci pintu kamar.
Rama pun langsung ke arah ranjang, dan terkejut melihat Dewi yang sudah menanggalkan semua pakaiannya.
"kamu sudah siap?" tanya Rama menyentuh lengan Dewi.
Dewi pun langsung mencium bibir Rama, dan Rama dengan senang hati menyambutnya.
Dewi pun membantu membuka pakaian suaminya, "susah siap sayang?" tanya Rama yang gemetar.
"pelan mas," kata Dewi.
Rama pun menyatukan dirinya, sedang Dewi merasa tubuhnya terbelah tapi perlahan semua baik-baik saja.
__ADS_1
Rama pun melakukan hal itu dengan sangat pelan, dan akhirnya mereka pun mencapai kepuasan bersama.
sedang di kamar sebelah, Raksa juga akan melakukan hal yang sama, tapi sayangnya, ayu malah kedatangan tamu bulanan.
"maaf ya ..." kata ayu pada suaminya.
"tak masalah, ini berarti belum rezeki ku, dan aku harus sabar seminggu lagi," kata Raksa memeluk ayu yang sedang tertidur.
ayu pun merasa bersalah, tapi ini juga bukan kehendaknya, malam pun berlalu untuk pasangan itu tanpa terjadi apa-apa.
raksa tak bisa protes pasalnya itu juga bukan kehendak dari istrinya jadi dia pun mengerti.
keesokan harinya, semua orang sudah berkumpul di restoran untuk sarapan.
Raksa dan ayu sudah turun dan bergabung bersama keluarga mereka, sedang Rama dan Dewi tidak kelihatan sampai keluarga mereka selesai.
"apa aku perlu meminta seseorang mengantar sarapan ke kamar mereka, pasalnya mereka tak kunjung turun," kata Tyas khawatir.
"sudah tenanglah, apa kamu lupa jika kamu juga begitu saat pengantin baru, sudah biarkan saja nanti juga dia akan menelpon resepsionis saat membutuhkan sesuatu," kata Arthur menenangkan istrinya.
benar saja, Rama sudah memesan sarapan melalui resepsionis, karena dia tak ingin keluar dari kamar.
bahkan Dewi hanya memakai jubah mandi karena dia lupa kopernya, dan asisten Deva akan mengantarnya.
"gak mau, pinggang ku sakit, mas seperti hewan buas, aku bahkan tak bisa berkutik dan mati gaya," kesal Dewi.
"kamu tak perlu banyak gaya, aku bisa melakukannya dengan sangat baik dan berbagai gaya," kata Rama dengan wajah mesum.
"hentikan mengatakan itu, itu memalukan," kesal Dewi.
keduanya pun sarapan sambil saling menyuapi, Rama benar-benar masih belum percaya jika sudah menikah dengan Dewi.
pasalnya dia tak akan mengira akan semudah ini meminta izin Arthur, tapi yang sebenarnya terjadi adalah Arthur yang di bawah tekanan dari Tyas.
setelah sarapan, mereka menonton film di dalam kamar, tak lama terdengar suara bel pintu ternyata asisten Deva yang memberikan koper Dewi.
tuan Setyo menelpon Rama, dan Dewi yang mengangkat panggilan itu, "iya selamat siang opa?" sapa Dewi.
"siang sayang, Kalian masih di kamar, opa belum sempat memberikan hadiah untuk kalian," kata tuan Setyo dari sebrang telpon
"maaf opa, untuk seharian ini, Dewi belum boleh keluar, besok kita bertemu di rumah,dan untuk hadiah lebih baik kasih uang atau villa milik opa saja," saut Rama yang membawa koper istrinya itu masuk
"ih mas gak tau malu ih..." kesal Dewi.
__ADS_1
"memang kenapa sih, orang opa villanya banyak, benar kan opa? dan lagi lebih baik opa lanjutkan gas buat adik untuk Dion, karena kasihan Dion butuh adik," ledek Rama.
"dasar kamu itu, memang kamu tau apa, sudahlah aku pergi dulu dan hadiahnya akan ku berikan saat kita bertemu di rumah," kata tuan Setyo yang menutup telponnya.
sedang Dewi menarik kopernya dan memilih baju untuk di pakai santai, terlebih mereka baru besok keluar hotel.
"ini sebenarnya kamu beneran niat menggodaku? taruhan pakaian mu sayang," protes Rama melihat istrinya
"memang kenapa sih, orang gak ngapa-ngapain, itu pikiran mas aja yang gak bisa jauh-jauh dari situ," kesal Dewi
Rama pun langsung memeluk istrinya dan kembali mengulangi kegiatan panas mereka.
Dewi pun tak bisa menolak, pasalnya sentuhan yang di berikan oleh sang suami tak bisa di tolak dan sudah membiusnya.
di saat putrinya sedang berolahraga panas, sedang di tempat lain Arthur dan Tyas, mengajak kedua putranya untuk berjalan-jalan di sebuah mall di sekitar hotel.
kedua bocah itu menuju ke tempat bermain, "mama berikan kami yang untuk top up agar bisa bermain,"
"tentu, kalian mau berapa?" tanya Tyas pada kedua putranya itu.
"tentu saja lima ratus ribu, dua ratus untuk top up, dan tifa ratus ribu untuk pegangan," jawab Derrick.
"baiklah anak-anak, tapi tolong jangan berulah oke, jika tidak kalian berdua akan papa seret pulang," ancam Arthur pada kedua anaknya.
"tidak apa-apa sayang, tolong tenanglah mereka pasti tau apa yang terjadi, jadi jangan cemas begitu," kata Tyas membuat suaminya itu tenang.
Arthur pun menurut saja, jika tidak akan sulit jika istrinya itu marah, dan sudah di pastikan jika wanita itu marah, maka Arthur tak akan mendapatkan jatah seminggu ini.
sedang di tempat lain tuan Tjandra membuka gudang dan melihat Griselda sudah terbangun tapi gadis itu nampak lemas.
tanpa bicara tuan Tjandra langsung menyiramkan air dan mengejutkan wanita itu hinga terbangun.
"sudah tertidur kau, dasar wanita tak tau di untung, sebaiknya aku mengusir mu kembali ke negara mu, jika kau terus di sini akan melukai cucuku," kata tuan Tjandra yang berdiri.
tapi tak terduga, Griselda mendorong tubuh tuan Tjandra hingga hampir jatuh.
tapi karena marah tuan Tjandra pun memukul Griselda dengan tongkat kayu yang di bawanya.
gadis itu pun langsung tersungkur pingsan, "urus itu Kim, buat gadis itu sadar bahwa dia tak berharga, karena dia selalu berbuat ulah," marah tuan Tjandra.
"baik tuan sepuh," jawab pak Kim.
para pengawal pun membereskan Griselda, dan membuat gadis itu hilang selamanya.
__ADS_1