
Raksa pagi ini terlihat begitu lesu, sedang Tyas juga terlihat begitu lelah, tapi berbeda dengan Arthur yang terlihat begitu biasa sambil senyam-senyum sendiri.
"papa habis ketiban duren, apa kesambet, karena pulang dari taman bermain kemarin," tanya Dewi yang ngeri melihat sang ayah.
"nggak kok, papa baik-baik saja," jawab Arthur dengan senyum mengembang.
"ya bos memang baik-baik saja, tapi tidak dengan dua orang itu," tunjuk asisten Danang.
Arthur pun melihat kearah Tyas dan Raksa, dia tau jika istrinya kelelahan, tapi Raksa.
"kenapa bung? kamu nampaknya begitu sedih?" tanya Arthur yang dengan santai sambil sarapan.
"ada yang penting harus aku katakan, tapi nanti saja setelah sarapan ya," jawab Raksa.
"baiklah," jawab Arthur singkat.
setelah sarapan bersama, Tyas memilih menemani anak-anak bermain, sedang Arthur dan raksa sudah masuk ke ruang kerja mereka.
tak lupa asisten Danang dan asisten Wisnu juga ikut kedalam sana, asisten Wisnu memberikan hasil penyelidikan.
sedang asisten Danang masih berkutat dengan beberapa pekerjaan yang memang harus selesai.
"ada apa Raksa? apa kamu membutuhkan bantuan atau-?" tanya Arthur penasaran.
"ya, aku butuh bantuan, dan ini sangat penting Arthur, kamu tau aku mencintai seseorang, dan dia sekarang sudah sangat berubah, dan dia adalah sahabat tyas-" suara raksa tercekat.
"dia adalah seorang primadona di club star's, dan dia selalu punya syarat, siapapun yang ingin berkencan dengannya, harus memakai pengaman, dia tak bisa di booking lebih dari tiga jam, dia adalah Rose, itu nama tenarnya," kata asisten Danang menyahut.
__ADS_1
"apa kau juga sering memakai jasanya!" teriak Raksa marah
"cih ... kau lupa jika club itu milik siapa, dan aku tak suka wanita asal kau tau," jawab Danang.
Arthur dan asisten Wisnu tertawa, mereka tak mengira jika asisten Danang berani jujur seperti ini.
"sudah,memang apa yang salah, itu sudah di jelaskan oleh asisten Danang," kata Arthur yang masih belum tau maksud Raksa.
"aku mau tau kenapa bisa dia berakhir di club milik pria sinting ini," kata Raksa marah.
"tuan jaga bicaramu, meski aku gila atau bejat, setidaknya aku masih bisa memilah mana yang benar, asal kau tau dia itu hampir dijual ke luar negeri, dan beruntung pacarku menyelamatkannya, dan asal kau tau jika bukan karenanya,mungkin sekarang dia sudah jadi wanita malam yang di pinggir jalan, dan selalu ingat ini juga terjadi karena dia ... ah sudahlah," kata asisten Danang kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Raksa terdiam, dia bingung saat ini, sebenarnya apa yang tejadi, terlebih saat bertemu dengan Dian. gadis itu memilih kabur.
Arthur kaget saat melihat bukti yang menunjukkan bahwa raksa terlibat dalam kecelakaannya lima tahun lalu.
"mau tanya apa? dan kenapa wajah mu tegang gitu?" tanya raksa kebingungan.
"rencana yang kamu buat begitu sempurna, dan denhan begitu rapi, apa Tyas mengetahuinya?"
Raksa diam, dia tak mengerti apapun yang di ucapkan oleh Arthur, "apa maksud mu?"
Arthur yang marah langsung keluar dari ruang kerjanya dan menemui Tyas yang sedang bermain dengan anak-anak.
Tyas kaget saat Arthur menariknya hingga berdiri dan mencengkram lengannya kuat.
"ada apa mas? sakit ...." tanya Tyas ketakutan.
__ADS_1
"kenapa kamu lima tahun lalu meninggalkan diriku, saat tau aku kecelakaan, dan itu pun karena aku mencari mu, aku tau aku salah karena terhasut, tapi apa ini sikap mu jadi seorang istri," tanya Arthur.
"bukan seperti itu, aku bisa jelaskan, aku baru tau saat aku baru melahirkan, itupun karena kak Rama keceplosan mengatakan jika kamu kecelakaan dan lupa ingatan, dan aku langsung menghubungi Dewi dan asisten mu," jawab Tyas.
"dan selama itu, kamu tak mencari tau siapa yang membuatku seperti itu?" tanya Arthur marah.
"aku tau itu rencana kak raksa dan keluarga ku," jawab Tyas yakin.
"tapi Raksa kenapa kamu tega ingin membunuh ku, dan merencanakan semuanya bersama pria ini!!" bentak Arthur melempar semua berkas yang di pegangnya.
berkas itu berhamburan di lantai, terlihat ada beberapa foto di sana, dan juga asisten Wisnu memutar sebuah rekaman telpon.
"kapan kalian pergi, aku akan menyusul dan menemaninya, bahkan aku akan jadi suami siaganya jika perlu," suara itu mengejutkan Tyas.
"tapi itu tak akan terjadi jika Arthur masih menjadi suami Tyas," jawab raksa.
"kalau begitu aku akan membuat pria itu berakhir," jawab suara itu lagi.
"terserah, asal aku ingin melihat adikku bahagia," jawab raksa di akhir percakapan.
Tyas melihat satu foto, ternyata itu adalah raksa dan pria yang di maksud oleh Arthur.
"kalian tega ingin membunuh suamiku,kamu tau aku bahkan sempat stres karena jauh darinya, dan harus setiap seminggu dua kali mengunjungi psikolog, kamu yang merencanakan ini kak,jawab!!!" marah Tyas.
"bukan seperti itu, aku hanya bercanda, dan tak mengira dia akan mencelakakan Arthur," jawab Raksa.
"aku kecewa padamu, padahal kamu tau aku harus melawan semua depresi ku setelah melahirkan dan jauh dari ya, tapi kamu yang memisahkan aku ..." tangis Tyas.
__ADS_1
asisten Danang sudah meminta pelayan membawa para anak-anak untuk masuk tadi, setidaknya mereka tak akan tau tentang pertengkaran antar keluarga ini.