Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
sd_kejujuran Dewi.


__ADS_3

Dian pun duduk bersama yang lain menikmati kue yang di suguhkan, Dian pun menikmati setiap suap.


Dian setidaknya sedikit lega melihat kondisi dari Dewi yang sudah sedikit mulai bisa tersenyum dan tak seburuk tadi.


setelah makan, mereka pun berpisah,Dian pulang terlebih dahulu bersama teman Rama.


sedang pria itu mengajak istrinya ke kantor untuk menemaninya bekerja, terlebih dia takut jika Dewi marah lagi nanti.


"bagaimana dengan tadi ke dokternya?" tanya Rama.


tiba-tiba dia begitu sedih, sedang Rama sadar jika dia salah bertanya, Rama pun memegang tangan Dewi.


"sayang, apapun kondisinya, aku akan selalu mencintaimu," kata Rama yang tak ingin istrinya sedih.


"iya mas," jawab Dewi.


mereka pun sampai, Rama turun dan membukakan pintu mobil untuk Dewi.


semua karyawan menyapa dengan hormat, sedang Rama mengandeng Dewi langsung menuju ke ruangannya.


sesampainya di ruangan suaminya, Dewi langsung memeluk tubuh Rama dengan erat.


"maaf mas, aku memiliki kekurangan, dan mungkin akan sulit punya anak," tangis Dewi.


"sayang tolong jangan menangis, aku tak akan memaksamu memiliki anak saat kamu tak ingin, itu pilihan mu dan aku akan mendukung mu, dan seandainya kita hidup tanpa anak, itu tak masalah karena aku hanya ingin hidup bersamamu saja sampai maut memisahkan kita," terang Rama.


Dewi pun tak percaya dengan apa yang dia dengar dari suaminya, "benarkah?"


"iya sayang, aku tak butuh anak, yang aku butuhkan hanya dirimu di sampingku, dan terus tersenyum, jangan sedih masalah itu oke," kata Rama


Dewi pun mengangguk, "kalau begitu kamu mau di belikan apa? atau butuh sesuatu kamu bilang saja?"


"baiklah, tapi bisakah aku duduk disini, dan melihat mu bekerja, jika di ruang tunggu pribadi aku nanti bosan," kata Dewi memohon.

__ADS_1


"baiklah, sayang, apapun yang kamu inginkan," jawab Rama.


Dewi pun duduk sambil bermain ponselnya, sedang Rama fokus bekerja.


tak hanya itu, Dewi sedang mengecek beberapa laporan di email yang dikirimkan oleh asistenya.


sedang Dian yang baru sampai di rumah kaget melihat begitu banyak orang di rumah.


"wah ada apa ini? kenapa tidak bilang jika ada tamu mas?" kata Dian pada suaminya itu.


"ini hanya kunjungan dadakan saja sayang, tapi jangan khawatir sayang, aku sudah pesan makanan di luar, jadi jangan takut, terlebih kamu istirahat saja," kata tuan Setyo yang mencium kening Dian.


"baiklah mas, aku kedalam dulu ya," kata Dian yang langsung masuk.


tapi tak terduga ada seseorang yang mengenali Dian, "bagaimana jika kamu menyuruh istrimu menari st**ptis dulu, bukankah dia mantan primadona di club star's," kata seorang pria.


"tutup mulutmu, dasar pria mesum, ingat dia istri dari Setyo," kata tuan Tjandra kasar


"tutup mulut kalian, bagaimana pun dia dulu, sekarang dia adalah istriku," kata tuan Setyo merangkul Dian.


"kenapa, apa kamu tau bagaimana dia dulu saat berteriak di atas ranjang kami, dia itu wanita yang cukup mahal dan tak tau balas jasa," kata tuan Adjie ingin menarik tangan Dian.


"aku bilang jangan keterlaluan, dia itu istriku, dan jangan berani menyentuh atau berani mengatakan hal buruk jika tak ingin perusahaan mu bangkrut," ancam tuan Setyo menahan tangan tuan Adjie dan menghempaskan.


"ayolah Dian, jujur saja bagaimana kamu memuaskan diriku saat itu," kata tuan Adjie ingin mempermalukan Dian.


