
"sudahlah sayang, sekarang ayo pulang, kasihan opa yang menunggu kita, terlebih ketiga anak kita ada disana," kata Arthur.
"baiklah sayang, ayo kita pulang!!" kata Tyas semangat.
Arthur pun menunggu istrinya itu, bahkan semua pegawai pun merasa begitu itu melihat sikap romantis dari Arthur.
pria itu memang benar-benar sangat mencintai Tyas, bahkan tak terduga Arthur sudah berdiri dengan buket bunga mawar untuk Tyas.
"aku baru masuk sebentar, dan sudah ada bunga saja?" tanya Tyas.
Arthur pun mencium pipi Tyas dengan lembut, "ini hanya hal kecil sayang, bahkan ini tak bisa mengalahkan kecantikan mu,"
"hentikan gombalan mu, sekarang ayo pulang," ajak Tyas merangkul lengan Arthur.
asisten Danang pun membukakan pintu untuk kedua bosnya itu, tak lama mereka pun menuju ke rumah utama keluarga Nugroho.
sedang di perusahaan milik ia, pria itu sudah mengambil alih Semuanya, bahkan Edwin tak bisa berbuat apapun, karena dia masih remaja yang tak tau apapun masalah perusahaan ini.
"kalian semua lihat saja, aku akan membalasnya," marah pria muda itu.
"jika kamu ingin perusahaan ini, kembalikan putri keluarga kami, jika tidak kamu tentu harus mulai memikirkan untuk tinggal di jalanan, kami mengerti bocah," marah Rama yang duduk begitu angkuh.
"kalian semua tidak akan melihat bocah itu karena sudah hilang dari pengawasan ku, gadis bodoh itu sudah mati mungkin sekarang," kata Edwin.
Rama tanpa terduga menampar pipi Edwin hingga bocah laki-laki itu jatuh tersungkur di lantai.
pipi bocah itu terlihat memerah, Rama melihat bocah itu, "ternyata kau dan ayah mu sama-sama pria bajingan, kalau begitu aku akan merasakan apa yang di sebut kematian, saat kau bang Putri keluarga kami sudah mati,"
"itu tidak mudah, asal kamu tau membunuh bisa di hukum penjara," marah Edwin.
"hei bocah kecil, asal kau tau polisi tak akan menangkap kami jika tak ada bukti, terlebih kamu belum tau seluk beluk dari dunia orang dewasa," ejek asisten Wisnu.
Edwin pun berontak tapi percuma, karena dia sudah terikat dengan kuat.
"jadi kamu memilih untuk mati bocah, atau mau buka mulut mu itu, terlebih ayah mu yang tak tau diri itu tak akan bisa menyelamatkan mu, dan kau ingat di dunia ini kau tak punya siapapun lagi," kata Rama mendongakkan kepala Edwin melihatnya.
tapi bocah itu malah meludahi Rama, dan Rama pun langsung mendorong bocah itu hingga tersungkur.
"bawa pergi dan buat dia buka mulut, aku sudah terlalu sabar ternyata," gumam Rama.
asisten Wisnu langsung menyeret bocah itu ke ruang yang begitu gelap dan mengunci bocah itu.
asisten Wisnu tak lupa memberikan sebuah obat terlarang pada bocah itu untuk membuatnya gila, setidaknya dia akan berkata jujur nanti.
ya itu adalah hal yang di pikirkan, dan saat sudah merasa putus asa, maka bocah itu akan mengatakan segalanya.
sedang Rama mencuci wajahnya, ingin rasanya Rama membunuh bocah itu, jika bukan karena dia yang tau dimana putri dari adiknya, dia pasti akan memecahkan kepala bocah itu.
dia pun sebisa mungkin menahan amarahnya, jika tidak dia pasti akan membunuh semua orang.
__ADS_1
"brengsek, aku sudah ingin membunuh orang, ah itu sangat menyakitkan saat ingin menahannya," kata Rama tersenyum sambil menggores tangannya.
"emm... ini sudah sangat melegakan, ini setidaknya meredakan emosi ku, brengsek," maki Rama pada dirinya sendiri.
asisten wisnu mengetuk pintu kamar pribadi di ruangan itu, tak lama Rama keluar dengan wajah yang sudah bersih.
mereka pun menuju ke rumah mewah, Nugroho, selama perjalanan Rama hanya terus memandang jalanan yang mulai ramai karena bertepatan dengan jam pulang kantor.
sesampainya di rumah ternyata mobil Arthur sudah ada disana, keduanya pun langsung masuk ke dalam rumah.
Derry langsung memeluk Rama saat pria itu masuk, "papi kenapa lama, oh ya lihat om kecil sedang bermain dengan kami,"
"on kecil?" bingung Rama mendengar ucapan Derry.
"kakak yang di maksud oleh keponakan mu itu adalah Dion, lihat saja bocah ini begitu patuh dan begitu manis," kata Tyas yang menyajikan minuman dingin.
"dek tolong ambilkan air lemon dingin untukku,"
"baik kakak ku, pasti hari mu sangat buruk ya, ikut lah dengan ku, aku akan menunjukkan sesuatu yang akan membuatmu senang," kata Tyas menarik Rama.
keduanya sampai di dapur, Tyas menunjukkan sesuatu yang langsung membuat Rama tak percaya.
"boleh aku memakannya, ah... tak sabar aku," seru Rama dengan suara yang begitu senang.
