
sore ini Tyas baru pulang, setelah pelayan Mila memberikan kabar jika Dewi pulang telat.
sebagai ibu yang baik, Tyas menyiapkan semua kebutuhan Dewi, mulai dari minuman kesukaannya hingga cemilan.
Tyas sudah mandi juga terlebih dia merasa tubuhnya sedikit tak enak, Tyas pun turun saat mendengar suara mobil.
tapi tak terduga, bukan Dewi dan pelayan Mila tapi seorang wanita yang sudah cukup dewasa dan juga mama Farida.
pak Yun langsung berdiri di samping Tyas untuk melindungi nyonya barunya, dan pengasuh Ani berlari menghampiri kedua wanita yang baru datang itu.
sekarang Tyas mengerti jika pengasuh Ani adalah orang yang sengaja di kirim untuk menjauhkan dirinya dan Dewi.
"wah sepertinya ada tamu besar, maaf mama bukankah Daddy tak mengizinkan mu datang ke sini," kata Tyas dengan suara menahan kesal.
"siapa kamu, mama Farida itu orang yang membesarkan bang Arthur, dan aku yakin jika dia itu bersikap buruk karena pengaruh darimu," marah Cecil.
"nona, sebagai orang asing, seharusnya anda memperkenalkan diri dulu, bukan langsung berkata seperti itu di rumah orang lain," kata Tyas tak gentar sedikitpun.
"apa suamimu tak pernah cerita tentang aku, ah bang Arthur pasti menyembunyikan semua darimu, dengar ini, aku ada Cecilia Chau, wanita yang bisa di bilang belahan jiwa dari Arthur, dan kamu itu hanya debu dikakinya," hina Cecil.
"cukup nona Cecil, tolong hormati nyonya rumah ini, bagaimana pun nyonya adalah istri dari tuan Arthur, dan nyonya hanya orang asing yang di anggap saudara, dari sudut mana pun nyonya yang lebih berhak," kata pak Yun membela Tyas.
"hei pelayan, ingat derajat mu, kau itu hanya pria tua yang di pekerjakan si sini,dan kenapa kalian menyiksa pengasuh Ani, dia itu yang mengurus Dewi selama ini," marah mama Farida.
"aku hanya tak suka putriku terpengaruh oleh pengasuh jahat itu, dan aku tau jika tak mudah menyingkirkan wanita itu, dan sepertinya Hari ini aku sudah bisa membuang dirinya," kata Tyas memberikan kode pada pak Yun.
"selamat pengasuh Ani, usia mu tinggal hitungan detik lagi, karena asisten Danang sudah menyuntikkan racun yang tak akan bisa di ketahui dan di rasakan, jadi selamat menikmati waktu terakhir mu," kata pak Yun dingin.
"dalam lima, empat, tiga ... dua .... bye pengasuh Ani," kata Tyas melambaikan tangannya.
dan tiba-tiba pengasuh Ani langsung mati di tempat, mama Farida terkejut pasalnya wanita itu langsung mati begitu saja.
__ADS_1
begitupun Cecil, "jika tak ingin bernasib seperti itu, lebih baik pergi atau aku juga harus memberikan kalian berdua kehormatan untuk mengikuti jejak pengasuh Ani," kata Tyas tersenyum jahat.
"kau pembunuh," teriak Cecil.
"setidaknya aku bukan model yang mengumbar tubuh untuk mendapatkan ketenaran dan juga uang," saut Tyas yang menebak sosok Cecil dari gaya pakaian yang minim iyuy.
Cecil akan pergi, saat Arthur dan Dewi kebetulan pulang bersamaan, Cecil yang melihat Arthur pun langsung berlari dan mendorong Dewi menyingkir dari samping Arthur.
"wanita gila!!!" teriak Tyas melihat Dewi terdorong hingga jatuh.
asisten Danang beruntung menangkap Dewi hingga tak sampai terbentur pot tanaman besar di depan rumah.