"bagaimana anda bisa mengatakan itu, anda saja sudah pingsan sebelum melakukan itu, karena punya Anda tak bisa berdiri, bahkan setelah memakan obat kuat, dan bahkan anda saja tak sadarkan diri dan hampir mati karena overdosis, aku punya buktinya jika Anda tak percaya," kata Dian memutar rekaman video.


yang ternyata itu ulah dirinya dan Danang, semua orang terkejut, pasalnya Dian tak sepenuhnya melayani para pria hidung belang.


tuan Setyo tak percaya dengan apa yang dilihatnya, "bagaimana tuan, masih membantahnya lagi, Anda tak sekuat itu, anda itu lemah, dan pelabuhan seperti anda ini yang jadi incaran club star's,"


"dasar penipu kalian semua," marah tuan Adjie marah.

__ADS_1


"kami bukan penipu, tapi anda sendiri yang tak kuat, dan tak hanya anda, tapi semua teman anda, bahkan saya pernah mendapatkan curhatan dari teman-teman yang menemani kalian semua, jika kalian semua itu tidak memiliki semangat, dan lemah dalam hal itu, bahkan kalian sering melampiaskan dengan kekerasan untuk menutupinya bukan," kata Dian lagi.


tuan Tjandra tertawa, dia tak mengira jika istri dari temannya itu begitu tegas dan mampu membungkam para bandit tua yang biasanya hanya bisa bicara omong kosong.


"aku punya buktinya jika tak percaya, jadi jika ingin hidup kalian hancur mulailah berulah dan aku pastikan semua ain ini tersebar, jika para pengusaha senior ini hanya pria tanpa kemampuan memuaskan pasangan di ranjang," ejek Dian.


"cih, suamimu juga tak mungkin bisa melakukannya, dia lebih tua dari mu bukan," ejek tuan Adjie.


"hei Adjie kau keterlaluan, setelah kau tak bisa menghina istriku, kenapa kamu mengusikku, tapi ya asal kau tau jika aku memang tua, tapi aku hidup dengan sehat, dan aku selalu bisa membuat istriku puas, jadi jangan menghawatirkan kami," kata tuan Setyo yang memang berbeda dari pria seusianya.


"sudah sayang aku mau istirahat dulu, jika kalian masih butuh wanita, aku bisa memanggil mantan gadis yang selalu jadi langganan kalian dulu jika di perlukan, tapi tidak untuk mu sayang," tawar Dian yang mampu membungkam semua orang.


Dian pun mengecup bibir suaminya sebelum masuk kedalam rumah, dan meninggalkan pria-pria tua yang sekarang sudah malu.


tak lama Tyas datang bersama anak-anak, dan tuan Tjandra menyapa menantunya itu.


"bukankah dia itu, gadis yang di nikahi oleh putra mu yang putri dari pel*c*r itu," kata tuan Adjie yang masih belum puas mempermalukan keluarga Sanz dan Nugroho.


"memang kenapa, aku memang putri dari wanita itu, dan anda yang sering datang ke tempat buruk itu untuk mencari kepuasan jangan banyak bicara, sudah tua lemah mau cari daun muda, cih tak sadar umur, benerin dulu tuh burung mu, padahal semua gadis disana sudah di cobanya, untung tak kena penyakit raja singa, dasar pria tua mata keranjang," kesal Tyas yang melontarkan ucapan kasarnya.


tuan Tjandra pun kembali ingin tertawa, tapi di tahannya, hari ini pria itu sudah di Serang dua wanita yang memang tak bisa di usik sedikitpun.


terutama Tyas yang memiliki mulut tajam seperti tuan Setyo saat muda, bahkan Arthur saja sering kicep melawan istrinya itu.


"baik anak-anak ayo masuk, jangan mau ikut berkumpul dengan pria tua ini, jika tak ingin menjadi orang yang brengsek, dan kalian berdua jangan sampai aku kesal dan memarahi kalian karena memiliki teman busuk seperti itu," ancam Tyas.


"iya tyas, cerewet sekali, sudah ajak anak-anak masuk, tadi Dian juga baru datang," kata tuan Setyo mencium pipi Tyas.


"siap opa," jawab Tyas dengan senyum yang merekah.


"oh ya opa buyut, pria yang bicara buruk tadi pemilik perusahaan farmasi terbesar itu bukan, tolong bilang Padanya jika perusahaan itu terkena masalah, dan maaf Derrick mengacak-acak sistem dan sebentar lagi akan bangkrut," kata bocah kecil itu tersenyum tanpa rasa bersalah.


sedang Derrick hanya tertawa mengejek kearah mereka, "sepertinya tuan Adjie benar-benar tamat karena mencari masalah dengan dua keluarga ini," bisik salah seorang teman mereka.

__ADS_1


__ADS_2