Rama pun langsung memakan kue lemon yang begitu dia sukai, meski berbentuk dessert.
tapi tanpa tak di duga, Rama menariknya dan memeluk gadis itu sambil menikmati kue itu.
sedang Dewi berusaha untuk berontak, tapi tak bisa, Tyas pun pergi dari dapur karena masih harus membantu Dian menyiapkan meja makan.
"tenanglah Dewi, om butuh seseorang untuk menenangkan diri om yang sedang begitu emosi, jadi om mohon padamu," lirih rama memeluk tubuh gadis remaja itu.
tak di duga Dewi malah mempererat pelukannya pada Rama, "kalau begitu mulai sekarang jika marah, Dewi alam selalu memeluk om, jadi ingat pelukan ini,"
Rama pun membalasnya dengan begitu erat dan indah, keduanya bahkan tak sadar berapa lama berpelukan waktu itu.
"aduh maaf, aku tak lihat apa-apa, tapi sudah pelukannya ya, Dewi papa mu memanggil mu," kata Dian yang menaruh cangkir kotor itu di dapur.
"papa, ya bisa mati aku jika pria tua itu marah," kata Dewi berlari ke ruang makan.
sedang Rama terdiam dan merasa begitu hangat dan nyaman saat memeluk Dewi, dan sesaat dia merasakan bagaimana itu kehangatan dari kasih sayang itu.
Dewi pun bergabung untuk makan, Tyas memberikan kursinya untuk Dewi duduk.
"makan sayang, jangan sampai putri cantik mama ini kurus dan tak cantik lagi," goda Tyas.
"ayolah ma, aku takut gendut jika terus makan, terlebih pasti tak akan ada pria yang akan mau menikah dengan ku bukan jika aku gendut dan jelek," kata Dewi mengerucutkan bibirnya.
"bagaimana jika om saja yang akan merawat mu, jadi sugar baby om mau?" tawar raja yang duduk di samping tuan Tjandra.
__ADS_1
"hei kamu ingin jadi seperti Arthur, dan hubungan kalian akan sulit di mengerti nantinya," kata pria itu menepuk bahu Rama.
"kenapa, jika Arthur bisa kenapa aku tidak?" jawab Rama tertawa di ikuti semua orang.
tapi tidak dengan Dian dan Tyas, dua wanita itu saling pandang karena mendengar ucapan pria itu.
keduanya kenal betul jika Rama bukan pria yang bisa becanda tentang cinta, terlebih pria itu jarang sekali bisa dekat dengan wanita.
akhirnya makan malam pun usai, dan asisten Danang memberikan semua rencana pernikahan pada keluarga tuan Setyo.
"jangan bikin pesta di pesta, ingat jika aku mabuk lain dan itu akan sangat merepotkan," kata Tyas yang menginggat semua orang.
"dan jangan buat pesta di hutan, karena aku juga sangat tak suka tempat seperti itu," kata Dewi mengangkat tangannya.
"kita akan melakukan pesta di atas pesawat, karena kita akan pergi liburan bersama ke Bali," saut Arthur memijat kepalanya pusing
"tenang Tyas, aku hanya ingin sebuah pernikahan yang bias tanpa kemewahan, terlebih yang terpenting semua orang hadir saat hari spesial ku," kata Dian merangkul sahabatnya.
"tapi aku ingin itu menjadi hari spesial kita," kata tuan Setyo.
"tidak perlu, yang terpenting janji kita di depan tuhan dan keluarga, aku tak ingin kemewahan apapun, terlebih aku Juga bukan Wanita yang baik," jawab Dian.
"berhenti mengatakan itu, karena kamu adalah orang yang spesial dan berharga bagi opa, dan bagi kami semua," kata Rama pada Dian
"iya Dian, dan aku titip opa ku, dan jangan buat pria tua itu mari secepatnya,karena dia belum menepati semua janjinya padaku," kata Arthur yang langsung menerima lemparan bantal dari tuan Setyo.
setelah puas bermain dan berbincang masalah pernikahan, karena hari juga makin malam.
mereka pun berpamitan untuk pulang, asisten Wisnu pun membeli beberapa cemilan manis untuk Lea di rumah.
sedang asisten Danang sudah pergi ke club miliknya, dan pria itu berganti baju juga di sana.
asisten Danang yang dulu sering mencari mangsa, sekarang memilih untuk duduk dan hanya mengawasi segalanya.
terlebih dia tak ingin terjebak dalam hubungan yang rumit seperti yang terakhirnya kali.
pasalnya asisten Danang baru pernah merasakan di lantai oleh seseorang, bukan seorang pria tapi seorang gadis berjilbab yang langsung menegurnya.
itu terjadi karena asisten Danang yang merindukan kekasihnya itu, dengan bodoh mengirimkan pesan.
dan bisa di tebak saja, istri dari pria itu langsung mendatangi dirinya sambil marah-marah.
bahkan asisten Danang kaget saat wanita itu memohon untuk dia tak menganggu rumah tangganya.
terlebih wanita itu sudah begitu mencintai suaminya itu, tak hanya itu bahkan wanita itu mau memberikan semua hartanya agar asisten Danang berhenti menganggu mereka
asisten Danang pun hanya kasihan pada wanita di depannya itu, pasalnya wanita itu tak mau melihat kesalahan yang di perbuat suaminya.
terlebih pria itu tak sepenuhnya baik seperti yang dia kira, karena suaminya itu mungkin bisa menyeleweng dengan siapapun dan dimana pun.
__ADS_1