Lovely Sugar Daddy

Lovely Sugar Daddy
masih belum puas.


__ADS_3

setelah selesai makan, mereka pun menuju ke area kebun binatang yang juga terhubung dengan taman bermain itu.


"papa itu apa? kenapa ekornya seperti kipas?" tanya Derry melihat burung merak.


"itu burung merak jantan, dia memekarkan ekornya untuk menarik merak betina, atau saat dia merasa terancam," terang Arthur.


"aku baru tau itu," gumam Dewi.


Tyas merangkul putrinya itu, seharusnya dia tak meninggalkan putrinya itu.


terlebih Dewi masih begitu membutuhkan sosoknya dulu, "maafkan mama ya kak ..."


"loh, mana kenapa menangis, kakak baik-baik saja kok," jawab Dewi memeluk Tyas.


sedang Arthur tak mengira jika dua wanita ini begitu melow, tapi Arthur sedang meminta beberapa detektif swasta untuk menyelidiki tentang kecelakaannya yang membuatnya hilang ingatan.


karena dia ingin menuntut balas pada orang yang mencelakainya hingga dia melukai istri dan anak-anaknya.


"sekarang kita beri makan singa yuk, atau mau foto bareng burung dulu?" tawar Arthur pada putra-putranya.


"mau kasih makan singa dan foto bersama mereka," kata Derrick.


"boleh, ayo kita kesana," kata Arthur mengandeng tangan anak-anaknya.


sedang Tyas dan Dewi mengikuti dari belakang, tapi netra memilih untuk foto di area burung.

__ADS_1


keduanya pun nampak begitu bahagia, bahkan mereka mencetak foto itu di kaos.


begitupun dengan Arthur, Derry dan Derrick yang melakukan hal yang sama.


"bagaimana masih mau jalan atau kita ke tempat penjualan sovenir?" tanya Tyas.


"kita belum foto satu keluarga ma, di sini ada penyewaan pakaian yang bisa di gunakan untuk foto bersama," usul Dewi.


"ya kakak benar, ayo kita ke tempat penyewaan," ajak Tyas.


sesampainya di tempat penyewaan itu, mereka memilih dua tema, pertama adalah kerajaan Korea, dan yang kedua adalah baju adat Madura.


dan yang paling mengemaskan adalah kedua bocah itu yang memakai baju belang merah putih itu.


bahkan Arthur terlihat makin seperti orang lokal juga, mereka pun foto duduk berbaris, Dewi di apit oleh kedua adiknya.


dia pun mengirimkan foto itu lewat pesan pada asisten Danang dan memintanya untuk mencetak secara besar.


dia juga meminta asistennya itu untuk memasang foto itu di ruang tamu, sedang asisten Wisnu bertemu dengan detektif yang di minta Arthur menyelidiki Semuanya.


"bagaimana penyelidikan mu?" tanya asisten Wisnu.


"gawat tuan, pria itu bukan pria biasa, aku tak menyangka apa yang membuat tuan Arthur hingga berurusan dengan pria buruk ini?" lirih detektif itu.


"memang kenapa?" tanya asisten Wisnu melihat berkas yang di laporkan.

__ADS_1


dia terkejut melihat hal itu, pasalnya selama lima tahun ini dia yang juga mendampingi tyas di luar negri.


tapi sayangnya Tyas hanya menganggapnya tak lebih dari saudara.


"pria bajingan ini, ternyata dia yang merencanakan semuanya, dan dia yang melukai tuan, maka dia harus mendapatkan balasan," marah asisten Wisnu.


"tapi tidak semudah itu Wisnu, tentu kamu butuh seseorang untuk membantumu," kata detektif itu.


"tentu,aku tau siapa yang tepat untuk itu," gumam asisten Wisnu menyeringai.


Arthur dan keluarganya sedang membeli beberapa oleh-oleh untuk semua orang di rumah.


setelah lelah dan puas, mereka pun menuju ke kota Surabaya lagi, tapi mereka berhenti beberapa kali untuk istirahat atau mengisi BBM.


mereka sampai sudah malam hari di Surabaya, Derry di gendong oleh Arthur Tyas mengendong Derrick dan Dewi di gendong asisten Danang.


akhirnya pak Yun mengeluarkan semua oleh-oleh dan membagikan pada semua pelayan.


Tyas sudah mandi dan dia memilih memasak pasta karena tiba-tiba dia merasa lapar.


terlebih dia takut jika nantinya Arthur akan memakannya, bisa pingsan karena tak punya tenaga melawan.


"aku juga mau sayang, emm ... aromanya harum dan rasanya manis," bisik arthur mencium leher jenjang istrinya itu.


"hentikan, kamu tak tau lelah apa pa, aku saja merasa kakiku rasanya mau lepas karena kelamaan berjalan tadi," kata Tyas tersenyum.

__ADS_1


"biar aku pijat kalau begitu, plus plus deh," tawar Arthur.


"tidak terima kasih,aku mau makan saja dulu," kesal Tyas mendorong Arthur pelan.


__ADS_2