"Abang aku kangen, kamu berbohong katanya ingin tinggal di US, tapi malah menetap disini, dan kau bilang dulu ingin menikahiku, tapi ini kamu malah menikah dengan wanita lain, untuk mama memberitahu Semuanya," kata Cecil memeluk tubuh Arthur yang memeluk dirinya juga.
melihat itu Tyas sebenarnya marah, tapi dia tak mungkin menunjukkan di depan dua wanita setan itu.
"Dewi baik-baik sayang, sekarang ayo masuk dan mami sudah menyiapkan segalanya untuk Dewi, asisten Danang bisa tolong ajak Dewi masuk, karena aku tak bisa, dan asisten Wisnu bisa aku minta tolong sesuatu," kata Tyas pada asisten suaminya itu.
"baik nyonya," jawab asisten Danang yang langsung membawa Dewi masuk.
"ah sepertinya kaki ku kram, ah ini sangat sakit," kata Tyas mencoba memijat betis miliknya.
asisten Wisnu pun berjongkok di depan kaki Tyas dan mulai menyentuh betis wanita itu.
"ah ... itu sakit ..." kata Tyas dengan suara lirih sambil berpegangan pada pundak asisten Wisnu.
melihat hal itu Arthur mendorong Cecil dan langsung mendorong asistennya itu hingga jatuh terduduk.
"kamu sudah pintar menggoda pria," marah Arthur.
"tidak kakiku kram, ah lagi pula suamiku sibuk dengan wanita tua yang memeluknya," jawab Tyas yang berjalan menjauh sambil menahan sakit dan tertatih.
__ADS_1
"aku bantu," jawab Arthur yang ingin mengendong Tyas.
"menjauh dariku, aku tak suka mencium aroma ****** di tubuhmu, telebih kau tak menolak tubuh mu di peluk wanita itu," jawab Tyas yang di bantu pelayan Mila.
asisten Wisnu pun bangkit dan pergi meninggalkan Arthur yang terdiam mendengar ucapan Tyas.
"bang kamu kenapa hanya diam, dia hanya istri yang kamu pungut dari pinggir jalan," marah Cecil.
"sudah pergi dari sini, aku tak ingin melihat mu, dan kamu Farida, sudah ku katakan jangan berani menginjak kembali rumah ku ini, kalian bertiga pergi!" bentak Arthur.
"tapi bang, kamu sudah melupakan aku?" kata Cecil mulai memainkan dramanya.
"bukan begitu Cecil, kamu lihat istriku marah, sudah kamu pergi dulu biar aku tenangkan diri ya dulu, baru kita bertemu lagi dengan istriku dan Dewi juga, dan lain kali jika kamu masih berbuat kasar pada Dewi, aku tak segan mematahkan tangan mu ya," kata Arthur sedikit mencengkram dagu Cecil meski senyum terukir di bibir pria itu.
Cecil pun di tarik pergi oleh mama Farida, Tyas sedang bersama Dewi yang baru selesai mandi dan sedang belajar.
"boleh aku masuk," tanya Arthur.
"pergi bersihkan dirimu, aku sudah katakan aku tak suka mencium aroma wanita lain di tubuhmu," ketus Tyas tanpa mau menoleh pada Arthur
Arthur pun menurut dan tak bisa membantah, terlebih dia salah karena memeluk wanita lain di depan istrinya.
tapi tindakan tyas juga salah meminta asisten Wisnu memijat kakinya, padahal ada pelayan Mila atau pak Yun disana.
"seharusnya aku juga marah, dia tadi di sentuh Wisnu, di depan ku," gumam Arthur.
sedang Tyas terus menemani Dewi bermain maupun makan malam, Tyas mendiamkan Arthur.
sedang Arthur yang merasa di kucilkan oleh istri dan putrinya sudah tak tau lagi.
Karena baru kali ini dia merasa begitu buruk karena di diamkan oleh Tyas dan Dewi.
__ADS_1
bahkan Keduanya seakan tak melihat Arthur, setelah makan malam Tyas dan Dewi duduk di bawah pohon wisteria sambil bermain ayunan.
dewi bahkan terus tertawa bersama Tyas, Arthur hanya bisa melihatnya dari balkon kamarnya.